Singkat cerita, jauuuuh setelah film selesai, kira-kira 4 jam kemudian, Papap menggumam-gumam. Katanya, “Si Mark akhirnya mau disuruh bayar orang-orang yang nuntut dia. Kok mau ya? Kan dia yang nemuin, dia juga yang membangun si Facebook itu… bla bla…”
Atas protes si Papap saya cuma komentar, “there’s no such thing as original idea nowadays.”
There is no such thing as ‘originality’
Tiga, Empat, Lima Bulan Ini
Lalu ada kecurigaan lain yang sudah berumur dua tahunan. Ketika Rezah pergi, saya tidak mendapatkan jawaban apa yang terjadi. Penyakit apa yang membuatnya hilang. Setelah dokter-dokter yang lain, saya berkunjung ke dokter kebidanan. Seminggu kemudian, rasa penasaran saya terjawab. Saya menderita toksoplasma, Rubella, CMV. Tambahkan tiga hal itu dengan tipus dan DBD.
Pesta Blogger 2010
Tahun ini tahun keempat saya datang ke Pesta Blogger. Kebetulan, eh, sengaja saya selalu menyempatkan datang ke acara ini. Walaupun Jengjeng yang satu ini bilang bahwa kami sudah terlalu tua untuk ikutan acara beginian, saya teguh kukuh berlapis baja. Ada banyak alasan yang membuat saya memaksakan (ya, maksa karena biasanya saya jenis manusia malas keluar rumah) diri untuk datang. Salah banyak dari alasan itu adalah…
1. Mau bikin si Nenek nangis dengan ambil name tag dan mencoret-coret nama dia disitu.
2. Mau pose-pose bareng si Mbah satu ini.
3. Mau lihat si ini yang nama blognya itu tuh tampangnya seperti apa?
4. Mau ikut-ikutan berasa muda lagi… *hush!*
Yah. Itu tuh alasan saya. Gak ada yang penting ya? hehehe…
Alasan utama saya ingin selalu datang adalah untuk menjaga kewarasan mental saya. Loh kok? Iya. Lah tag line blog saya saja I blog for my sanity.
Setelah 5 hari 8 jam sehari saya dibombardir dengan -seringkali- ketidak warasan di kantor, saya merasa butuh untuk me-recharge baterai positif di diri saya. Bila blog adalah medianya, maka Pesta Blogger adalah klimaksnya. Kalau anda pikir saya butuh PB itu untuk bergaul, anda salah besar. Setiap kali saya datang ke acara Pesta Blogger itu (di pesta pertama saya datang sendiri), kerjaan saya cuma duduk di bangku paling belakang. Boro-boro bergaul. Kan saya ini pemalu… Tapi herannya, acara berdurasi 8 jam-an ini bisa membuat keseimbangan mental saya tetap seimbang.
Lalu apa bedanya pb2010 ini dengan pesta-pesta berikutnya? Hmmm… apa ya? Saya gak bisa banyak komentar soalnya saya datang detik-detik menjelang makan siang hehehe…
Tapi kalau boleh saya nulis catatan sedikit, saya mau bilang…
1. Saya paling suka tempat Pesta Blogger kedua, terutama untuk acara awalnya, karena bisa membuat semua hadirin fokus pada acara.
2. Saya paling suka logo Batik PB ketiga dan tas hadiah segede gajahnya.
3. Saya paling terharu di pb2009 alias PB ketiga. Ya iya lah, wong saya dapet hadiah! hehehe…
4. Saya nyatet kok sudah 2 pesta diselenggarakan di gedung belum jadi ya? Ini di pesta ketiga dan keempat sekarang. Acara mini session-nya jadi gak nikmat karena berada di ruangan belum jadi.
5. Saya lihat pb2010 paling banyak meja bazaarnya ;p
6. Saya juga mbantin pb2010 paling banyak keterlibatan komunitas blogger lain. Komunitas blogfam tempat saya lahir juga nongol. Malah saya sempat ketemu Maknyak segala. Sayangnya komunitas saya sendiri gagal, eh, belum bisa narsis di pesta ini.
7. Saya paling norak di pesta pertama
Nasib Selebriti
Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.
Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”
Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…
Enak?
Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.
Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.
Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…
Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!
Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”
Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!
Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.
Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….
Just sit there and watch
My junior high school friend -whom I not-so secretly admired- told me once how he liked to observe me when I was in my own world. We were in the Osis together and we spent many meetings together.
Yang penting niatnya atau hasilnya?
Lampu merah di perempatan Kranggan-Cibubur di dekat Plaza Cibubur belum lagi setahun dipasang. Hari ini saya diundang teman untuk ikut gerakan Dukung penon-aktifan Traffic Light Plaza Cibubur di FB. Ya jelas, langsung saya approve. Saya ngaku sebagai salah satu pengguna jalan Alternatif Cibubur yang menderita lahir batin akibat macet panjang yang disebabkan oleh lampu merah itu. Saya juga ngaku sebagai salah satu yang sering ngomel panjang terhadap orang pintar yang punya ide memasang lampu merah itu disitu dengan pengaturan seperti itu!
Birthday’s Contemplation
Every year, on March 8, on my birthday, I always have this question lingering in my head.
No, it’s not what I would get from my birthday.
Well, okay. That is too.
But, on a less serious side, my question to myself: How am I different this year, except for the number in my age?







Recent Comments