Another Soul Wasted

Saya harus menginjak rem dalam-dalam saat menyetir mobil di jalan tol tepat di Interchange Cawang arah TMII sore tadi. Seorang laki-laki kumal bertelanjang kaki berjalan pelan di sisi paling kanan jalan tol. Dia tidak menoleh sedikit pun ketika dalam sekejap suara klakson dari beberapa mobil menjerit kencang melihat dia.

Dari kaca spion, saya melihat dirinya termangu di pinggir pembatas jalan tol.  Di tangannya ada kantong plastik kresek berisi buntalan. Wajahnya masih terlalu muda dan badannya masih terlalu kuat untuk menjadi seorang… gembel?

Mungkin saya sedang terlalu sensitif. Maksud saya, berpuluh tahun menjadi warga kota Jakarta asli, saya sudah terbiasa melihat pengemis, pemulung, gembel, orang-orang gila tergerus kerasnya hidup, anak-anak kecil pengamen… lalu kenapa sore ini berbeda?

Mungkin karena wajah linglungnya. Atau mungkin karena pundaknya yang seperti memikul beban berat. Mungkin juga karena ketidak relaan saya melihat seorang lagi anak manusia menjadi tersia-sia.

Hidup hanya sebentar. Dunia tidak akan ada selamanya. Saya tak sanggup melihat laki-laki itu menjadi korban kehidupan dalam usia yang terlalu muda. It’s like seeing a soul born wasted. It’s just not right.

Serahkan Pada Ahlinya

Mohon maap kepada para hadirin sekalian yang pusing melihat template blog ini gonta-ganti melulu. Ngaku saja, saya juga pusing. Pusing nyari template gratisan yang cocok sama kepribadian saya. Memang susah sih. Nyari apapun -dari manusia sampai template- yang cocok sama saya memang susah.

Untuk sementara, saya pakai template coklat-coklat begini dulu. Terpaksa ikhlas dulu karena judul blog gak keluar dan link blog juga gak keluar (masa blog ini linknya YourSiteName.com?) sampai saya bisa menemukan dimana kode yang harus dikoreksi.

Saya tinggal menjahit manik-manik dulu ya…

You are how your boss is

Kemarin teman saya ketiban sial. Dimaki-maki seorang bos. Saya bilang sial karena bukan hanya teman saya itu dimaki-maki untuk sesuatu yang bukan salahnya, juga karena si bos itu bukan bos dia sendiri dan tidak pula bekerja di satu perusahaan yang sama dengan teman saya itu. Selesai dimaki-maki oleh bos itu, anak buah benerannya si bos -lewat telpon- berkata, “Sabar ya, Pak.”

Sehabis dimaki-maki dan telpon ditutup, teman saya itu ngomel nggak ada dua di depan saya. Kalimat pamungkasnya adalah, “Dep, kalo elo ntar jadi bos, jangan kayak gitu ya!”

Saya belum bisa mengaku saya seorang bos di kantor, walaupun saya mempunyai beberapa staf. Tapi saya punya banyak bos yang bisa atau malah yang tak sudi saya contoh.

Sebut saja Bos V. Bos V ini expatriat yang sudah keliling dunia dan berpengalaman handal di berbagai perusahaan dengan budaya berbeda. Walau jabatannya Presdir, Bos V ini mau turun tangan mengutak-atik komputer saya yang ngadat saat para staf di bagian IT tiba-tiba menghilang ketika diperlukan. Dia juga mau menjadi mentor para anak buahnya dengan sabar. Saking baiknya si Bos V, dia rela memberi tumpangan anak buahnya saat pulang kantor. Hanya beberapa tahun Bos V di perusahaan multinationally joint venture itu, kontraknya tidak diperpanjang. Menurut gosip yang bisa dipercaya, pemegang saham yang mayoritas orang negeri dan saling bersaudara itu tidak suka kalau Bos V lebih ngetop dari mereka.

Lalu ada Bos W. Bos W ini sudah kaya dari sebelum dia lahir. Seumur hidup sampai setengah bayanya, dia belum pernah disuruh mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri. Kebiasaannya dia yang paling terkenal di kantor adalah menjerit kepada anak buahnya. Jeritannya, “Aaaaaa, tas saya mana?!” atau “Beeeeee, ambilin laundry saya!” atau “Ceeeeeeeeeeee, bawain dompet dan majalah saya ke kantin ya!” atau “Deeeeeeeee, bayarin tagihan kartu kredit saya di bank!” Terakhir saya dengar Bos W ini mau naik pangkat jadi Direktur.

Kemudian ada Bos X. Bos X ini terkenal berhati mulia sejagat raya. Orangnya lurus, halus, ramah, dan pekerja keras. Saking halusnya, Bos X tidak pernah memarahi anak buahnya. Kalau ada anak buahnya yang harus ditegur, dia akan menegurnya dengan sangat halus yang terkadang malah tidak mujarab sama sekali. Bos X mengundurkan diri dari kantor karena tiba-tiba posisinya dipindahkan ke tempat lain. Ke departemen baru yang dibuat manajemen hanya sebagai tempelan dengan job description yang nggak jelas. Walau ada begitu banyak orang -terutama anak buahnya- yang meratapi kepergian dirinya, tidak ada satu orang penting pun yang mau menyelamatkan dirinya. Bos X ternyata tidak punya teman di atas sana. It’s apparently very lonely up there.

Setelah itu ada Bos Y. Bos Y ini mengaku mempunyai visi jauh ke depan. Karena itu dia tidak sudi disuruh mengerjakan hal-hal kecil perintilan yang kata dia tidak penting. Tapi kayaknya hampir semua pekerjaan dia bilang tidak penting. Bos Y selalu bergaya pejabat teras. Tas kantornya minta dibawain. Pintu minta dibukain. Kopi, teh, air putih, makan siang, minta diambilin. Pekerjaan… minta dikerjain orang lain. Bos Y ini hebat sekali gaya cuap-cuapnya. Tanpa mengerjakan pekerjaannya, dia bisa naik pangkat terus.

Berikutnya, ada Bos Z. Katanya, Bos Z ini pintar dan perfectionist. Saking pintar dan perfectionistnya, dia memberikan standar tinggi pada pekerjaan yang harus dilakukan anak buahnya. Jelas, anak buahnya tidak pernah sanggup mencapai standar itu, menurut kaca mata Bos Z. Ujung-ujungnya, anak buahnya semua dianggap tidak becus bekerja dan tidak keras berusaha. Not necessarily in that order sih. Lalu setelah mengatakan bahwa anak buahnya tidak becus dan tidak keras berusaha, dia akan memaksa semua orang untuk mengikuti semua maunya sampai ke titik komanya. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan, tidak ada komentar, apalagi input. Bila ada orang yang berani-beraninya mempunyai ide berbeda, Bos Z tidak akan ragu untuk mengeluarkan aji pamungkasnya: tantrum. Dengar-dengar, Bos Z ini bakal dapat jabatan paling penting di perusahaan.

Katanya sih semua bos itu manusia. Yang sering dilupakan mungkin adalah fakta bahwa anak buah juga manusia. Seorang bos tidak waras seperti yang dihadapi teman saya di atas (gimana bisa dibilang waras? sama karyawan orang lain aja dia bisa maki-maki nggak jelas) pasti akan menghasilkan anak buah yang juga tidak waras. Seorang bos yang ditaktor akan menghasilkan anak buah bernyali kecil. Seorang bos yang melempem akan menghasilkan anak buah yang kurang ajar. Seorang bos yang sering tantrum akan menghasilkan anah buah yang Yes Man melulu.

Pesan moral saya kali ini adalah: sebelum seorang bos –anda, mungkin?– berteriak-teriak betapa tidak becus anak buahnya, coba lah untuk mengaca dulu. Siapa tahu anak buahnya itu hanya sekedar mengikuti tingkah laku si bos.

Pesan moral saya untuk teman saya: I won’t be that kind of boss with you as my friend.

Untung Kasih Ibu Sepanjang Badan

Every child is a unique individual.

Waktu-waktu belakangan, setiap kali menatap wajah Hikari, saya merasa kalimat itu sepertinya diciptakan untuk saya seorang. Hikari yang usianya sudah 7 tahun 9 bulan semakin hari semakin jadi ‘unik’ nya. Kalau dulu-dulu kelakuan uniknya masih bisa bikin saya ketawa-tawa meringis, sekarang kelakuannya bikin saya lebih banyak meringis daripada ketawanya.

Sejak dia duduk di kelas dua ini, Hikari tiba-tiba menjadi super aktif dan super keras kepala. Kalau dulu saat dia ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang wajahnya hanya bisa pasang tampang polos dan langsung ngabur dari crime scene, sekarang lain lagi. Dia sekarang akan menghadapi siapapun orang yang melarangnya lalu mengeluarkan kalimat saktinya, “memangnya kenapa?”

“Hikariiiiiiiiiiiii, kenapa nyebur lagi ke kolam ikan?! Kamu sudah tiga kali ganti baju dalam setengah jam ini!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, ayo tidur siang dulu. Kamu baru sembuh jadi perlu istirahat dulu.”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa kadalnya dipasangin tali di lehernyaaaa????!!!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari! Colokan listrik bukan mainaannn! Aaarrggghhh!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa hari ini Ibu Guru menulis kalau kamu dihukum lagi sewaktu sholat jamaah? Kamu melakukan apa?”
“Main.”
“Main?! Waktu sholat jamaah?”
“Memangnya kenapa?”
“Sholat bukan waktunya untuk main. Kamu tau kan?!”
“Iya. Tau.”
“Jadi, kenapa kamu mainan waktu sholat, Naaaaaak?”
“Memangnya kenapa?”

OH MY GOD! 

Jawaban-jawaban ‘memang kenapa’ dari mulut Hikari kadang disertai dengan isak tangis rasa bersalah atau takut karena saya melotot kejam padanya. Tetap saja keras kepalanya sukses bikin saya antara darah tinggi atau pingsan di tempat.

The seven year old has defiant moments. She wants to know why she has to do something. She may call her mother mean and run to her room to sulk but is less likely to physically strike her parent now.  If things don’t go her way when playing with friends she will quit and go play by herself. When she is disciplined she accepts it but is deeply disturbed by being in trouble.

Cuplikan itu saya dapat disini. Sudah sebulanan ini saya sibuk mencari informasi kenapa anak saya tersayang itu jadi doyan bikin saya dan Papap darah tinggi. Bahkan Papap sekarang punya kebiasaan baru yaitu membaca buku-buku parenting milik saya saking dia sudah kehabisan akal. Kalau ada satu hal yang merupakan hikmah dari peristiwa ini, mungkin hanya soal Papap yang sampai mau baca buku itu demi membuat Hikari tobat…

Sudah seminggu ini alergi Hikari kumat dalam bentuk rash di kulit tangan, telapak tangan, kulit kaki, dan telapak kaki. Awalnya dia didiagnosa dengan Flu Singapur. Tapi kemudian diagnosa itu berganti menjadi alergi. Maka dimulailah serentetan pelarangan untuk Hikari, yang dimulai dengan karantina dirinya di rumah selama seminggu. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah lagi sambil membawa daftar tidak-bolehs untuk gurunya. Tidak lupa saya dan Papap mengulang-ulang daftar tidak-bolehs itu untuk dihapal Hikari.

Tidak boleh makan ini, itu, ini, itu.
Tidak boleh main dengan binatang, terutama kucing.
Tidak boleh nyemplung ke kolam ikan.
Tidak boleh ngubek-ngubek akuarium.
Tidak boleh masuk ke sawah.

Pulang sekolah, saya minta dia bercerita apa yang dia lakukan hari ini. Kalimat pertama adalah…
“Ikan di akuriumnya mati, jadi aku ambil. Tadinya aku mau kubur di tanah di dekat green garden, tapi aku lihat ada kucing kecil kelaparan. Aku panggil-panggil kucingnya, eh, dia tidak mau datang. Kayaknya dia lapar sekali deh, jadi tidak bisa jalan. Jadi, aku angkat kucingnya ke tempat ikan. Terus ikannya aku kasih makan buat kucing…”

Saya menatapnya lama sekali dengan mulut dikatup erat-erat. Saya melihat dada Hikari turun naik. Matanya ditundukkan ke bawah sambil sesekali melirik saya.

Lalu, “memangnya kenapa, Ma?”

The Devil next to You

Do I agree if life sucks?

For some things happen in life, I say, “Yes, life indeed sucks.”

For most things in life, I will say No. And that is because I believe life indeed offers us, or me, so many great lessons to learn and be grateful about. And for that, I used to forgive people who gave me difficult times. I yelled, got mad, swore, grabbed his (not yet her) collar and threatened to hit his face, wrote about them in my blog, wrote about them in my novels, but seconds later I forgave them.

I used to. USED TO.

It’s been some time that I cannot let go my feelings of… dislike, distaste, disgust, mixed with antipathy, toward one person. And I hate to have those feelings. I hate to hate.

Dicari: model Ibu Kartini

Saya tidak tahu kapan persisnya peringatan ulang tahun Ibu Kartini berubah menjadi ajang peragaan busana. Saat saya SD, setiap tanggal 21 April, sejak kelas satu saya selalu berangkat sekolah dengan dipakaikan baju adat Jawa kebaya beludru hitam lengkap dengan sanggul model Solo. Sewaktu duduk di kelas 4, saya mendapat juara 2 lomba busana terbaik mengalahkan kakak-kakak kelas yang lain hanya dengan berdiri di lapangan upacara. Hadiahnya sapu tangan. Kelas 4 adalah kelas terakhir saya mau pakai kebaya ke sekolah pada hari Kartini. I had won anyway.

Tapi, banyak anak-anak SD dan para pegawai kantor lain tidak seberuntung saya. Sampai tua mereka tetap diharuskan pakai baju adat setiap tanggal 21 April. Saya sampai tidak tega naik transjakarta pada tanggal 21 April…

Kemarin itu saya lewat di depan sebuah mall di Cibubur. Ada poster besar bergambar Ibu Kartini lengkap dengan konde dan kebayanya di poster itu. Isi poster itu adalah ajakan untuk mendaftar acara fashion show dalam rangka Hari Kartini.

Saya bisa saja nyinyir bertanya apa hubungannya. Tapi bagi banyak orang lain, pertanyaan saya akan aneh. Bukankah selama lebih dari setengah abad negara ini menyamakan Hari Kartini dengan parade busana? Kalau sudah begitu saya beri acungan jempol untuk orang penting di jaman dulu yang sudah mengubah nilai Hari Kartini menjadi sekadar lomba busana tradisional.

Siapa sih dia?

Pahlawan Pajak? Tidak, terima kasih. -updated

Hari ini hati saya kemrungsung gara-gara sebuah sms yang datang di pagi hari dari petugas pajak. Saya disuruh datang lagi ke kantor pajak itu untuk yang kesekian kalinya. Eh, sorenya, di radio saya dengar berita tentang Pak SBY yang baru bayar pajak. Hati saya tambah kemrungsung.

“Wajib pajak yang berdisiplin dan memenuhi kewajibannya adalah pahlawan. Wajib pajak yang lalai mencederai dan mengkhianati rakyat,” ujar Presiden dalam pengarahannya dalam  Penyampaian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun pajak 2009 di Kantor Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Jakarta, Rabu (17/3).

Pak Presiden yang terhormat, mari saya ceritakan kenapa saya tidak mau jadi pahlawan pajak.

Awal 2009, saya membuat kartu NPWP baru. Atas kesadaran sendiri, saya melaporkan pajak tahun 2008 yang sebenarnya belum menjadi kewajiban saya karena saya baru punya kartu di awal 2009. Ternyata, dari hasil hitung-hitungan, pajak yang dipotong dari pendapatan saya berlebih. Tanpa punya pemikiran apa-apa, saya serahkan saja laporan pajak saya itu. Jujur saja semuanya.

Awal bulan November, saya ditelpon oleh seorang petugas pajak, Bapak A. Katanya beliau mau mengurus kelebihan pajak yang saya bayarkan. Bayangkan hati saya. Senang sekali. Ternyata, berdasarkan pendapatan saya dari menjadi guru dan dari menjadi penulis, saya bisa mendapatkan pengembalian pajak!

Continue reading

5 Years Blogging and I Gave Myself A Gift. Sort Of.

Blogging, continously, for 5 years is… exhausting.

Yes, it is exhausting. Imagine what a 5-year old blogger has to do in 5 years: squeeze the brain to get some decent ideas to post, or just stare at the monitor in an attempt to get ideas, make time to type the ideas down although it means it’s 2 o’clock in the morning, edit and re-edit the writing although after twice typing it you won’t care if there are misspelled words, eventually post the writing, wait for the readers’ comments, get butterflies in the stomach for having read the comments, reply the comments with butterflies still in the stomach… Those things, a blogger does in 5 years!

Then, what keeps me going blogging for 5 years? Besides the Nokia E71 I got for being the second winner in Pesta Blogger 2009, my answer would be… A LOT! First, I got a lot of friends in my 5-year blogging. Many of them become my virtual best friends! Then, I got a medium to vent my anger. Ha! I could say whatever I want and how I want it to. Next, I got skills, writing skills. The comments I got become my standard of knowing whether my writing skills are improving, or not. Trust me, I have a lot of more blahs to write about this.

This year, I think it’s about time I reach further, although it only means moving from my mariskova.blogspot.com to this mariskova.com. The moving gives me a sense of responsibility: I have to keep writing because now I am paying for this thing! Haha!

What does the how many years blogging mean to you?