Biarin aja lah

Saya sedang makan malam bareng beberapa teman asing di sebuah resto di Makassar ketika saya dengar seorang tersangka korupsi kelas wahid menang pra-peradilan di Jakarta. Saya cek twitter dan…yup…it’s there. Sontak semua keriaan saya di makan malam itu langsung menguap. Rupanya perubahan air muka saya terbaca jelas oleh teman-teman, entah bagaimana. “Everything OK, D?”
Continue reading

Menjadi Yogi #1

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

MENDADAK YOGA

Awal tahun lalu dokter syaraf saya yang baik dan kadang lucu memberi ultimatum kepada saya untuk menyerahkan diri melakukan MRI. Setelah sekitar setahun saya rutin bertemu dia sebulan sekali untuk mengadukan migren yang makin membandel, Dokter S mencurigai migrain hormonal saya telah disusupi oleh kondisi lain yang membuat saya mengalami episode migrain lebih dari satu kali sebulan dan/atau lebih lama dari biasanya. Si dokter pun mulai menginterogasi.
Dokter S: “Kemarinan makan apa? Dicatat enggak?”
Saya: “Biasa, Dok. Rendang Padang, bebek sambal ijo, iga tepung penyet…”
Dokter S: “……….kan. Saya jadi laper….”
Continue reading

Semua Suka Sinetron

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on


Jam makan siang di resto padang ngetop di dekat rumah ketika kami ditunjukkan tempat duduk sofa nyaman yang anehnya kosong sementara meja lain terisi. Begitu duduk, kami langsung celingukan karena tumben-tumbenan tidak ada pelayan yang biasanya segera menghampiri. Di sekitar kami, para pelayan yang semua laki-laki tampak bergerak dalam slow motion. Apakah jam makan siang masih berpengaruh pada para pelayan restoran? Haha…

Akhirnya piring demi piring disajikan di depan kami, tapi saya masih merasakan slow motionnya para pelayan dan sepertinya bukan karena pengaruh jam makan siang. Daging rendang, sambal cabai ijo, paru goreng, dan nasi panas mengepul lebih menarik minat saya untuk mengeksplorasi dibanding mencari tahu kenapa para uda-uda ini seakan berada di alam yang berbeda. Iya saya emang sering aneh gitu nyari tahu yang enggak penting-penting 😀 .
Continue reading

Generasi yang Relevan

The road to the light is lonely.
Beberapa tahun belakangan ini setiap kali silaturahmi acara keluarga macam lebaran, saya menyadari betapa konyolnya saya karena masih sering terkaget-kaget mendapati para pakde, bude, om, dan tante seakan terlihat menua dengan drastis setiap kali bertemu.
“Ya eloooo munculnya sekali tiap beberapa purnama. Jelas aja pada keliatan makin tua!”
Begitu saya disemprot adik si Mami yang hampir seumur saya. Bisa jadi begitu karena saya memang termasuk yang jarang kumpul dengan berbagai alasan males. Kesalahan saya -saya pikir- adalah tanpa sengaja saya menghentikan waktu di saat saya berumur dua puluhan tahun sehingga yang saya ingat adalah wajah, tingkah laku, kebiasaan, sampai cara pandang para kerabat yang lebih tua di jaman saya baru lulus kuliah itu. I just froze them in that moment.
Continue reading

Capacity Building Penting. Buat Lo.

Beberapa bulan ini kantor saya punya program pelatihan Capacity Building untuk karyawannya yang jumlahnya enggak seberapa itu. Tujuan CB kantor saya ini standard lah seperti organisasi lain. Penyegaran. Pencerahan. Pengembangan kapasitas karyawan. Team building. Biar rame.

Pertemuan pertama -yang bahkan bukan sesi pertama- sudah kacau karena kami tidak kunjung menyepakati jadwal sesi pertama. Lah bagaimana mau menyepakati jadwal kalau setiap tim di kantor punya jadwal beda-beda ? 🙁 Sebagai anggota tim yang jadwalnya lebih sering tidak di kantor dibanding ada di kantor, jidat saya sudah berkerut duluan yang berhadiah disemprot HRD. Saya curiganya sih dengan muka saya yang kayak gini, saya dianggap tidak berusaha mendukung kesuksesan program adiluhung kantor kami. Ya sudah. Saya mengalah untuk mencari apps untuk mengkloning diri saya saja.
Continue reading

Gemukan ya?

Dulu-dulu saya tidak pernah menyangka pada suatu hari di hidup saya akan datang momen-momen di mana orang yang bertemu saya akan berkata…
“Gemukan ya?” sambil senyum manis pasang muka lugu.
Atau, “Wuiiih gemuk lo ya sekarang!” dengan suara kencang di tengah-tengah supermarket yang lagu pengiringnya tiba-tiba mati.
Atau, “Ya Tuhaaan, kamu gemuknya sekaraaang!” Seakan-akan kiamat sudah dekat karena ukuran baju saya bertambah beberapa nomor dan karena itu Tuhan harus dikabari.
Atau, “Pangling deeeeh sekarang udah makmur ya!”
“Dompet makmur, maksudnya?”
“Bukan. Badanmu makmur.”
Continue reading

Bukber yang Mentok

Puasa Ramadan tahun ini sudah memasuki masa sepertiga terakhir. Udah dapat undangan Buka Bersama berapa banyak? 😀
Ada teman saya yang berteori jumlah undangan Bukber berbanding lurus dengan tingkat kepopuleran kita. Kalau teori ini benar, tingkat kepopuleran saya jelas nyungsep…

Sebenarnya saya bukannya enggak pernah diundang Bukber. Diundang Bukber sering, ngikutnya yang hampir enggak pernah. Dengan rumah berjarak antara Bumi dan Pluto, saya bakal sampai rumah tengah malam dan besok sebelum subuh sudah harus jalan lagi ke kantor. Mending kemping di restoran aja kan?

Hal lain yang bikin saya jarang berpartisipasi dalam pengejawantahan Bukber baik di grup teman-teman maupun grup keluarga adalah ini nih…

11 dari 10 undangan Bukber yang saya diundang juga berakhir di ‘Cocokin Jadwal’. Lingkaran saya enggak pernah utuh 😀 .
Continue reading

Kapan ada adiknya? Ketika Ortu Diajak Berhitung Gap Usia Anak

Awalnya gara-gara graduation performance Aiko yang membuat saya harus berinteraksi dengan orang tua lain secara intensif. Hmm…iya, saya modelan orang tua yang enggak pernah nongkrong di sekolah, jarang ikutan arisan emak-emak sekolah, jarang komen di group WA sekolah, dan enggak pernah main bareng emak-emak sekolah ke manaaa gitu. Biasanya sih saya menyalahkan pekerjaan. Lah abis arisan ortu diadakan di hari kerja, masa saya cuti ngantor hanya untuk arisan? Sebagai buruh 8-5 mendingan cuti ditabung buat Lebaran ya kan? Kan? Eniwei, gara-gara Aiko harus tampil di acara lulus-lulusan sekolahnya, saya jadi diikutkan ke grup WA emak-emak yang isi obrolannya, “Nanti yang jadi the Seven Dwarf beli kostumnya di mana?”
Continue reading