To Tokyo To Love

Impian, bagi Nina, adalah membangun kehidupan sempurna: membesarkan anak-anak, mengurus keluarga, melayani suami. Namun mimpi itu sirna sesaat sebelum pernikahan dengan datangnya kabar buruk.

Dengan hancur Nina pergi ke Tokyo dan berusaha menata serpihan hatinya. Hari-harinya diisi persahabatan dunia maya dengan Takung, lelaki yang tak pernah ditemuinya. Ada pula seorang lelaki misterius bersetelan jas hitam yang ia temui setiap hari di kereta.

Namun, saat Nina kembali mampu berjalan tegak, masa lalu menghadangnya. Kini ia harus memilih antara membangun kembali impian masa lalu atau merajut masa depan dengan segala ketidaksempurnaannya.

Diterbitkan pertama kali tahun 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan dengan cover baru di tahun 2016

Pemesanan novel:
Gramedia
Amazon

Kartu di Mejanya ‘Cek Toko Sebelah’

Membaca judul posting ini, bagi yang sudah nonton Cek Toko Sebelah pasti langsung mikir saya ngomongin Geng Capsa yang fenomenal di film Cek Toko Sebelah. Hehe… Bukan. Saya sedang ngomongin perasaan saya yang baper setelah nonton film CTS ini.

Awalnya saya dan Papap agak ragu mau nonton film CTS ini karena kami pernah trauma nonton film komedi dari sutradara Indonesia lain yang beritanya heboh sejagat maya. Kami pikir film ini sama dengan komedi itu yang rupanya menyasar para abege, bukan orang dewasa seperti kami. Saya pikir sih yang salah kami karena tidak bisa tertawa bareng abege yang memenuhi bioskop πŸ˜€ . Naaah, kami pikir CTS ini sama. Komedi = abege = suram nasib kami. Tapi, akhirnya kami memberanikan diri untuk nonton karena……ada Kaesang Pangarep di filmnya πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ . Cetek banget.
Continue reading

If Only We Know What We Want

I watched ‘A Little Chaos’ quite unpurposely. I was in my hotel room and couldn’t sleep even after a long day working out of town. I started to flipped on the TV channels and found Kate Winslet’s face on the screen. I’ve never heard about the movie before and I found out later the why πŸ˜› . It was the kind of movie that entertains you without you need to think hard. It’s not the kind of movie that haunts you -because of how good it is- after you finish watching it. It’s an easy movie with nice cinematic view of castles and fashion in 17th century French. The reason the movie sticks in my head apart from Kate Winslet’s performance is one quote that resonates well with me.

The movie was about Andre Le Notre, who designed the Champs-Γ‰lysΓ©es in Paris. In this movie, Andre, who is assigned by King Louis XIV to design the gardens of Versailles hires Sabine, a talented landscape designer. Sabine, who comes from low class, has to face class barrier and eventually falls in love with Andre. Told ya, it is a very simple and easy movie πŸ˜€ .

It is in this one scene when Andre is concerned with the King’s request for the garden. The request is unrealistic yet Andre has to make it happen. When Andre appears very disturbed with it, Andre’s staff said to him…

No man, however grand, knows what he wants ’til you give it to him.

…..and I was like…. πŸ™„ .
Is he talking about me?

No, not the grand one. It’s the ‘knows what he wants til somebody gives it to him‘ thing.

This past one year I’ve been struggling to see clearly what I really want with my life. Is it career? Is it more family time? Is it writing full time? Is it continuing my study? Is it more volunteering time? Is it being a full time mom? Is it not all of them? Honestly, I don’t quite know. It’s like I want everything fully. I want to dedicate my time for everything and everything in full capacity.

Although I’m a superwoman with a bright red robe on my back, I know that even that woman only has 24 hours a day reduced by 4-5 hours everyday for commuting, 5-6 hours for sleeping, 1-2 hours for long shower, and God only knows how many hours I spend for making sure the house is intact, the kids are happy, the work is done well, and my small unimpressive garden stays green. Sadly, my usual 24-hour has made me lose perspective of what I really want.

I have been so restless for a year or more and the movie makes me wonder if I need someone to map things out for me. Sometimes, for fun, I think of reading Tarot, or flipping a coin, or going to a fortune teller…besides, that’s exactly what the quote means.

Or, perhaps, perhaps, this feeling of being restless is because I don’t write as much as I want to? For all I know, writing keeps me in perspective, yet it is the thing that I neglect most.

End of year 2016. Hope in the 2017 my troubled mind is less troubled. And I hope I’ll write again for real.

Bring It On said Carrie Fisher

Carrie Fisher meninggal dunia ketika film Star Wars Rouge One sedang hangat diputar saat ini. Kemungkinan orang-orang di Indonesia mengenal dia hanya sebagai Princess Leia yang legendaris di film-film Star Wars. Kemungkinan besar juga orang-orang di Indonesia tidak pernah tahu bila dia juga dikenang di dunia sebagai Mental Health Advocate karena keberaniannya berbicara terbuka tentang kondisi dirinya yang mengalami bipolar disorder. Kemungkinan yang lebih besar lagi orang-orang di Indonesia juga tidak akan tahu apa itu bipolar disorder bila mereka tidak mengikuti drama Marshanda πŸ˜€ .
Kemarin itu saya sedang latihan jari di twitter ketika twit seorang teman membuat saya berhenti dan membaca dengan khidmat.

Saya merespon twit teman itu dengan…

…karena di mari, mental health dianggap hanya drama si penderita yg bisa diobati dng banyak doa dan banyak bersyukur.

Membaca twit itu membuat saya terlempar ke masa-masa ketika crying for help ke orang lain karena menderita depresi dianggap upaya mencari perhatian. Masa-masa ketika berbicara terbuka mengenai penyakit mental akan menyebabkan pupil mata lawan bicara akan mengecil seakan-akan beberapa detik kemudian saya akan lompat ke atas meja lalu menari di sana.

Saya pernah menulis tentang depresi yang saya alami akibat Post Partum Depression di sini. Saya menulis respon orang-orang bila diceritakan tentang depresi saya.

Kenapa situ tidak terapi? Apa mungkin situ kurang sholeh berdoa? Atau mungkin situ terlalu dramatis, semua-mua dipikirin? Dunia akan sangat damai apabila semua masalah manusia bisa selesai dengan pergi terapi dan berdoa sepanjang malam.

Di negara ini -karena saya tidak pernah mencarinya di negara lain- mencari seraut wajah penuh empati yang mendengarkan cerita kelelahan kita karena didera depresi, atau bipolar, atau sakit mental, sama susahnya dengan mencari pendengar yang tidak punya ambisi untuk menceramahi atau sama susahnya seperti mencari dada bidang untuk bersandar. Mungkin masyarakat ini memang belum teredukasi tentang mental illness atau penyakit mental. Mungkin juga masyarakat ini memang selalu dalam kondisi penyangkalan. Karena itu, berbicara tentang diri sendiri yang mengalami kemunduran kesehatan mental hanya akan berarti bunuh diri, baik secara hubungan sosial maupun dalam arti sebenarnya. Tapi, mau sampai kapan kita begini? Mau sampai kapan orang-orang baik di luar sana yang menderita depresi, bipolar, sakit mental lainnya akan dibiarkan tanpa pertolongan?

Mengenang Carrie Fisher buat saya mengenang arti keberanian. Keberanian mengakui kondisi diri sendiri. Keberanian mengakui diri ini butuh pertolongan. Keberanian membuka kondisi dirinya kepada orang lain. Keberanian melawan stigma yang ditempelkan orang lain. Keberanian membawa pesan penderita lain dalam perjuangannya. Dan terutama, keberanian menatap penyakit ini sambil berkata, “Bring it on!”

Masyarakat ini perlu seorang Carrie Fisher.

A gift from a good friend to remind me that everything will be OK if I decide so. #giftforlifetime

A photo posted by dmariskova (@dmariskova) on

Got to Work It Out for Love

I’ve never (yup, I think never) written a novel review in my entire life -not because I can’t- because I don’t want to. I feel really bad to comment on the masterpiece(s) of fellow writers no matter how unimpressive their work is. Why? Simple. I knooooow the behind story. The long late hours spent to write a 200-something page novel. The screaming of lacking of ideas. The feeling of being suck at something you are passionate about. The fear of being a bad writer. I know. And that’s why I always keep my opinion about a novel, for myself. Until now. Until I read this recently famous novel and #1 New York Times Bestseller and I. Just. Need. To. Get. This. Out. Of. My. System.

Warning: a few spoilers and a lot of heartbreaking comments.

So, a friend literally forced me to read Me Before You novel because she was sooooo moved by it. At the same time, the movie was a big hit here. To be honest, I wasn’t so much into this novel. I was never interested enough in picking up the novel from the bookshelf at the bookstore and was not even close to watch the movie. I read the synopsis once and decided I’d rather buy Jenny Han‘s πŸ˜› . But my friend was really persistent to hear my comments for the novel. So, okay, I was at the airport on my way to I-don’t-even-remember-where-anymore and out of habit, I bought the book for those long hours of waiting and flight. I read a couple of pages but decided that I was more interested in sleeping than reading through. So weird of me.

When I continued reading the first chapters, I was like ‘Okay. Intriguing. Could be something’ but again I kept putting it down. The introduction about Louisa Clark was not that impressive after a few chapters. And then the next chapters made my eyebrows raised. I flipped back to earlier chapters trying to figure out how in the world a girl named Louisa Clark can become the girl who melt a rich man’s cold heart while her own sister herself calls her idiot? After that, throughout the next chapters I was hoping the answer to my question would be on the next page. I was wrong.

So, here is my disappointment with the novel.
I like the storyline -I think it is an interesting storyline! I do!
I like the male character, Will Treynor. He gives more than enough opportunities for the story to build up drama. I even love the male character. I think it is a brilliant choice by the writer to give this background, this story, this personality, to this male character.
I am interested in the background characters: the family, the sister, the boyfriend. They are all amazing for background.
I didn’t mind the slightly predictable ending because the story could (!) offer surprises here and there.
Aaaand, I would like to fall for the female character. The heroine. Louisa Clark. I was waiting to fall for her. But…nothing.
With that storyline, this male character, that background, Louisa Clark has just provided me with consistently annoying character from the beginning -the clueless girl who can’t even show me why she deserves to be loved. She is not maturing. She is not developing enough to turn the story around!

So, I ended up being so irritated with the novel and stopped reading when I reached page 337. I told my friend that and…she was upset πŸ˜€ . After that time, my friend started to nag me to watch the movie to see if I could change my mind. Yeah. Right. But she was so insistent and annoying and she checked on me several times if I had watched the movie. So, I did it just to stop her nagging while secretly hoped the movie was better.

But, it wasn’t! πŸ™ . It just looked nicer from all the nature and scenery in the movie.

So, what makes me change my habit of not commenting on a novel?
My annoyance that the story could be better IF THAT LOUISA CLARK COULD SHOW ME SHE DESERVES THE ROLE.

On another note, this novel is a learning tool for me. I got to reflect on how a character should mature throughout the novel. Or how a character should be developed. Or how a good story can be ruined by one not-convincing character. Or how -even in a fiction- you’ve got to work hard to deserve someone’s love.

Yang si Mami akan Katakan

Tanggal 22 Desember seperti tahun-tahun sebelumnya seharian penuh linimasa baik di Fesbuk maupun di Twitter, dan bahkan di Instagram, berisi foto dan daftar masakan favorit anak-anak Endonesia. Bagaimana dengan Fesbuk dan Twitter kalian? Setelah sempat menuliskan fenomena ini di sini, tahun ini sebenarnya saya berharap ada yang cerita-cerita berbeda dalam merayakan Hari Ibu. Cerita-cerita yang bisa membuat saya ikut terkekeh membaca betapa miripnya peristiwa itu dengan yang saya alami. Mungkin saya masih belum bisa move on dari sindrom kenangan masa anak-anak yang tidak pernah berkaitan dengan masakan si Mami πŸ˜€ .

Iseng, saya mencoba mencari-cari di linimasa cerita-cerita tentang momen berkesan saat kecil dulu bersama ibu yang tidak berhubungan dengan makanan dan memasak. Menjahit, mungkin? Berkebun? Duh, semuanya domestik ya πŸ˜› . Atau cerita tentang keahlian tertentu yang diajarkan ibu selain memasak? Berkelahi? Kalau itu sih saya.

Sampai kemudian saya melihat video ini di Fesbuk dan ngakak sejadi-jadinya.

I can relate to the story about Asian parents. Well, I’m the Asian parent who educates my kids using the power of raised eyebrows! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .

Waktu kecil, si Mami dan Kumendan jarang berpanjang lebar memberikan penjelasan kenapa saya dan adik-adik saya tidak boleh melakukan sesuatu dalam kategori berbahaya atau membawa masalah di kemudian hari. Saya ingat si Mami paling kesal setiap kali saya memilih untuk tidur, dibanding makan, apabila sudah teramat capek. Dengan kegiatan ekskul yang melebihi jadwal kerja dan kegiatan bergaul si Mami, saya seringkali pulang dengan badan capek dan cuma pengin tidur. Kalau sudah begitu, si Mami akan menegur sekali supaya saya makan. Teguran yang tentu saja saya abaikan. Teguran kedua akan dilakukan si Mami dengan kalimat yang berbeda, “enggak mau makan? Tanggung sendiri kalau sakit ya.”

Dan tentu saya sakit setelahnya….
Dan menurut lo cerita Malin Kundang hanya fiksi?!

Si Mami bukan jenis orang yang akan bilang ‘I told you so’ setiap kali saya sudah merasakan nikmatnya mengabaikan teguran si Mami. Dia hanya akan memandang saya datar dengan wajah yang di mata saya sudah berubah jadi running text di TV berisi daftar sebab akibat dan apa yang harus saya lakukan sendiri sebagai konsekuensinya. Sebagai hasilnya, saya mengerti bahwa anak-anak perlu diajarkan sebab akibat dengan merasakan akibatnya sendiri hahaha… Otak saya sampai sekarang terlatih untuk mengukur sebab dan akibat. Saya sebal luar biasa setiap kali saya dengar kalimat sakti si Mami itu.

Ketika saya punya anak, tanpa sadar dan tanpa diinginkan, saya ternyata menggunakan dan memodifikasi cara si Mami mengajarkan sebab akibat. Suatu kali, saya pulang ke rumah dan mendapati si Mami laporan tentang Hikari yang habis ditegur gurunya karena tertidur di kelas. Belum sempat saya komentar apapun, Hikari sudah bersuara.
“Iya, aku salah. Mamam udah ingetin semalam tapi aku keterusan baca buku jadi tidurnya terlambat.”
Sya kontan ingat kalimat saya semalam.
“Mamam sudah ingatkan loh ya. Kalau besok mengantuk di sekolah, kamu tanggung sendiri akibatnya!”

Tiba-tiba saya terlempar ke masa kecil saya saat si Mami mengucapkan hal yang sama kepada saya.
Apparently, sooner or later, we will all quote our mother.

Selamat Hari Ibu, Mam!

Kaca pada Matamu

Okay, saya mau buat pengakuan dosa.

Duluuu sekali, jaman saya masih muda banget, saya diam-diam mendambakan bisa memakai kacamata. Bisa, maksud saya bukan sekadar memakai, tapi benar-benar perlu memakai kacamata. Sakit jiwa, memang. Alasan saya waktu itu cuma satu: pengin kelihatan keren dengan gonta-ganti kacamata menyesuaikan color mood saya hari itu. Saya baru tahu kemudian frame kacamata keren mahalnya luar biasa dan gonta-ganti kacamata setiap kali mood saya berubah tidak hanya membuat saya bangkrut tapi juga bisa membuat saya harus bangun sebelum subuh supaya punya waktu untuk memilih kacamata sebelum berangkat ngantor πŸ™„ .

Pertama kali saya pakai kacamata di usia 30an sekarang kan masih 22 karena saya merasa mata saya sudah susah fokus tiap menulis di komputer atau membaca. Dengan girang, saya pun pergi ke dokter mata. Sialnya si dokter mata tidak percaya mata saya bermasalah karena menurut dia saya hanya kelelahan 😐 . Kata teman saya, kalau kelelahan, lebih baik ke spa daripada ke dokter mata. Saya tidak menyerah. Pergi lah saya ke optik. Hasilnya? Optician di optik bilang mata saya minus πŸ™ . Enggak, saya bilang mata saya plus. Saya susah baca jarak dekat dan kerja di komputer. Si optician cek mata saya lagi.
“Minus, Mbak.”
“Saya bisa melihat jauh dengan sempurna, kok.”
“Tapi Mbaknya masih muda. Enggak mungkin plus!”
Lah? Padahal mesin cek mata itu enggak ada aplikasi ngecek umur kayaknya πŸ™„ .

Singkat cerita, berdasarkan angka-angka dari ‘mesin mata’ itu saya pulang dengan membawa kacamata lensa minus.
Saya langsung stress. Keluar dari optik itu saya baru sadar bikin kacamata itu mahal. Apalo?! Apalo?!

Kacamata lensa minus itu enggak lama saya pakai. Kalau diingat-ingat, mungkin malah hampir tidak pernah saya pakai. Dan, saya baik-baik saja. Beberapa tahun kemudian baru lah saya berhasil mendapatkan stempel dokter mata bahwa mata saya plus dan harus pakai lensa progresif. Dasar manusia tempatnya galau, setelah benar-benar butuh pakai kacamata, plus pula, saya malah enggak pernah pakai. Bila sedang kerja di laptop, laptopnya saya mundur-mundurkan supaya kelihatan. Saat baca buku, bukunya saya putar-putar untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Saat main hape, fontnya saya gedein 😎 . Saya punya teori pembiasaan untuk mata saya. Mungkiiiiiiin, mungkin, kalau saya biasakan mata saya membaca tanpa kacamata plus itu, mata saya akan terbiasa, enggak manja, dan normal lagi πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .

Berbulan-bulan setelah itu, saya menyerah dan mulai rutin pakai kacamata saya. Saya kapok. Alasannya sederhana. Pada suatu hari, saya sedang makan rawon, dan saya salah mengidentifikasi sesuatu di mangkok saya itu. Saya pikir bumbu rawon….ternyata semut.

Saya insyap.

Sekarang, setiap tahun ukuran lensa saya berubah terus. Minus saya berkurang, plus saya bertambah.
Seandainya ukuran minus-berkurang-plus-bertambah itu mendeskripsikan kelakuan saya, ibu saya pasti sujud syukur.

Parenting Ala Ala

Facebook sekarang ini rupanya memang telah menjadi pasar informasi luar biasa -dari informasi gelap, informasi abu-abu, sampai informasi jelas terang-benderang ada semua. Mau informasi jenis apa pun, pemilik akun FB bisa pilih. Eh. Koreksi. Pemilik akun bisa memilih teman tapi belum tentu bisa memilih informasi πŸ˜€ .

Kemarin itu, di antara lautan postingan tentang pilkada, hoax, roti, air mineral, sampai gempa, saya menemukan mutiara hehehe… Seorang teman saya membagikan video tentang perbedaan pengasuhan anak di Amerika dengan di Eropa.

Sebelum mulai nonton videonya, saya kasih tahu dulu ya. Penggambaran parenting di Eropa bakal bikin baper. Pengin langsung pindah ke sana bawa anak-anak hahaha…

Yang saya perhatikan di video parenting itu orang tua di Amerika hampir sama kondisi psikologisnya dalam melihat lingkungan tempat anak-anaknya berada dengan orang tua di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Anak-anak tidak dibiarkan keluar atau main sendirian, apalagi ditinggal di depan toko tanpa penjagaan. Sementara itu di di Finlandia dan Denmark, bayi-bayi mereka malah ditinggal di kereta dorong mereka sendirian di luar rumah atau di luar toko. Ngebayanginnya aja saya bisa pingsan πŸ˜€ .

Urusan pergi ke sekolah pun Amerika dan Eropa beda perlakuan. Anak-anak di Eropa dibiarkan jalan sendiri ke sekolah, persis saat saya kecil. Saat kami masih tinggal di Jepang bertahun-tahun lalu, Hikari sempat mengalami sendiri cara penduduk sekitar memperlakukan anak-anak sekolah. Mereka punya sistem anak-anak satu area perumahan berkumpul di meeting point tertentu untuk berangkat bareng ke sekolah. Ada orang tua yang piket untuk berjaga di titik-titik tertentu untuk memastikan keamanan anak-anak. Saya suka cara ini: anak tetap mandiri tapi merasa aman karena ada pengawas.

Saat saya kecil, saya masih bisa jalan kaki sendiri ke SD yang jaraknya jauh dari rumah dan melalui jalan utama yang banyak kendaraan melintas. Sekarang ini, bukan lalu lintasnya yang saya kuatirkan tapi kejahatan terhadap anak yang semakin menakutkan. Persis seperti komentar-komentar ortu dari Amerika di video itu. Video ini pada akhirnya membuat saya berpikir betapa jauhnya orang tua dan anak-anak di kota-kota besar di Indonesia Jakarta dari kondisi ideal pengasuhan anak. Jangankan berangkat sekolah sendiri, main di luar aja orang tau merasa perlu ada orang dewasa yang mengawasi πŸ™ . Berita tentang anak kecil diculik saat main di pekarangan rumahnya sendiri bersliweran, termasuk di FB πŸ™ . Padahal saya ingin anak saya sedari SD sudah bisa naik angkutan umum sendiri, jalan sendiri ke sekolah atau ke tempat kursusnya, main bebas di taman. Entah kapan mimpi seperti ini bisa terwujud di kota ini. Apa sebaiknya mimpi pindah negara aja ya? Ke Eropa sekalian πŸ˜€ .