Menjadi Yogi #4

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

JADWAL BERANTAKAN

Setelah sempat 2 bulan teratur latihan yoga, akhir Oktober kemarin menjadi penanda melorotnya performa yoga saya *halah*
Gara-gara travel, latihan rutin bersama Mbak Guru Yoga harus mundur. Masih untung kalau seminggu dapat sekali, saya sempat skip beberapa minggu tidak ke sanggar yoga. (eh kids zaman now masih pakai kata sanggar kah?). Kadang saya masih rajin bisa latihan di hotel atau di rumah dengan cara melihat tutorial di youtube. Kekurangannya latihan dari nonton youtube adalah satu, kalau posenya salah enggak ada yang neriakin, apalagi, ngebetulin; dua, kalau posenya susah, langsung nyerah di napas pertama dan gak ada yang neriakin huehehehe…. Apalagi tennis elbow saya masih belum pulih. Alasan untuk enggak serius latihan saat travel makin menjadi-jadi. Nyerah dong mimpi jadi Yogi-nya?

Tentu tidak!
Continue reading

Menjadi Yogi #3

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

CEDERA PERTAMA

Ikut Paskibra bisa membuat kita tahu apakah kita punya kelainan bentuk tulang.
Ketika saya kelas 1 SMP (atau #kidszamannow nyebutnya Kelas VII), bersama seluruh anak baru kelas 1, saya ikut seleksi wajib paskibra sekolah. Seleksi kok wajib ๐Ÿ™„ . Seleksinya gampang. Begitu nama dipanggil kakak kelas, saya harus peragakan langkah tegap maju jalan dari ujung kelas yang ini ke ujung kelas yang itu. Begitu saya selesai memeragakan langkah tegap maju jalan hasil didikan sekolah di komplek tentara selama 6 tahun, kakak kelas saya merubungi.
“Eh coba tangan kamu lurus ke depan!”
“Ih iya loh. Siku kamu kok bengkok?”

Saat itu lah setelah 11 tahun hidup baru saya sadar bahwa kedua lengan saya bila posisi lurus ke depan tulang sikunya bengkok seperti penderita kaki huruf X. Hebat kan paskibra?!
Continue reading

10 Plus 16

“Then slowly, over time, everything changes. And you’re no longer this young thing, and you don’t believe in fairytales and ‘perfect’ isn’t in your vocabulary. And then suddenly, here is this man and he becomes so familiar to you that one day you find yourself looking at him thinking I could love this person for the rest of my life.”
Addison Montgomery, Grey’s Anatomy.

Happy 16th Anniversay. Happy 26th year of together. Somehow being with you just makes sense.

Nama Keren

Saya spontan ngakak baca twitnya Mas Agus Mulyadi (Mas…kayak kenal hehe) tentang satu film yang kayaknya film Indonesia. Ngakaknya saya itu karena ingat kejadian yang sama di sekolah Aiko. Kalau hanya lihat dari daftar absensi siswa, pasti kelas Aiko disangka bukan di Indonesia. Padahal ya semua makannya nasi dan tempe, dicampur kentang goreng sedikit ๐Ÿ˜€ .
Continue reading

Menjadi Yogi #2

Disclaimer: Baca Menjadi Yogi #1 ๐Ÿ˜›

KENALAN DENGAN YOGA

Saya menyesal tidak mendokumentasikan (iya, foto) pose-pose yoga pertama saya (((mendokumentasikan))). Walaupun pasti hasil fotonya memalukan, sesi yoga pertama saya itu bersejarah. Dengan hasil semua pose salah, badan remuk, otot terbakar, dan rasa malu karena gagal pose melulu, saya masih kepingin ikut (ya, oke, saya sudah bayar membership juga sih). Padahal rekor saya di sesi pertama terdiri dari cuplikan-cuplikan kegagalan seperti ini:

  • Sentuh jari kaki! Boro-boro tangan bisa nyentuh jari kaki, hidung ke dengkul aja jauuuuuh bener!
  • Membungkuk lurus. Bungkuk, bisa. Lurus, enggak. Saya pikir lurus punggungnya ternyata begitu dilihat di cermin, punggung saya menonjol segitiga.
  • Tangan ke atas, lengan di belakang kuping. Be-la-kang kuping! Kuping! Itu di pipiiiiii!
  • Tidur telentang. Kaki lurus ke atas. Lurus itu subyektif, Mz ๐Ÿ˜ฅ
  • Duduk tengkurap. Pantat menyentuh lantai. Pantat saya malah nungging.

Jelas ya gambarannya? ๐Ÿ˜€
Continue reading

Biarin aja lah

Saya sedang makan malam bareng beberapa teman asing di sebuah resto di Makassar ketika saya dengar seorang tersangka korupsi kelas wahid menang pra-peradilan di Jakarta. Saya cek twitter dan…yup…it’s there. Sontak semua keriaan saya di makan malam itu langsung menguap. Rupanya perubahan air muka saya terbaca jelas oleh teman-teman, entah bagaimana. “Everything OK, D?”
Continue reading

Menjadi Yogi #1

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

MENDADAK YOGA

Awal tahun lalu dokter syaraf saya yang baik dan kadang lucu memberi ultimatum kepada saya untuk menyerahkan diri melakukan MRI. Setelah sekitar setahun saya rutin bertemu dia sebulan sekali untuk mengadukan migren yang makin membandel, Dokter S mencurigai migrain hormonal saya telah disusupi oleh kondisi lain yang membuat saya mengalami episode migrain lebih dari satu kali sebulan dan/atau lebih lama dari biasanya. Si dokter pun mulai menginterogasi.
Dokter S: “Kemarinan makan apa? Dicatat enggak?”
Saya: “Biasa, Dok. Rendang Padang, bebek sambal ijo, iga tepung penyet…”
Dokter S: “……….kan. Saya jadi laper….”
Continue reading