Sebelum Kita ber-Wild Wild West

Sudah pernah ke atraksi Cowboy Wild Wild West di Taman Safari Indonesia Cisarua?

Saya baru sekali. Kemarin. Hari Minggu itu sudah beranjak agak sore saat Papap membujuk kami -saya, Hikari, baby Aiko, adik saya, dan si mbak- untuk bertahan sebentar lagi di Taman Safari demi menonton pertunjukan Wild Wild West. Kami semua sudah begitu capek dan ide untuk menonton atraksi semacam sirkus dengan tema koboi yang diperankan oleh orang Indonesia agak kurang menarik buat saya dan rombongan. Tapi kegigihan Papap dalam membujuk dan memelas memang akhirnya menang. “Kata temanku bagus banget loh, Mam.” adalah kalimat iklan si Papap. Baiklaaaaah. Kami pun berhasil digiring menuju arena besar dengan bangku-bangku panjang berwarna hijau oleh si Papap mengikuti arus ratusan orang lainnya yang berjalan kesana. Continue reading

Trust Only Yourself

Saya dan Hikari sedang menunggu pesanan makan siang kami datang ketika saya dan puluhan orang lain yang sedang bersantai di kolam renang sebuah Family Park dekat rumah mendengar jeritan histeris seorang ibu. Ibu yang baju renangnya masih basah kuyup itu menjerit-jerit di pinggir kolam meminta tolong dengan kepanikan luar biasa. Jarak saya dan ibu itu sekitar 10 meter dibatasi oleh pembatas kaca antara restoran dan pelataran kolam renang. Si ibu menunjuk-nunjuk ke dalam kolam renang dengan histeris.

Dari dalam kolam renang, seorang bapak muncul menggendong sosok anak perempuan kecil yang sudah terkulai layu. Layu tidak bergerak dengan posisi wajah menghadap ke bawah. Sontak orang-orang bergegas mendekati si ibu yang semakin histeris berteriak minta tolong dan anaknya yang tidak bergerak. Di restoran terbuka tempat saya duduk hanya ada satu keluarga lain yang sama syoknya dengan saya. Spontan saya berteriak, “Satpam! Mana satpam? Petugasnya mana? Mana?” Yang saya temukan hanya wajah-wajah bengong beberapa petugas restoran perempuan. Saya hardik seorang petugas perempuan yang memegang HT. “PETUGASNYA MANA?! PANGGIL PETUGASNYA KESINI!”

Anda tahu apa jawabnya, “Gak ada petugasnya, Bu.” Continue reading

Anak Perempuan Tercinta

Seorang anak yang dilahirkan ke dunia mempunyai arti lebih dari sekadar memberikan dunia satu manusia baru. Seorang anak yang dilahirkan ke dunia juga berarti sebuah kehidupan baru yang akan menyentuh ratusan, ribuan, jutaan, trilyunan kehidupan lainnya.

Dengan kepercayaan seperti itu, melahirkan seorang anak ke dunia adalah suatu tanggung jawab luar biasa bagi orang tua. Orang tua harus bisa membuat satu kehidupan baru ini menyentuh kehidupan lain dengan cahaya, dengan kebaikan, dengan cinta, dengan inspirasi… Kelahiran satu kehidupan baru ini harus bisa menjadi rahmat bagi kehidupan-kehidupan lain di sekitarnya.

Alhamdulillah, Aiko Anadia Hardian telah lahir pada hari Kamis, 16 Juni 2011 jam 23:07. Dengan ijin Allah, kami akan berusaha membesarkannya menjadi manusia yang bisa menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Amin.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kalau sayang, panggil aku…

Tante saya yang paling bungsu itu cuma bisa meringis lebar. Suara ha-ha-ha yang keluar dari mulutnya bukan suara tawa senang. Kontras dengan suara tawa terbahak-bahak orang-orang di ruang keluarga Eyang saya. Satu-satunya orang yang tidak tertawa -bahkan tidak mampu membuat garis tertawa di wajah- adalah saya. Oh, ada satu orang lagi yang tidak tertawa: sepupu kecil saya bernama Faiz yang baru berusia 3 tahun. Faiz sedang mengeluarkan suara kesal-marah-hampir menangis karena digoda oleh om-om dan tante-tante nya yang berjumlah lusinan. Beberapa menit setelahnya, suara tangis Faiz menggema ke seluruh ruangan. Dia berlari ke pelukan sang mama yang cuma bisa menggendongnya pergi.

Continue reading

Tanggung Jawab itu…

Sudah beberapa hari ini Hikari sakit batuk dan pilek. Agak berat sehingga dia harus istirahat di rumah karena dokter takut dia lama sembuh sekaligus takut dia menulari teman-temannya. Ketika saran dokter itu sampai di telinga Hikari, dia sontak protes. Tidak boleh ke sekolah? Tidak boleh main? Wajah Hikari langsung ditekuk seratus. Tapi saya dan Papa tetap acuh.

Setelah beberapa hari Hikari di rumah, teman-temannya sudah mulai gelisah. Seorang temannya yang biasa main dengan Hikari memaksa ingin main di rumah kami.

Pada ibunya, saya berkata jelas. “Hikari lagi batuk pilek parah. Mainnya nanti dulu ya. Nanti dia ikut ketularan. Kasihan kalau ketularan.”
Hikari buang muka yang tadinya sudah ditekuk, tapi dia tidak protes lagi.
Anak si ibu yang malah protes dengan ngedumel.
Si ibu tertawa enteng. “Aaaah, enggak pa-pa. Pilek batuk doang. Emang lagi musim kok. Gak apa-apa kok main aja.”

Waaaaat?!

Ngaku saja saya sebenarnya heran kenapa saya masih heran mendengar komentar si ibu. Sebenarnya ibu itu bukan pertama kali itu berkata begitu dan bukan pula orang pertama yang punya pandangan serupa.

Sewaktu beberapa bulan lalu Hikari terkena cacar, saya sempat konsultasi dengan gurunya di sekolah. Saya yakin benar Hikari tertular cacar dari sekolah. Waktu itu guru Hikari bilang di kelasnya -setidaknya- tidak ada anak yang cacar. Curiga? Tidak percaya? Ya, saya setengah tidak percaya, but, hey, positive thinking saya tahu ada 101 cara dan tempat Hikari bisa kena cacar selain di sekolah.

Karena cacar itu, Hikari hampir sebulan tidak sekolah. Dokternya mewanti-wanti supaya Hikari masuk sekolah ketika lukanya sudah mengering! Dokternya tidak ingin Hikari jadi penular cacar di sekolah, dan saya setuju.

Sewaktu saya mengantar Hikari ke sekolah setelah lama absen itu saya bertemu dengan ortu siswa lain. Si ibu menanyakan kenapa Hikari tidak sekolah.
“Oh cacar? Anak saya kena juga tuh. Si ini si itu si dia juga kena,” katanya enteng.
“Kapan?” Saya kaget setengah mati. Bukankah si guru bilang murid kelasnya tidak ada yang kena cacar.
“Ya kira-kira sebelum Hikari lah. Lagi musim.”
Kepala saya berputar-putar. Abis ini ada yang bakalan kena semprot saya nih!
“Anak saya itu gak betah banget kan. Jadi pas panasnya turun dan dia sudah bisa lari-lari, dia minta sekolah lagi.”
“Terus?” “Ya udah, saya masukin sekolah lagi. Daripada di rumah nyebelin banget.”
“Emang udah hilang bekasnya?”
“Ya belum. Yang penting demamnya sudah hilang.”
Jantung saya berhenti. “Gurunya tau?”
“Saya sih cuma bilang dia demam.”
“Tapi kan kalau lukanya baru kering itu masih nularin.” Saya protes.
“Enggak ah kayaknya. Mamanya si itu juga gitu. Si itu gak mau lama-lama di rumah jadi begitu demamnya turun ya masuk sekolah.”

Adegan di rumah saat saya nyumpah-nyumpah sebaiknya tidak saya ceritakan demi perdamaian dunia.
Damn! When will they realize that being responsible is not only for you and your family but most importantly for the people around you?!

Orang-orang yang punya pendapat di atas itu adalah orang-orang yang sama yang tahu kalau membuang ludah sembarangan itu jorok, batuk itu harus ditutupi mulutnya, flu Singapur itu menular, imunisasi itu harus dilakukan di umur sekian dan sekian, dan sebagainya.
Mereka juga orang yang sama yang mengendarai mobil bagus, berhape BB, langganan koneksi internet, liburan ke Bali atau malah Singapur tiap tahun.
Pendidikan dan strata sosial ternyata tidak menjamin tingkat tanggung jawab seseorang. Dan kenapa gitu saya sewot banget soal ini? Coba bayangkan kalau yang tertular penyakit itu adalah anak anda yang sudah setengah mati anda jaga kebersihan dan keamanannya. Coba bayangkan kalau penyakit itu bukan cuma sekadar batuk pilek…

Untung Kasih Ibu Sepanjang Badan

Every child is a unique individual.

Waktu-waktu belakangan, setiap kali menatap wajah Hikari, saya merasa kalimat itu sepertinya diciptakan untuk saya seorang. Hikari yang usianya sudah 7 tahun 9 bulan semakin hari semakin jadi ‘unik’ nya. Kalau dulu-dulu kelakuan uniknya masih bisa bikin saya ketawa-tawa meringis, sekarang kelakuannya bikin saya lebih banyak meringis daripada ketawanya.

Sejak dia duduk di kelas dua ini, Hikari tiba-tiba menjadi super aktif dan super keras kepala. Kalau dulu saat dia ketahuan melakukan sesuatu yang dilarang wajahnya hanya bisa pasang tampang polos dan langsung ngabur dari crime scene, sekarang lain lagi. Dia sekarang akan menghadapi siapapun orang yang melarangnya lalu mengeluarkan kalimat saktinya, “memangnya kenapa?”

“Hikariiiiiiiiiiiii, kenapa nyebur lagi ke kolam ikan?! Kamu sudah tiga kali ganti baju dalam setengah jam ini!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, ayo tidur siang dulu. Kamu baru sembuh jadi perlu istirahat dulu.”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa kadalnya dipasangin tali di lehernyaaaa????!!!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari! Colokan listrik bukan mainaannn! Aaarrggghhh!”
“Memangnya kenapa?”

“Hikari, kenapa hari ini Ibu Guru menulis kalau kamu dihukum lagi sewaktu sholat jamaah? Kamu melakukan apa?”
“Main.”
“Main?! Waktu sholat jamaah?”
“Memangnya kenapa?”
“Sholat bukan waktunya untuk main. Kamu tau kan?!”
“Iya. Tau.”
“Jadi, kenapa kamu mainan waktu sholat, Naaaaaak?”
“Memangnya kenapa?”

OH MY GOD! 

Jawaban-jawaban ‘memang kenapa’ dari mulut Hikari kadang disertai dengan isak tangis rasa bersalah atau takut karena saya melotot kejam padanya. Tetap saja keras kepalanya sukses bikin saya antara darah tinggi atau pingsan di tempat.

The seven year old has defiant moments. She wants to know why she has to do something. She may call her mother mean and run to her room to sulk but is less likely to physically strike her parent now.  If things don’t go her way when playing with friends she will quit and go play by herself. When she is disciplined she accepts it but is deeply disturbed by being in trouble.

Cuplikan itu saya dapat disini. Sudah sebulanan ini saya sibuk mencari informasi kenapa anak saya tersayang itu jadi doyan bikin saya dan Papap darah tinggi. Bahkan Papap sekarang punya kebiasaan baru yaitu membaca buku-buku parenting milik saya saking dia sudah kehabisan akal. Kalau ada satu hal yang merupakan hikmah dari peristiwa ini, mungkin hanya soal Papap yang sampai mau baca buku itu demi membuat Hikari tobat…

Sudah seminggu ini alergi Hikari kumat dalam bentuk rash di kulit tangan, telapak tangan, kulit kaki, dan telapak kaki. Awalnya dia didiagnosa dengan Flu Singapur. Tapi kemudian diagnosa itu berganti menjadi alergi. Maka dimulailah serentetan pelarangan untuk Hikari, yang dimulai dengan karantina dirinya di rumah selama seminggu. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah lagi sambil membawa daftar tidak-bolehs untuk gurunya. Tidak lupa saya dan Papap mengulang-ulang daftar tidak-bolehs itu untuk dihapal Hikari.

Tidak boleh makan ini, itu, ini, itu.
Tidak boleh main dengan binatang, terutama kucing.
Tidak boleh nyemplung ke kolam ikan.
Tidak boleh ngubek-ngubek akuarium.
Tidak boleh masuk ke sawah.

Pulang sekolah, saya minta dia bercerita apa yang dia lakukan hari ini. Kalimat pertama adalah…
“Ikan di akuriumnya mati, jadi aku ambil. Tadinya aku mau kubur di tanah di dekat green garden, tapi aku lihat ada kucing kecil kelaparan. Aku panggil-panggil kucingnya, eh, dia tidak mau datang. Kayaknya dia lapar sekali deh, jadi tidak bisa jalan. Jadi, aku angkat kucingnya ke tempat ikan. Terus ikannya aku kasih makan buat kucing…”

Saya menatapnya lama sekali dengan mulut dikatup erat-erat. Saya melihat dada Hikari turun naik. Matanya ditundukkan ke bawah sambil sesekali melirik saya.

Lalu, “memangnya kenapa, Ma?”

Sekolah dimana?

Mencari sekolah untuk anak-anak kita memang suatu perjuangan tersendiri bagi para orang tua. Itu juga yang saya alami satu tahun sebelum Hikari lulus TK. Ada beberapa hal yang saya hadapi dalam waktu yang bersamaan:
1. Keinginan saya akan sekolah yang saya pikir ideal atau mendekati ideal. Termasuk standar-standar yang saya tetapkan harus ada atau tidak boleh ada di sekolah tersebut.
2. Keinginan pasangan saya akan sekolah yang dia pikir ideal atau mendekati ideal. Termasuk standar-standar yang dia tetapkan harus ada atau tidak boleh ada di sekolah tersebut.
3. Keinginan para Eyang Hikari akan sekolah yang menurut mereka paling ideal.
4. Input, saran-saran dari kenalan-kenalan kami. Setiap orang juga mempunyai gambaran sekolah yang ideal mereka masing-masing, dan terkadang fanatik dengan saran mereka.
5. Literatur-literatur yang mengatur kami tentang sekolah mana yang ideal atau tidak.
Untungnya saya tidak lupa: Keinginan Hikari sendiri!

Setelah bertandang kesana kemari, membaca ini itu, mendengar saran sini situ, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada sekolah alam ini.

Continue reading