Dunning-Kruger Effect dan Nasihat Umar

Sumpah, saya malas ngobrolin politik, terutama suasana politik di negara ini menjelang Pilpres dan Pileg 17 April besok. Obrolan politik sekarang ini sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dan, terutama, harapan politik orang-orang, termasuk saya, bahkan sudah tidak lagi bisa mengikuti nasehat Pak Nelson Mandela. We are driven by fears.

Tidak perlu lah saya ceritakan di blog ini apa yang terjadi sekarang. Cukup google dengan kata kunci Pilpres 2019, semua akan terpampang jelas. Dari berita receh sampai berita penuh analisa. Di sosmed, tidak ada tempat untuk menarik napas. Twitter, Facebook, bahkan sampai Instagram dan apalagi Whatsapp group isinya hanya itu. Mungkin hanya Pinterest yang bisa jadi tempat pelepas lelah ๐Ÿ™ .
Continue reading

14 Years in Blogging

Maret 14 tahun lalu saya mulai ngeblog.

Alasan saya ngeblog waktu itu karena saya sering kirim email berisi kabar dan foto dari Jepang ke teman-teman di Indonesia yang jaringan internetnya masih pakai bunyi ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ . Teman-teman saya antara senang dapat email juga bete karena….lamaaaa buka email apalagi lampirannya hahaha!
Iya, waktu itu saya di Jepang jadi ibu RT yang kesibukan sehari-hari berkutat di antara waktu masak sampai nungguin anak dan suami pulang dari sekolah. Sementara itu, di apartemen kualitas internetnya ehgilakbanget kan. Sekali pencet langsung keluar tuh semua di monitor. Kemudian, teman saya menyarankan saya mulai ngeblog. Facebook belum ada atau belum ngetop saat itu. Blog pertama saya pakai gratisan (berdoa kenceng supaya enggak bangkrut trus tutup tuh layanan). Keterusan. Sampai sekarang. Walau tentu kualitas dan kuantitas berbanding terbalik dengan umur.
Continue reading

Menjadi Yogi #9

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

PENGAKUAN DOSA

Postingan pertama tentang Yoga di tahun 2019 malah ngomongin pengakuan dosa ๐Ÿ˜€ . Suram.
Ya saya mau ngaku dosa karena sudah 3 bulan enggak ikutan kelas yoga rutin lagi. Kenapa kah? Bosan kah? Malas kah? Sudah jago kah? Tentu bukan yang terakhir.

Gegara libur tahun baru kepanjangan yang disusul dengan jadwal work trip yang bentrok dengan jadwal yoga lalu yang memperparah adalah kelas yoga favorit saya ganti jadwal. Mau masuk ke kelas baru kok ya banyak alasan untuk enggak jadi. Sudah gitu di bulan Februari saya harus operasi Lipoma di 8 spot. Lumayan bikin pegel dan enggak bisa narik otot dulu untuk sementara. Jadi, alasan saya enggak yoga rutin lagi justified dong ya hehehe….
Continue reading

Journaling, Karena Kita Tidak Punya Pensieve

Siapa di sini yang pernah berharap Pensieve dijual di online shop dan kita bisa membelinya bebas?
*Acung tangan*
Saya.
Sejak pertama saya nonton Dumbledore menaruh memory-nya di ember kuno bernama Pensieve, saya langsung euforia. Itu alat yang saya butuh banget! Butuh untuk menaruh isi kepala yang penuh dan luber-luber.
Ada yang kepikiran begitu juga kah?

Sayangnya Pensieve belum pernah ada yang bisa beli, bahkan di online shop yang motonya selalu palugada. Di dunia nyata, saya harus puas dengan jurnal dan diary dan blog untuk menyimpan memory.
Continue reading

22 Going on Forever Young

I just celebrated my birthday Friday last week. It was great to be 22…twice ๐Ÿ˜€ . Better than being 17 forever. People say that age is just a number. They must be severely delusional…because you can’t cheat near-sighted, silver hairs, arthritis, and belly fat that can’t be removed even with 100 days of eating flora. Okay, I should stop talking about age here.

This birthday I have the most dramatic birthday ev-fah but I’m not going to write about it here because then I have to admit my saying fuckoff a lot of times haahahaha… I did, though, feel blessed on that day because I felt whatever happened/will happen I would be okay and I had people who truly care about me. This is apaseh moment for you, ya? ๐Ÿ˜€ .


Continue reading

Selamat Tahun Baru, jangan?

21 hari pertama tahun 2019 dan kedisplinan saya untuk ngeblog masih dalam level menyedihkan. Bahkan, saat saya takut-takut ngintip blog ini (iya takut-takut karena sudah lama malas update), saya malah tertohok posting terakhir tentang kekonsistenan saya latihan Yoga selama setahun. Setidaknya ada satu hal dalam hidup saya setahun yang konsisten hahaha…

So, what has happened in your first 21 days of 2019? Or, in your last 365 days in 2018? How did you leave 2018?
Keep Reading!

Menjadi Yogi #8

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

SETAHUN!

Tidak terasa hampir setahun sejak saya belajar yoga. Gilak! Setahun saya bisa konsisten ikut kelas yoga walaupun kalau ditanya ada kemajuan apa setelah setahun belajar yoga? Jawab saya…enggak ada juga ๐Ÿ˜€ .

Tadinya saya pengin pamerin foto progress fantastik setahun saya gitu. Semacam ‘before after’. Setelah mantengin puluhan foto saat saya mencoba pose yoga -bahkan yang paling dasar pun- jidat saya jadi berkerut. Kok enggak ada bedanya setahun lalu dengan sekarang ๐Ÿ˜† . Padahal niatnya ikutan jejak para seleb yoga di instagram. Kalau saya lihat foto-foto para yogis di instagram ‘before after’ mereka, saya mah jauuuuh. Tahun pertama, pose mereka masih work in progress, kemudian di tahun kedua, pose mereka udah jago banget gitu. Saya curiga sih sebenarnya para yogi ini sebelumnya penari balet, atlet gimnastik, atau foto ‘before after’nya diambil setelah pemanasan 2 jam. #dengki

No. To be fair, I have progressed. Dari yang sama sekali enggak bisa membungkuk sampai menyentuh jari kaki, sekarang bisa sentuh jari kaki…setelah pemanasan 30 menit. Yang tadinya Vrksasana Tree pose saya semacam penari India, sekarang udah hampir sama seperti pohon ditiup angin sepoi-sepoi.


Lumayan.

Continue reading