Tahun Sunyi

Tahun 2020 dan berapa banyak resolusi tahun baru yang tidak pernah terjadi.

Saya sudah tidak pernah lagi membuat resolusi demi kesehatan jiwa, tapi, saya membuat semacam retrospeksi terhadap tahun yang sudah dilalui. Rasanya berbeda dengan melihat resolusi yang tidak kejadian. Rasanya lebih seperti pencapaian karena berhasil keluar dari tahun itu hidup-hidup.

Dua tahun ke belakang, year 2018 is about losing things. 2018 terasa seperti sebuah pelajaran untuk merelakan hal-hal belum menjadi amanat saya untuk saya pegang, sedalam apa pun rasa peduli saya. 2018 terasa sangat menyakitkan dan menyedihkan. Tapi, di 2018 juga saya tahu bahwa saya tidak perlu menjadi adiktif dengan rasa sakit itu dan saya bisa keluar dari situ.
Continue reading

10+18

We are thousand kilometers apart today but you warmed my heart with your message for our anniversay.

The Familiar Tinge at Dawn

Short transit in Sydney before continuing to Brisbane. I couldn’t wait to see the tinge of morning colors above Sydney. First time I saw it a year ago, I was fascinated.

This visit is a bit different from last time. Still for work, but it feels somewhat heavier.
But smooth seas don’t make skillful sailors.

A Wish for Love – Editors’ Choice Collection

Bulan ini Gramedia Editors mencetak ulang novel-novel yang menjadi pilihan editor.
Betapa senangnya hati ini novel saya yang A Wish for Love masuk menjadi pilihan editor!

Selain menjadi Editors’ Choice, AWFL diberi baju baru. Love it!

Ebook-nya juga bisa dicari di sini.

Sebenarnya draft sekuel novel ini ada di laptop yang sedang saya pakai ngeblog sekarang ini niiiih. Tapi draft itu sudah 3? 4? 4.5 tahun? teronggok di folder…Maaaaafff….

Menjadi Yogi #10

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri β€˜Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

STILL HERE, MATE
Dua bulan persis sejak postingan yoga kesembilan di bulan Maret lalu. I’m still here, mate. Belum menyerah pada yoga. Mungkin malah yoganya yang hampir menyerah sama saya hihihihi…

Satu setengah tahun sejak saya ikut yoga dan saya belum juga jadi celebrity yoga. Boro-boro jadi seleb yoga. Punggung saya aja masih rounding dan belum bisa lurus selurus jalan pertobatan. SATU SETENGAH TAHUN guru yoga masih teriakin saya untuk “LURUSIN SPINE-NYA, MBAK DEEEE!” Kalau kalian merasa itu bukan suatu hal yang memalukan, mungkin sekali kali bisa nyobain dipanggil namanya belasan kali dalam jangka waktu 1 jam πŸ˜€ . Berasa anak kesayangan guru…

Guru-guru yoga saya baru akan menyerah neriakin bila saya sudah nyungslep di matras.
Continue reading

Kebun Binatang Ala Papap

Kalau kalian pernah main ke instagram saya, kalian mungkin pernah baca drama binatang peliharaan di rumah saya yang bisa tiga babak sendiri. Cerita tentang binatang peliharaan ini kadang dimulai dari strategi Papap untuk beli pet baru tanpa bilang sampai hilangnya si binatang yang membuat kami harus membuat pet rescue party πŸ™„ .

Saat saya menikah dengan Papap, Papap membawa serta kura-kura peliharaan yang dulu sebesar genggaman anak kecil tapi sekarang sudah sebesar kepalanya si anak kecil. Delapan belas tahun dan belasan pet drama kemudian, kami sudah memelihara: 3 kura-kura, 2 kelinci, 1 burung Kakatua Jambul Kuning, 1 burung Nuri, 1 bayi burung Hantu yang tiba-tiba muncul di pekarangan, sejumlah ikan berbagai jenis yang dramanya berjilid ngalahin sinetron, 4-5 Iguana (lupa berapa banyak yang kabur sekarang tinggal 2), 2 hedgehog punya tetangga yang dititip tapi disuruh pelihara (dan kami kembalikan dengan susah payah), kucing kampung mulai dari nenek-kakeknya sampai cicit yang sebenarnya tidak dirawat tapi sering nginep, 1 kucing Angora yang tiba-tiba muncul di rumah dan enggak mau pulang, ular yang tiba-tiba nongol di teras belakang tanpa permisi tapi kami suruh pulang lagi πŸ˜€ . Kalau belalang, capung, keong, ulat dan kupu-kupu yang sering nemplok di tanaman saya dihitung, nambah itu daftarnya.


Continue reading

Besok!

Seumur-umur enggak pernah saya ngeblog dengan tema pemilu. Enggak pernah. Seumur-umur juga, saya enggak pernah ngeblog ngomongin politik. Meh. Buat apa?
Hari ini beda. 2 menit menjelang tanggal 17 April saya merasa harus menulis ini. Menulis tentang kegelisahan saya yang akan dimulai 8 jam lagi. Oh shit, I’m scared.

This is a different kind of election. Entah karena saya sudah mulai tua jadi apa-apa dibawa baper. Entah karena di luar sana ya ampuuuuuun berisiknya luar biasa hanya karena persoalan pilih ini pilih inu. Entah karena hawanya yang…enggak gembira. Entah kenapa, saya merasa usai pemilu ini, bangsa ini membutuhkan upaya rekonsiliasi masif! Friends are divided. Family too. What are we as nation if not with friends and family?!

Baru kali ini dalam hidup saya sebagai seorang Indonesia, saya menginginkan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar moto kosong di kelas-kelas mata pelajaran Pancasila atau Kewarganegaraan.

Foto milik @piokharisma menyadarkan saya bahwa bisa mengibarkan bendera tanpa rasa takut butuh pengorbanan. Bismillah untuk 17 April 2019.

Dunning-Kruger Effect dan Nasihat Umar

Sumpah, saya malas ngobrolin politik, terutama suasana politik di negara ini menjelang Pilpres dan Pileg 17 April besok. Obrolan politik sekarang ini sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dan, terutama, harapan politik orang-orang, termasuk saya, bahkan sudah tidak lagi bisa mengikuti nasehat Pak Nelson Mandela. We are driven by fears.

Tidak perlu lah saya ceritakan di blog ini apa yang terjadi sekarang. Cukup google dengan kata kunci Pilpres 2019, semua akan terpampang jelas. Dari berita receh sampai berita penuh analisa. Di sosmed, tidak ada tempat untuk menarik napas. Twitter, Facebook, bahkan sampai Instagram dan apalagi Whatsapp group isinya hanya itu. Mungkin hanya Pinterest yang bisa jadi tempat pelepas lelah πŸ™ .
Continue reading