If Only We Know What We Want

I watched ‘A Little Chaos’ quite unpurposely. I was in my hotel room and couldn’t sleep even after a long day working out of town. I started to flipped on the TV channels and found Kate Winslet’s face on the screen. I’ve never heard about the movie before and I found out later the why πŸ˜› . It was the kind of movie that entertains you without you need to think hard. It’s not the kind of movie that haunts you -because of how good it is- after you finish watching it. It’s an easy movie with nice cinematic view of castles and fashion in 17th century French. The reason the movie sticks in my head apart from Kate Winslet’s performance is one quote that resonates well with me.

The movie was about Andre Le Notre, who designed the Champs-Γ‰lysΓ©es in Paris. In this movie, Andre, who is assigned by King Louis XIV to design the gardens of Versailles hires Sabine, a talented landscape designer. Sabine, who comes from low class, has to face class barrier and eventually falls in love with Andre. Told ya, it is a very simple and easy movie πŸ˜€ .

It is in this one scene when Andre is concerned with the King’s request for the garden. The request is unrealistic yet Andre has to make it happen. When Andre appears very disturbed with it, Andre’s staff said to him…

No man, however grand, knows what he wants ’til you give it to him.

…..and I was like…. πŸ™„ .
Is he talking about me?

No, not the grand one. It’s the ‘knows what he wants til somebody gives it to him‘ thing.

This past one year I’ve been struggling to see clearly what I really want with my life. Is it career? Is it more family time? Is it writing full time? Is it continuing my study? Is it more volunteering time? Is it being a full time mom? Is it not all of them? Honestly, I don’t quite know. It’s like I want everything fully. I want to dedicate my time for everything and everything in full capacity.

Although I’m a superwoman with a bright red robe on my back, I know that even that woman only has 24 hours a day reduced by 4-5 hours everyday for commuting, 5-6 hours for sleeping, 1-2 hours for long shower, and God only knows how many hours I spend for making sure the house is intact, the kids are happy, the work is done well, and my small unimpressive garden stays green. Sadly, my usual 24-hour has made me lose perspective of what I really want.

I have been so restless for a year or more and the movie makes me wonder if I need someone to map things out for me. Sometimes, for fun, I think of reading Tarot, or flipping a coin, or going to a fortune teller…besides, that’s exactly what the quote means.

Or, perhaps, perhaps, this feeling of being restless is because I don’t write as much as I want to? For all I know, writing keeps me in perspective, yet it is the thing that I neglect most.

End of year 2016. Hope in the 2017 my troubled mind is less troubled. And I hope I’ll write again for real.

Bring It On said Carrie Fisher

Carrie Fisher meninggal dunia ketika film Star Wars Rouge One sedang hangat diputar saat ini. Kemungkinan orang-orang di Indonesia mengenal dia hanya sebagai Princess Leia yang legendaris di film-film Star Wars. Kemungkinan besar juga orang-orang di Indonesia tidak pernah tahu bila dia juga dikenang di dunia sebagai Mental Health Advocate karena keberaniannya berbicara terbuka tentang kondisi dirinya yang mengalami bipolar disorder. Kemungkinan yang lebih besar lagi orang-orang di Indonesia juga tidak akan tahu apa itu bipolar disorder bila mereka tidak mengikuti drama Marshanda πŸ˜€ .
Kemarin itu saya sedang latihan jari di twitter ketika twit seorang teman membuat saya berhenti dan membaca dengan khidmat.

Saya merespon twit teman itu dengan…

…karena di mari, mental health dianggap hanya drama si penderita yg bisa diobati dng banyak doa dan banyak bersyukur.

Membaca twit itu membuat saya terlempar ke masa-masa ketika crying for help ke orang lain karena menderita depresi dianggap upaya mencari perhatian. Masa-masa ketika berbicara terbuka mengenai penyakit mental akan menyebabkan pupil mata lawan bicara akan mengecil seakan-akan beberapa detik kemudian saya akan lompat ke atas meja lalu menari di sana.

Saya pernah menulis tentang depresi yang saya alami akibat Post Partum Depression di sini. Saya menulis respon orang-orang bila diceritakan tentang depresi saya.

Kenapa situ tidak terapi? Apa mungkin situ kurang sholeh berdoa? Atau mungkin situ terlalu dramatis, semua-mua dipikirin? Dunia akan sangat damai apabila semua masalah manusia bisa selesai dengan pergi terapi dan berdoa sepanjang malam.

Di negara ini -karena saya tidak pernah mencarinya di negara lain- mencari seraut wajah penuh empati yang mendengarkan cerita kelelahan kita karena didera depresi, atau bipolar, atau sakit mental, sama susahnya dengan mencari pendengar yang tidak punya ambisi untuk menceramahi atau sama susahnya seperti mencari dada bidang untuk bersandar. Mungkin masyarakat ini memang belum teredukasi tentang mental illness atau penyakit mental. Mungkin juga masyarakat ini memang selalu dalam kondisi penyangkalan. Karena itu, berbicara tentang diri sendiri yang mengalami kemunduran kesehatan mental hanya akan berarti bunuh diri, baik secara hubungan sosial maupun dalam arti sebenarnya. Tapi, mau sampai kapan kita begini? Mau sampai kapan orang-orang baik di luar sana yang menderita depresi, bipolar, sakit mental lainnya akan dibiarkan tanpa pertolongan?

Mengenang Carrie Fisher buat saya mengenang arti keberanian. Keberanian mengakui kondisi diri sendiri. Keberanian mengakui diri ini butuh pertolongan. Keberanian membuka kondisi dirinya kepada orang lain. Keberanian melawan stigma yang ditempelkan orang lain. Keberanian membawa pesan penderita lain dalam perjuangannya. Dan terutama, keberanian menatap penyakit ini sambil berkata, “Bring it on!”

Masyarakat ini perlu seorang Carrie Fisher.

A gift from a good friend to remind me that everything will be OK if I decide so. #giftforlifetime

A photo posted by dmariskova (@dmariskova) on

Yang si Mami akan Katakan

Tanggal 22 Desember seperti tahun-tahun sebelumnya seharian penuh linimasa baik di Fesbuk maupun di Twitter, dan bahkan di Instagram, berisi foto dan daftar masakan favorit anak-anak Endonesia. Bagaimana dengan Fesbuk dan Twitter kalian? Setelah sempat menuliskan fenomena ini di sini, tahun ini sebenarnya saya berharap ada yang cerita-cerita berbeda dalam merayakan Hari Ibu. Cerita-cerita yang bisa membuat saya ikut terkekeh membaca betapa miripnya peristiwa itu dengan yang saya alami. Mungkin saya masih belum bisa move on dari sindrom kenangan masa anak-anak yang tidak pernah berkaitan dengan masakan si Mami πŸ˜€ .

Iseng, saya mencoba mencari-cari di linimasa cerita-cerita tentang momen berkesan saat kecil dulu bersama ibu yang tidak berhubungan dengan makanan dan memasak. Menjahit, mungkin? Berkebun? Duh, semuanya domestik ya πŸ˜› . Atau cerita tentang keahlian tertentu yang diajarkan ibu selain memasak? Berkelahi? Kalau itu sih saya.

Sampai kemudian saya melihat video ini di Fesbuk dan ngakak sejadi-jadinya.

I can relate to the story about Asian parents. Well, I’m the Asian parent who educates my kids using the power of raised eyebrows! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .

Waktu kecil, si Mami dan Kumendan jarang berpanjang lebar memberikan penjelasan kenapa saya dan adik-adik saya tidak boleh melakukan sesuatu dalam kategori berbahaya atau membawa masalah di kemudian hari. Saya ingat si Mami paling kesal setiap kali saya memilih untuk tidur, dibanding makan, apabila sudah teramat capek. Dengan kegiatan ekskul yang melebihi jadwal kerja dan kegiatan bergaul si Mami, saya seringkali pulang dengan badan capek dan cuma pengin tidur. Kalau sudah begitu, si Mami akan menegur sekali supaya saya makan. Teguran yang tentu saja saya abaikan. Teguran kedua akan dilakukan si Mami dengan kalimat yang berbeda, “enggak mau makan? Tanggung sendiri kalau sakit ya.”

Dan tentu saya sakit setelahnya….
Dan menurut lo cerita Malin Kundang hanya fiksi?!

Si Mami bukan jenis orang yang akan bilang ‘I told you so’ setiap kali saya sudah merasakan nikmatnya mengabaikan teguran si Mami. Dia hanya akan memandang saya datar dengan wajah yang di mata saya sudah berubah jadi running text di TV berisi daftar sebab akibat dan apa yang harus saya lakukan sendiri sebagai konsekuensinya. Sebagai hasilnya, saya mengerti bahwa anak-anak perlu diajarkan sebab akibat dengan merasakan akibatnya sendiri hahaha… Otak saya sampai sekarang terlatih untuk mengukur sebab dan akibat. Saya sebal luar biasa setiap kali saya dengar kalimat sakti si Mami itu.

Ketika saya punya anak, tanpa sadar dan tanpa diinginkan, saya ternyata menggunakan dan memodifikasi cara si Mami mengajarkan sebab akibat. Suatu kali, saya pulang ke rumah dan mendapati si Mami laporan tentang Hikari yang habis ditegur gurunya karena tertidur di kelas. Belum sempat saya komentar apapun, Hikari sudah bersuara.
“Iya, aku salah. Mamam udah ingetin semalam tapi aku keterusan baca buku jadi tidurnya terlambat.”
Sya kontan ingat kalimat saya semalam.
“Mamam sudah ingatkan loh ya. Kalau besok mengantuk di sekolah, kamu tanggung sendiri akibatnya!”

Tiba-tiba saya terlempar ke masa kecil saya saat si Mami mengucapkan hal yang sama kepada saya.
Apparently, sooner or later, we will all quote our mother.

Selamat Hari Ibu, Mam!

Kaca pada Matamu

Okay, saya mau buat pengakuan dosa.

Duluuu sekali, jaman saya masih muda banget, saya diam-diam mendambakan bisa memakai kacamata. Bisa, maksud saya bukan sekadar memakai, tapi benar-benar perlu memakai kacamata. Sakit jiwa, memang. Alasan saya waktu itu cuma satu: pengin kelihatan keren dengan gonta-ganti kacamata menyesuaikan color mood saya hari itu. Saya baru tahu kemudian frame kacamata keren mahalnya luar biasa dan gonta-ganti kacamata setiap kali mood saya berubah tidak hanya membuat saya bangkrut tapi juga bisa membuat saya harus bangun sebelum subuh supaya punya waktu untuk memilih kacamata sebelum berangkat ngantor πŸ™„ .

Pertama kali saya pakai kacamata di usia 30an sekarang kan masih 22 karena saya merasa mata saya sudah susah fokus tiap menulis di komputer atau membaca. Dengan girang, saya pun pergi ke dokter mata. Sialnya si dokter mata tidak percaya mata saya bermasalah karena menurut dia saya hanya kelelahan 😐 . Kata teman saya, kalau kelelahan, lebih baik ke spa daripada ke dokter mata. Saya tidak menyerah. Pergi lah saya ke optik. Hasilnya? Optician di optik bilang mata saya minus πŸ™ . Enggak, saya bilang mata saya plus. Saya susah baca jarak dekat dan kerja di komputer. Si optician cek mata saya lagi.
“Minus, Mbak.”
“Saya bisa melihat jauh dengan sempurna, kok.”
“Tapi Mbaknya masih muda. Enggak mungkin plus!”
Lah? Padahal mesin cek mata itu enggak ada aplikasi ngecek umur kayaknya πŸ™„ .

Singkat cerita, berdasarkan angka-angka dari ‘mesin mata’ itu saya pulang dengan membawa kacamata lensa minus.
Saya langsung stress. Keluar dari optik itu saya baru sadar bikin kacamata itu mahal. Apalo?! Apalo?!

Kacamata lensa minus itu enggak lama saya pakai. Kalau diingat-ingat, mungkin malah hampir tidak pernah saya pakai. Dan, saya baik-baik saja. Beberapa tahun kemudian baru lah saya berhasil mendapatkan stempel dokter mata bahwa mata saya plus dan harus pakai lensa progresif. Dasar manusia tempatnya galau, setelah benar-benar butuh pakai kacamata, plus pula, saya malah enggak pernah pakai. Bila sedang kerja di laptop, laptopnya saya mundur-mundurkan supaya kelihatan. Saat baca buku, bukunya saya putar-putar untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Saat main hape, fontnya saya gedein 😎 . Saya punya teori pembiasaan untuk mata saya. Mungkiiiiiiin, mungkin, kalau saya biasakan mata saya membaca tanpa kacamata plus itu, mata saya akan terbiasa, enggak manja, dan normal lagi πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .

Berbulan-bulan setelah itu, saya menyerah dan mulai rutin pakai kacamata saya. Saya kapok. Alasannya sederhana. Pada suatu hari, saya sedang makan rawon, dan saya salah mengidentifikasi sesuatu di mangkok saya itu. Saya pikir bumbu rawon….ternyata semut.

Saya insyap.

Sekarang, setiap tahun ukuran lensa saya berubah terus. Minus saya berkurang, plus saya bertambah.
Seandainya ukuran minus-berkurang-plus-bertambah itu mendeskripsikan kelakuan saya, ibu saya pasti sujud syukur.

Oranje Hotel di Surabaya

Akhir Oktober lalu, saya dapat jatah work trip ke Surabaya. Ini pertama kalinya rute work trip ke kota ini karena biasanya work trip saya malah jauh ke bagian timur sana.

Karena kantor jarang banget punya kegiatan di Surabaya, kami tidak punya hotel langganan di kota ini yang akhirnya membuat kami melongok-longok ke sana ke mari untuk mencari referensi. Sampai akhirnya teman saya yang kekuasaannya meliputi pemilihan hotel, menjembrengkan daftar hotel.
“Yang ini mahal. Bujet lo nggak masuk.”
“Yang ini penuh.”
“Yang ini servisnya jelek.”
“Yang ini marketingnya ngeselin.”
“Yang ini bintang 5, bagus tempatnya, ruang meetingnya sesuai kemauan elo, servisnya bagus, masuk bujet lo…”
Perasaan saya langsung enggak enak.
“Tapi?” tanya saya.
“Tapi kata orang-orang berhantu.”
πŸ™„
Ada yang tahu hotel yang dimaksud?

Enggak pakai lama kemudian, saya langsung minta booking di hotel itu. Bukan, saya bukan seorang pemberani, apalagi sok skeptis. Waktu itu, di kepala saya, kebersihan ruangan dan pelayanan bagus adalah dua kunci utama keberhasilan acara. Soal tempat berhantu, buat orang Indonesia mana ada tempat yang enggak berhantu? Sampai bos saya pernah komentar, “What is it with Indonesians and ghosts?” Saya sudah sumpahi dia ketemu satu aja, biar kapok. Singkat cerita, teman saya akhirnya setuju untuk menginapkan saya dan rombongan di Hotel Majapahit yang awalnya bernama Hotel Oranje. Hotel yang dibangun tahun 1910an dan sudah berganti nama beberapa kali itu terlalu bagus untuk dilewatkan, apalagi dengan komentar soal servisnya yang mumpuni. *halah*

majapahit-side-gardenDalam kondisi capek karena pesawat seperti biasa delay saya tiba juga di hotel hampir tengah malam dan langsung dilayani dengan sangat baik oleh petugas. Saya diantar ke wing kiri lantai dua yang kamarnya persiiiiiis menghadap pohon guede banget. Pak Porter yang membawakan koper saya mendahului saya membuka pintu kamar dan masuk ke dalam untuk menyalakan lampu-lampu. Saya ada di mana? Saya ada di luar kamar memandangi kamar hotel yang bergaya kuno itu dengan perasaan…Saya boleh tidur di sofa lobi aja, plis? πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

Saya belum pernah lihat kamar hotel semewah itu. Grandeur, lebih tepatnya. Dan ini saya bukan ngomongin tipe kamar. Hotel kolonial Savoy Homman di Bandung atau Sanur Beach di Bali pun tidak bisa menyamai aura hotel Majapahit. Ruang kamarnya yang terbagi tiga bagian: ruang duduk, ruang tidur, dan kamar mandi, benar-benar juara banget. Saya sampai khusus motret kamar mandinya buat teman saya yang histeris waktu tahu saya menginap di situ :D. Tapi, jujur aja, malam itu saya beneran enggak bisa tidur saking auranya terlalu keras buat saya. πŸ˜•

Yang lucu, begitu saya mengabarkan kepada dunia tempat saya menginap, timeline saya di instagram dan fesbuk langsung berubah jadi cerita horor. Ceritanya soal apa, silahkan cari sendiri, yak. Yang pasti, teman-teman saya setiap hari nagih cerita saya sedang apa demi melihat apakah saya masih hidup dan waras hahahahaha….. Baru kali ini linimasa saya aktif banget. Biasanya kalau saya work trip ke mana, mereka cuma komen ‘ikuuuuut’ :p .

Majestic. Just majestic. #travel #work

A photo posted by dmariskova (@dmariskova) on

Di luar bonus cerita ini itu dari teman-teman, saya bahagia karena bisa dapat obyek foto yang luar biasa kerennya. Selain itu sejarah dan cerita bangunan ini membuat saya merasa beruntung bisa merasakan tinggal di sini. Kalau kata teman saya, “kali aja Bung Tomo datengin elu terus diajak naik mobilnya keliling Surabaya.” πŸ˜• Saya pilih bawa mobilnya sendiri aja deh. Mumpung mobilnya nangkring di lobi hotel.

Di luar mewahnya arsitektur hotel, yang bikin saya cinta sama hotel ini adalah tamannya. Empat jempol untuk tukang kebunnya. Sayangnya, ikon pohon besar di taman hotel sudah tidak ada karena kata petugasnya pohon itu tumbang dimakan rayap beberapa waktu lalu. Cedih.

Come and have a seat. #travel #work #oldbuilding

A photo posted by dmariskova (@dmariskova) on

Rubuhnya si Pohon Legendaris

Pohon Kantil Rubuh 3Hari ini drama saya bukan soal 212. Saat acara di Monas itu berlangsung saya sedang buka laptop bekerja giat…di rumah. Menjelang jam 12 siang, langit yang sedari pagi sudah mendung, mulai mengambil keputusan untuk melepas hujan. Tanpa malu-malu, tidak pakai preambule, hujan tiba-tiba mengajak angin besar dan hujan badai pun menerjang.

Kebetulan, rumah saya yang dikelilingi halaman mungil dipenuhi banyak pohon. Jangan, jangan bayangkan halaman rumah saya bertaman cantik hasil kerja keras tukang kebun. Yang bisa dibanggakan dari halaman rumah saya ya cuma banyak pohonnya. Posisi pohon atau kondisi pepohonan jangan ditanya. Pohon Kantil Rubuh 4Yang punya kebun belum sempat berkebun -alasan yang sudah saya kemukakan sejak seratus tahun lalu. Nah, bila hujan, dan besar, pepohonan di rumah saya seperti ikutan tantrum. Mungkin kedinginan. Batang Plumeria joget ke kanan kiri dan daun-daunnya bakal bikin tukang sapu mogok kerja besok pagi. Belum Pohon Mangga yang mati segan berbuah enggak mau juga ikut melambai histeris ke sana kemari. Pohon-pohon kecil lainnya macam Melati yang rimbunnya mirip rambut Hikari yang ogah dipangkas, atau pohon Batavia yang batang-batangnya enggak pernah mau diatur cuma bisa pasrah ditiup angin besar plus hujan lebat. Ketika hujan badai kemarin baru mulai mengacak-acak taman, tiba-tiba ada bunyi sesuatu ambruk keras banget yang diikuti dengan jeritan si Mbak, asisten rumah tangga saya.

Pohon Campaka alias Kantil milik tetangga sebelah rumah rubuh.

Saya pernah cerita soal Kantil ini di sini.
Pohon Kantil Rubuh 2Lah ya iya tho? Saya kan jadi repot enggak bisa keluar rumah dan harus panggil tukang untuk menggeser batang pohon itu! Tapi si Mbak lebih kuatir soal para bidadari Ketika pohon setinggi kira-kira 3 meteran itu tertiup angin kencang dan terguyur hujan deras, pohon itu kok ya milih ambruk ke kanan. Ke carport rumah saya. Persiiiiiis, di pintu pagar, di belakang mobil saya. Untungnya *halah untung* mobil saya sudah nangkring manis di dalam, padahal biasanya saya sering parkir di carport luar supaya nggak ribet keluar masuk mobil.

Melihat Pohon Kantil rubuh ke arah rumah kami, si Mbak jejeritan. Dia pikir rubuhnya si pohon pertanda buruk. yang bermukin di pohon tersebut akan kehilangan rumah mereka dan kemudian memilih untuk….pindah rumah ke halaman kami yang penuh pohon.
“Kita kan pohonnya banyak, Bu. Kalau mereka satu per satu pilih pohon-pohon itu? Hiiiii….”
Lumayan juga sebenarnya sih buat bahan minta wangsit…

Kebetulan siang itu, rumah tetangga saya kosong. Pohon KantilKami pun akhirnya menunggu si pemilik pohon aka pemilik rumah datang sebelum mengurus pohon yang rubuh. Lagipula hujan lebat masih heboh di luar sana. Sementara saya iseng foto-foto si pohon, si Mbak malah sibuk telpon teman-temannya untuk mencari tahu apakah kami perlu mengadakan semacam upacara untuk si pohon. πŸ™„

Sampai sore, si pemilik rumah tidak kunjung datang. Untungnya *untung lagi* mas-mas satpam baik hati yang sedang patroli mampir dan menawarkan membersihkan si pohon dengan diiringi rewelnya si Mbak.
“Maaas, hati-hati loh! Ini pohon Kantil!”
“Oh, Kantil ya, Mbak?” Datar gitu.
“Iya. Harus diapain ya?”
“Ditebang, Mbak. Ada golok?”
Cakep. πŸ˜€

Bunga KantilSementara itu, berbekal payung, saya dapat bunga Kantil dua genggam penuh.
“BUUUU, KOK BUNGANYA DIPETIKIN?” Si Mbak mulai panik. Dia curiga saya mau bawa ke rumah. Emang iya sih hehe…
Sejak kemarin siang, rumah saya pun harum semerbak bunga Kantil.

Ada yang mau beli buat pesugihan?

Bekerja, di mana saja

Padma-Campaqa roomSudah beberapa bulan ini hidup saya sebagi penglaju menjadi lebih bervariasi. Kalau biasanya saya hanya menjadi penglaju antara Cibubur, Bekasi coret ke Kuningan, Jakarta, beberapa bulan ini rute bertambah menjadi Cibubur ke Bandung. Kadang Cibubur ke Kuningan lalu ke Bandung.

IMG_6660Saya ke Bandung untuk kerja. Iya, kerja. Buka laptop, baca inbox email yang gerakannya mirip running text vertikal, balas email, ketik ini itu, terima sms, terima telpon, terima WA, terima office messenger, diskusi dengan bos…and my list goes on and on. Semua yang saya lakukan di kantor di Jakarta sana, ya saya lakukan di Bandung, plus tambahan kerja lainnya yang tidak perlu saya kerjakan di Jakarta. Di Bandung, saya harus jadi manusia koper, kalau istilahnya Pakdhe Mbilung. Tinggal di ruangan 3×4 meter. Makan-makanan hotel 3x sehari ditambah snack dan kopi 2x sehari yang tentu full gula, garam, dan kolesterol. Walau fitness center dan kolam renang terjangkau dalam hitungan langkah kaki dan pencetan lift, saya jarang bisa mengunjungi mereka saking kegiatan saya dimulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore.
Continue reading

Ketika si Apel Rusak

Dari dulu saya suka tampilan mobil Eropa, terutama yang merknya 3 huruf itu. Kesannya slick aja. Keren. Jenis yang saya suka pun bukan hanya yang baru tapi juga yang lama-lama. Saya tidak terlalu peduli (dan mengerti, garis miring, pertebal, kasih garis bawah) tentang teknologinya, tentang seri mana lebih canggih, tentang bodi mobil yang lebih aerodinamis, dan sebagainya. Saya mah cetek aja. Suka mobil Eropa karena tampilannya.

Pertama kali Papap beli mobil (bekas) juga mobil Eropa. Ini lebih ke menyenangkan hati istri yang habis melahirkan sebenarnya. Padahal sebelumnya Papap selalu bilang ke saya kalau mobil-mobil Eropa itu onderdilnya mahal, perawatannya mahal, harganya mahal… Ya makanya tampilannya berkesan mahal πŸ˜† . Papap selalu bilang, “nanti cuma mampu beli mobilnya tapi gak mampu ngerawatnya.”

Dan seperti itu lah hubungan saya dengan apel-apel gadget milik saya πŸ˜€ .
Continue reading