The Philosophy of Oleh-Oleh

Have you ever been sent by your office to work out of town or even abroad, and when you returned to the office after that assignment the first words coming from the first person who met you was, “what did you bring me?”

Oleh-olehnya manaaaaaaa?

I just arrived at the office this morning after 12 days away and the first greeting I heard was exactly, “what did you get for me.”

I was about to say, “nothing,” but then I managed to stop opening my mouth, take a deep breath, smile, and… say nothing. Some minutes later, a different person approached me with the same question…

People stopped asking me that question after 4 PM passed. That’s the time when working hours are over, of course. To tell you the truth, but don’t tell my colleagues, I was about to do something when the third person came and asked me. But, today is my first day at the office again and some wise men say you should be nice and sweet to people on your first day at work. So, I said nothing and let the rest of the office population live and in one piece.

My mom, who is so wise and thoughtful, always says it’s in the blood. Our Indonesian blood. Anyway, my mom says bringing souvenirs from wherever you are from shows how caring you are as a person. I can counter my mom’s theory but again some wise men say you are cursed if you dare arguing with your own mother.

According to my mom, bringing souvenirs for your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents mean…

1. You are a caring person because you always remember them even when you are away from them and busy with your assignment and you should have focused on your work but not them.

2. You are a thoughtful person because you make time to choose what souvenir for which person and which person hates which person so you shouldn’t give that person similar souvenir as this person.

3. You are a generous person because you are willing to spend your out-of-town-working allowance to buy souvenirs for your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents, etc.

4. You are a fair person because you make sure everyone who knows you get a souvenir.

5. You are loved because people are willing to knock at your office door and ask for their share of souvenir. If you are hated, they will not do that.

6. You are also a loving person because you value people over money. You are okay with spending cash for the smiles on the face of your friends, colleagues, relatives, neighbors, your children’s teachers, your children’s friends’ parents, etc.

7. You are friendly because you have a lot of friends (a lot of underlined, bold, italicized) asking for their share of souvenir.

8. You are likable because you like to give away souvenirs and people like a person who likes to give away souvenirs.

9. You are popular. Giving away souvenirs to the world’s population surely makes you popular. If you are not still, there is something wrong with the souvenirs you bought. Sorry.

10. …………………………………. (go ahead and have your own philosophy here!).

The Science of Unhappiness

We -my friends and I- were sitting there, at the back of the room, behind hundred of conference participants, listening to an ELT figure talking about being a teacher while being happy. We -my friends and I- are teachers with additional work, and so we were supposed to be happy too.

The presentation was the last session of the day, and the day was the last day of the event. That means we -my friends and I- were at the end of a couple of months, and weeks, and hours of mental deprivation. Please reread and underline if necessary the words: a couple of months, and weeks, and hours.

Then, it was only normal that when we finally finished the day, we decided to go out in the middle of the night to take a walk. We thought taking a walk could release us from stress and as a result we were cured from our mental deprivation. Of course, we thought wrong. And by the end of the walk, we realized that we had been unhappy too long to be cured by a one-hour motivational speech.

So, instead of feeling sorry for our unhappy state, we came up with the Science of Unhappiness. We might not be happy people but at least we have a brain like a rocket scientist’s.

The Science of Unhappiness

by the six of us

  1. Unhappy people are pessimistic. And it is good to be pessimistic because it means we don’t exaggerate things. It keeps people in perspectives.
  2. Unhappy people are sharp. They never overlook small mistakes.
  3. Unhappy people are motivated people because they are driven by anger, hatred, revenge, and bad experiences.
  4. Unhappy people always find ways for improvement because they are not easily forgiving.
  5. Unhappy people are sensitive to comments, opinions, inputs, suggestions, etc. Being sensitive makes unhappy people perfectionists. And the best people at work are the perfectionists.
  6. ……………. (fill in the blank with your sentences)

Define Me

How do you define your friends?

By how good they look? How nice they are to you? How patient they are toward you? How hard they work? How sharp they are when they think? How brave they are when they speak? How loyal they are to you?

Tell me how you want to define your friends. And I’ll tell you if I want to be your friend.

Hikari dan konsep menabung

Ada banyak cara bagi Hikari untuk mendapatkan rejeki. Mengaji bener sedikit, dia dapat limaribu. Latihan karate bagus sedikit, dia dapat lima ribu. Cium pipi Eyang Kakung sedikit, dia dapat sepuluh ribu. Pijet-pijet Eyang Uti sedikit, dia dapat duapuluh ribu.

Malam ini Hikari kembali dapat limabelas ribu dari Eyang Uti karena sudah mencium pipi Eyang Uti kiri dan kanan. Uang itu langsung dikasih ke Mama. Kata Hikari uang itu untuk main kartu Animal Kaiser di mall. Mendengar itu, papap langsung komentar.

Papap: Hikari, uangnya dikumpulin dong. Tadi kan baru aja bilang mau beli buku.

Hikari: Kan uangnya cuma limabelas ribu. Bukunya kan enampuluh ribu. Uangnya cuma cukup untuk main Animal Kaiser.

Mama: Makanya dikumpulin. Kan kalau dikumpulin, sedikit-sedikit lama-lama…?

Hikari: Lama-lama dibawa ke BNI.

Another Soul Wasted

Saya harus menginjak rem dalam-dalam saat menyetir mobil di jalan tol tepat di Interchange Cawang arah TMII sore tadi. Seorang laki-laki kumal bertelanjang kaki berjalan pelan di sisi paling kanan jalan tol. Dia tidak menoleh sedikit pun ketika dalam sekejap suara klakson dari beberapa mobil menjerit kencang melihat dia.

Dari kaca spion, saya melihat dirinya termangu di pinggir pembatas jalan tol.  Di tangannya ada kantong plastik kresek berisi buntalan. Wajahnya masih terlalu muda dan badannya masih terlalu kuat untuk menjadi seorang… gembel?

Mungkin saya sedang terlalu sensitif. Maksud saya, berpuluh tahun menjadi warga kota Jakarta asli, saya sudah terbiasa melihat pengemis, pemulung, gembel, orang-orang gila tergerus kerasnya hidup, anak-anak kecil pengamen… lalu kenapa sore ini berbeda?

Mungkin karena wajah linglungnya. Atau mungkin karena pundaknya yang seperti memikul beban berat. Mungkin juga karena ketidak relaan saya melihat seorang lagi anak manusia menjadi tersia-sia.

Hidup hanya sebentar. Dunia tidak akan ada selamanya. Saya tak sanggup melihat laki-laki itu menjadi korban kehidupan dalam usia yang terlalu muda. It’s like seeing a soul born wasted. It’s just not right.

Serahkan Pada Ahlinya

Mohon maap kepada para hadirin sekalian yang pusing melihat template blog ini gonta-ganti melulu. Ngaku saja, saya juga pusing. Pusing nyari template gratisan yang cocok sama kepribadian saya. Memang susah sih. Nyari apapun -dari manusia sampai template- yang cocok sama saya memang susah.

Untuk sementara, saya pakai template coklat-coklat begini dulu. Terpaksa ikhlas dulu karena judul blog gak keluar dan link blog juga gak keluar (masa blog ini linknya YourSiteName.com?) sampai saya bisa menemukan dimana kode yang harus dikoreksi.

Saya tinggal menjahit manik-manik dulu ya…

You are how your boss is

Kemarin teman saya ketiban sial. Dimaki-maki seorang bos. Saya bilang sial karena bukan hanya teman saya itu dimaki-maki untuk sesuatu yang bukan salahnya, juga karena si bos itu bukan bos dia sendiri dan tidak pula bekerja di satu perusahaan yang sama dengan teman saya itu. Selesai dimaki-maki oleh bos itu, anak buah benerannya si bos -lewat telpon- berkata, “Sabar ya, Pak.”

Sehabis dimaki-maki dan telpon ditutup, teman saya itu ngomel nggak ada dua di depan saya. Kalimat pamungkasnya adalah, “Dep, kalo elo ntar jadi bos, jangan kayak gitu ya!”

Saya belum bisa mengaku saya seorang bos di kantor, walaupun saya mempunyai beberapa staf. Tapi saya punya banyak bos yang bisa atau malah yang tak sudi saya contoh.

Sebut saja Bos V. Bos V ini expatriat yang sudah keliling dunia dan berpengalaman handal di berbagai perusahaan dengan budaya berbeda. Walau jabatannya Presdir, Bos V ini mau turun tangan mengutak-atik komputer saya yang ngadat saat para staf di bagian IT tiba-tiba menghilang ketika diperlukan. Dia juga mau menjadi mentor para anak buahnya dengan sabar. Saking baiknya si Bos V, dia rela memberi tumpangan anak buahnya saat pulang kantor. Hanya beberapa tahun Bos V di perusahaan multinationally joint venture itu, kontraknya tidak diperpanjang. Menurut gosip yang bisa dipercaya, pemegang saham yang mayoritas orang negeri dan saling bersaudara itu tidak suka kalau Bos V lebih ngetop dari mereka.

Lalu ada Bos W. Bos W ini sudah kaya dari sebelum dia lahir. Seumur hidup sampai setengah bayanya, dia belum pernah disuruh mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Kebiasaannya dia yang paling terkenal di kantor adalah menjerit kepada anak buahnya. Jeritannya, “Aaaaaa, tas saya mana?!” atau “Beeeeee, ambilin laundry saya!” atau “Ceeeeeeeeeeee, bawain dompet dan majalah saya ke kantin ya!” atau “Deeeeeeeee, bayarin tagihan kartu kredit saya di bank!” Terakhir saya dengar Bos W ini mau naik pangkat jadi Direktur.

Kemudian ada Bos X. Bos X ini terkenal berhati mulia sejagat raya. Orangnya lurus, halus, ramah, dan pekerja keras. Saking halusnya, Bos X tidak pernah memarahi anak buahnya. Kalau ada anak buahnya yang harus ditegur, dia akan menegurnya dengan sangat halus yang terkadang malah tidak mujarab sama sekali. Bos X mengundurkan diri dari kantor karena tiba-tiba posisinya dipindahkan ke tempat lain. Ke departemen baru yang dibuat manajemen hanya sebagai tempelan dengan job description yang nggak jelas. Walau ada begitu banyak orang -terutama anak buahnya- yang meratapi kepergian dirinya, tidak ada satu orang penting pun yang mau menyelamatkan dirinya. Bos X ternyata tidak punya teman di atas sana. It’s apparently very lonely up there.

Setelah itu ada Bos Y. Bos Y ini mengaku mempunyai visi jauh ke depan. Karena itu dia tidak sudi disuruh mengerjakan hal-hal kecil perintilan yang kata dia tidak penting. Tapi kayaknya hampir semua pekerjaan dia bilang tidak penting. Bos Y selalu bergaya pejabat teras. Tas kantornya minta dibawain. Pintu minta dibukain. Kopi, teh, air putih, makan siang, minta diambilin. Pekerjaan… minta dikerjain orang lain. Bos Y ini hebat sekali gaya cuap-cuapnya. Tanpa mengerjakan pekerjaannya, dia bisa naik pangkat terus.

Berikutnya, ada Bos Z. Katanya, Bos Z ini pintar dan perfectionist. Saking pintar dan perfectionistnya, dia memberikan standar tinggi pada pekerjaan yang harus dilakukan anak buahnya. Jelas, anak buahnya tidak pernah sanggup mencapai standar itu, menurut kaca mata Bos Z. Ujung-ujungnya, anak buahnya semua dianggap tidak becus bekerja dan tidak keras berusaha. Not necessarily in that order sih. Lalu setelah mengatakan bahwa anak buahnya tidak becus dan tidak keras berusaha, dia akan memaksa semua orang untuk mengikuti semua maunya sampai ke titik komanya. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan, tidak ada komentar, apalagi input. Bila ada orang yang berani-beraninya mempunyai ide berbeda, Bos Z tidak akan ragu untuk mengeluarkan aji pamungkasnya: tantrum. Dengar-dengar, Bos Z ini bakal dapat jabatan paling penting di perusahaan.

Katanya sih semua bos itu manusia. Yang sering dilupakan mungkin adalah fakta bahwa anak buah juga manusia. Seorang bos tidak waras seperti yang dihadapi teman saya di atas (gimana bisa dibilang waras? sama karyawan orang lain aja dia bisa maki-maki nggak jelas) pasti akan menghasilkan anak buah yang juga tidak waras. Seorang bos yang ditaktor akan menghasilkan anak buah bernyali kecil. Seorang bos yang melempem akan menghasilkan anak buah yang kurang ajar. Seorang bos yang sering tantrum akan menghasilkan anah buah yang Yes Man melulu.

Pesan moral saya kali ini adalah: sebelum seorang bos –anda, mungkin?– berteriak-teriak betapa tidak becus anak buahnya, coba lah untuk mengaca dulu. Siapa tahu anak buahnya itu hanya sekedar mengikuti tingkah laku si bos.

Pesan moral saya untuk teman saya: I won’t be that kind of boss with you as my friend.

Untung Kasih Ibu Sepanjang Badan

Every child is a unique individual.

Waktu-waktu belakangan, setiap kali menatap wajah Hikari, saya merasa kalimat itu sepertinya diciptakan untuk saya seorang. Hikari yang usianya sudah 7 tahun 9 bulan semakin hari semakin jadi ‘unik’ nya. Kalau dulu-dulu kelakuan uniknya masih bisa bikin saya ketawa-tawa meringis, sekarang kelakuannya bikin saya lebih banyak meringis daripada ketawanya.

Sejak dia duduk di kelas dua ini, Hikari tiba-tiba menjadi super aktif dan super keras kepala. Kalau dulu saat dia ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang wajahnya hanya bisa pasang tampang polos dan langsung ngabur dari crime scene, sekarang lain lagi. Dia sekarang akan menghadapi siapapun orang yang melarangnya lalu mengeluarkan kalimat saktinya, “memangnya kenapa?”

“Hikariiiiiiiiiiiii, kenapa nyebur lagi ke kolam ikan?! Kamu sudah tiga kali ganti baju dalam setengah jam ini!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, ayo tidur siang dulu. Kamu baru sembuh jadi perlu istirahat dulu.”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa kadalnya dipasangin tali di lehernyaaaa????!!!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari! Colokan listrik bukan mainaannn! Aaarrggghhh!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa hari ini Ibu Guru menulis kalau kamu dihukum lagi sewaktu sholat jamaah? Kamu melakukan apa?”
“Main.”
“Main?! Waktu sholat jamaah?”
“Memangnya kenapa?”
“Sholat bukan waktunya untuk main. Kamu tau kan?!”
“Iya. Tau.”
“Jadi, kenapa kamu mainan waktu sholat, Naaaaaak?”
“Memangnya kenapa?”

OH MY GOD! 

Jawaban-jawaban ‘memang kenapa’ dari mulut Hikari kadang disertai dengan isak tangis rasa bersalah atau takut karena saya melotot kejam padanya. Tetap saja keras kepalanya sukses bikin saya antara darah tinggi atau pingsan di tempat.

The seven year old has defiant moments. She wants to know why she has to do something. She may call her mother mean and run to her room to sulk but is less likely to physically strike her parent now.  If things don’t go her way when playing with friends she will quit and go play by herself. When she is disciplined she accepts it but is deeply disturbed by being in trouble.

Cuplikan itu saya dapat disini. Sudah sebulanan ini saya sibuk mencari informasi kenapa anak saya tersayang itu jadi doyan bikin saya dan Papap darah tinggi. Bahkan Papap sekarang punya kebiasaan baru yaitu membaca buku-buku parenting milik saya saking dia sudah kehabisan akal. Kalau ada satu hal yang merupakan hikmah dari peristiwa ini, mungkin hanya soal Papap yang sampai mau baca buku itu demi membuat Hikari tobat…

Sudah seminggu ini alergi Hikari kumat dalam bentuk rash di kulit tangan, telapak tangan, kulit kaki, dan telapak kaki. Awalnya dia didiagnosa dengan Flu Singapur. Tapi kemudian diagnosa itu berganti menjadi alergi. Maka dimulailah serentetan pelarangan untuk Hikari, yang dimulai dengan karantina dirinya di rumah selama seminggu. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah lagi sambil membawa daftar tidak-bolehs untuk gurunya. Tidak lupa saya dan Papap mengulang-ulang daftar tidak-bolehs itu untuk dihapal Hikari.

Tidak boleh makan ini, itu, ini, itu.
Tidak boleh main dengan binatang, terutama kucing.
Tidak boleh nyemplung ke kolam ikan.
Tidak boleh ngubek-ngubek akuarium.
Tidak boleh masuk ke sawah.

Pulang sekolah, saya minta dia bercerita apa yang dia lakukan hari ini. Kalimat pertama adalah…
“Ikan di akuriumnya mati, jadi aku ambil. Tadinya aku mau kubur di tanah di dekat green garden, tapi aku lihat ada kucing kecil kelaparan. Aku panggil-panggil kucingnya, eh, dia tidak mau datang. Kayaknya dia lapar sekali deh, jadi tidak bisa jalan. Jadi, aku angkat kucingnya ke tempat ikan. Terus ikannya aku kasih makan buat kucing…”

Saya menatapnya lama sekali dengan mulut dikatup erat-erat. Saya melihat dada Hikari turun naik. Matanya ditundukkan ke bawah sambil sesekali melirik saya.

Lalu, “memangnya kenapa, Ma?”