Biarin aja lah

Saya sedang makan malam bareng beberapa teman asing di sebuah resto di Makassar ketika saya dengar seorang tersangka korupsi kelas wahid menang pra-peradilan di Jakarta. Saya cek twitter dan…yup…it’s there. Sontak semua keriaan saya di makan malam itu langsung menguap. Rupanya perubahan air muka saya terbaca jelas oleh teman-teman, entah bagaimana. “Everything OK, D?”
Continue reading

Generasi yang Relevan

The road to the light is lonely.
Beberapa tahun belakangan ini setiap kali silaturahmi acara keluarga macam lebaran, saya menyadari betapa konyolnya saya karena masih sering terkaget-kaget mendapati para pakde, bude, om, dan tante seakan terlihat menua dengan drastis setiap kali bertemu.
“Ya eloooo munculnya sekali tiap beberapa purnama. Jelas aja pada keliatan makin tua!”
Begitu saya disemprot adik si Mami yang hampir seumur saya. Bisa jadi begitu karena saya memang termasuk yang jarang kumpul dengan berbagai alasan males. Kesalahan saya -saya pikir- adalah tanpa sengaja saya menghentikan waktu di saat saya berumur dua puluhan tahun sehingga yang saya ingat adalah wajah, tingkah laku, kebiasaan, sampai cara pandang para kerabat yang lebih tua di jaman saya baru lulus kuliah itu. I just froze them in that moment.
Continue reading

If Only We Know What We Want

I watched ‘A Little Chaos’ quite unpurposely. I was in my hotel room and couldn’t sleep even after a long day working out of town. I started to flipped on the TV channels and found Kate Winslet’s face on the screen. I’ve never heard about the movie before and I found out later the why 😛 . It was the kind of movie that entertains you without you need to think hard. It’s not the kind of movie that haunts you -because of how good it is- after you finish watching it. It’s an easy movie with nice cinematic view of castles and fashion in 17th century French. The reason the movie sticks in my head apart from Kate Winslet’s performance is one quote that resonates well with me.

The movie was about Andre Le Notre, who designed the Champs-Élysées in Paris. In this movie, Andre, who is assigned by King Louis XIV to design the gardens of Versailles hires Sabine, a talented landscape designer. Sabine, who comes from low class, has to face class barrier and eventually falls in love with Andre. Told ya, it is a very simple and easy movie 😀 .

It is in this one scene when Andre is concerned with the King’s request for the garden. The request is unrealistic yet Andre has to make it happen. When Andre appears very disturbed with it, Andre’s staff said to him…

No man, however grand, knows what he wants ’til you give it to him.

…..and I was like…. 🙄 .
Is he talking about me?

No, not the grand one. It’s the ‘knows what he wants til somebody gives it to him‘ thing.

This past one year I’ve been struggling to see clearly what I really want with my life. Is it career? Is it more family time? Is it writing full time? Is it continuing my study? Is it more volunteering time? Is it being a full time mom? Is it not all of them? Honestly, I don’t quite know. It’s like I want everything fully. I want to dedicate my time for everything and everything in full capacity.

Although I’m a superwoman with a bright red robe on my back, I know that even that woman only has 24 hours a day reduced by 4-5 hours everyday for commuting, 5-6 hours for sleeping, 1-2 hours for long shower, and God only knows how many hours I spend for making sure the house is intact, the kids are happy, the work is done well, and my small unimpressive garden stays green. Sadly, my usual 24-hour has made me lose perspective of what I really want.

I have been so restless for a year or more and the movie makes me wonder if I need someone to map things out for me. Sometimes, for fun, I think of reading Tarot, or flipping a coin, or going to a fortune teller…besides, that’s exactly what the quote means.

Or, perhaps, perhaps, this feeling of being restless is because I don’t write as much as I want to? For all I know, writing keeps me in perspective, yet it is the thing that I neglect most.

End of year 2016. Hope in the 2017 my troubled mind is less troubled. And I hope I’ll write again for real.

Bring It On said Carrie Fisher

Carrie Fisher meninggal dunia ketika film Star Wars Rouge One sedang hangat diputar saat ini. Kemungkinan orang-orang di Indonesia mengenal dia hanya sebagai Princess Leia yang legendaris di film-film Star Wars. Kemungkinan besar juga orang-orang di Indonesia tidak pernah tahu bila dia juga dikenang di dunia sebagai Mental Health Advocate karena keberaniannya berbicara terbuka tentang kondisi dirinya yang mengalami bipolar disorder. Kemungkinan yang lebih besar lagi orang-orang di Indonesia juga tidak akan tahu apa itu bipolar disorder bila mereka tidak mengikuti drama Marshanda 😀 .
Kemarin itu saya sedang latihan jari di twitter ketika twit seorang teman membuat saya berhenti dan membaca dengan khidmat.

Saya merespon twit teman itu dengan…

…karena di mari, mental health dianggap hanya drama si penderita yg bisa diobati dng banyak doa dan banyak bersyukur.

Membaca twit itu membuat saya terlempar ke masa-masa ketika crying for help ke orang lain karena menderita depresi dianggap upaya mencari perhatian. Masa-masa ketika berbicara terbuka mengenai penyakit mental akan menyebabkan pupil mata lawan bicara akan mengecil seakan-akan beberapa detik kemudian saya akan lompat ke atas meja lalu menari di sana.

Saya pernah menulis tentang depresi yang saya alami akibat Post Partum Depression di sini. Saya menulis respon orang-orang bila diceritakan tentang depresi saya.

Kenapa situ tidak terapi? Apa mungkin situ kurang sholeh berdoa? Atau mungkin situ terlalu dramatis, semua-mua dipikirin? Dunia akan sangat damai apabila semua masalah manusia bisa selesai dengan pergi terapi dan berdoa sepanjang malam.

Di negara ini -karena saya tidak pernah mencarinya di negara lain- mencari seraut wajah penuh empati yang mendengarkan cerita kelelahan kita karena didera depresi, atau bipolar, atau sakit mental, sama susahnya dengan mencari pendengar yang tidak punya ambisi untuk menceramahi atau sama susahnya seperti mencari dada bidang untuk bersandar. Mungkin masyarakat ini memang belum teredukasi tentang mental illness atau penyakit mental. Mungkin juga masyarakat ini memang selalu dalam kondisi penyangkalan. Karena itu, berbicara tentang diri sendiri yang mengalami kemunduran kesehatan mental hanya akan berarti bunuh diri, baik secara hubungan sosial maupun dalam arti sebenarnya. Tapi, mau sampai kapan kita begini? Mau sampai kapan orang-orang baik di luar sana yang menderita depresi, bipolar, sakit mental lainnya akan dibiarkan tanpa pertolongan?

Mengenang Carrie Fisher buat saya mengenang arti keberanian. Keberanian mengakui kondisi diri sendiri. Keberanian mengakui diri ini butuh pertolongan. Keberanian membuka kondisi dirinya kepada orang lain. Keberanian melawan stigma yang ditempelkan orang lain. Keberanian membawa pesan penderita lain dalam perjuangannya. Dan terutama, keberanian menatap penyakit ini sambil berkata, “Bring it on!”

Masyarakat ini perlu seorang Carrie Fisher.

A gift from a good friend to remind me that everything will be OK if I decide so. #giftforlifetime

A photo posted by dmariskova (@dmariskova) on

Youth is Wasted on the Young

Malam minggu ini kami habiskan dengan makan malam sampah-tapi-enak di salah satu gerai siap saji dekat rumah. Si Papap yang baru pulang dari Surabaya tidak berdaya dirayu Hikari dan -terutama- Aiko untuk jajan di resto ayam Pak Kolonel. Padahal aslinya si Papap paling males makan menu selain nasi putih ngepul, ikan goreng, lalapan, sambal terasi. Tapi semua rasa malas itu luluh dengan manjanya rayuan Aiko dan naggingnya Hikari yang mirip kaset rusak.
Continue reading

All is well. At least they will be eventually.

Been trying to keep my head above the water of mood swing. Out of the blue, I received a picture of a friend who is under chemotherapy regime for breast cancer. She is all with wide grin on her face. She is the road lamp novotelone who made the time to buy me a book about OCD (which I haven’t finished reading) when traveling abroad. She suffers from OCD and bipolar for years. Her picture as if tells me everything will be ok. I will be ok, eventually. I will just have to keep remembering that.

Saatnya Menangis Di Bawah Hujan

Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini. Kira-kira sejak 3 tahun lalu. Tulisan ini menjadi semacam hutang saya terhadap beberapa teman dan juga kepada diri saya sendiri. Hutang untuk mungkin bisa membantu orang lain yang berada di perjalanan yang sama seperti saya. Ohya. Tulisan ini akan jadi panjang dan mungkin bersambung. You have been warned 🙂

Hampir tiga belas tahun yang lalu setelah saya melahirkan Hikari melalui proses panjang, menyakitkan, melelahkan, dan traumatis, saya sempat mengalami kondisi di mana saya menangis sama seringnya dengan Hikari menangis dan saya tidur sama jarangnya dengan Hikari tidur. Badan saya lemah karena proses kelahiran yang berat (and don’t dare get back to me saying all delivery is hard). And Hikari was not an easy baby. Ditambah sifat saya yang maunya serba perfect, serba rapi, serba sesuai aturan membuat kondisi tidak menjadi mudah. Di bulan-bulan pertama kelahirannya, Hikari terus terbangun di jam-jam luar biasa, jam 2, jam 3. Menangis tidak berhenti sampai dua jam kemudian. Kalau pun dia bisa tertidur karena dia ada di gendongan saya. Maka bermalam-malam, saya tidur duduk sambil menggendong dia dengan jarik. Saat-saat tengah malam itu, saat-saat saya melihat orang lain bisa tidur sementara saya harus menggendong Hikari, saya akan menangis tidak berhenti. I thought I was in my lowest point. Nine years later I found out it could be lower than lowest. Dengan Hikari, saya menjadi over protective sekaligus menjadi over sensitive. Dan saat itu saya tidak punya support system yang baik. Hanya ada saya dan Papap sebagai ortu baru, dan orang tua yang tidak berhenti bingung. Yang bisa membuat saya bangkit lagi karena dukungan si Papap yang tidak pernah berhenti. Orang-orang yang mendengar cerita saya bilang saya terkena baby blues. Tapi pada suatu kali di sebuah forum, seorang dokter kandungan laki-laki berkata baby blues hanyalah mitos. That is very comforting coming from someone who never gives birth 😀
Continue reading

Why They Want to Be Elsa

IMG_5132.JPG
If you have young girls at home, or a niece, or a neighbor with young daughters, or even an office colleague who has a little girl, you will definitely know who Elsa is. If you don’t, you are one of few lucky people in the world. Seriously.

Sejak film Frozen yang melejitkan Queen Elsa of Arendelle diluncurkan, hampir seluruh anak-anak perempuan di dunia sontak demam Elsa: lagunya, bajunya, mahkotanya, sepatunya, sampai cara dia mengikat rambut. Dan lagunya itu loh…ya ampuuuuun tobat bisa merajai music player di rumah, di mobil, di hape, bahkan di kamar mandi. Diulang ulang ulang ulang ulang… Elsa the Queen of Arendelle has conquered the very heart of young girls in the world. Padahal, di film Frozen itu, pahlawannya justru bukan Elsa.
Continue reading