Nyasar Berfaedah di Sydney

Teman sekolah saya dulu pernah komentar. “Biar si De dikasih penggaris, pasti gambar garisnya bakal mencong juga!”
Nah. Hubungan saya dengan GPS itu sebelas dua belas dengan hubungan saya dengan penggaris. Level kacaunya tingkat dewa.

Sebulan lalu saya tiba di Sydney di kondisi musim panas yang dingin πŸ™„ . Sejak pertama datang, saya sudah diajarin bernavigasi di kota itu dengan metode yang harusnya fun dan gampang diingat: pergi belanja ke supermarket terdekat. Harusnya sih gampang ya karena tata kota Sydney teratur blok per blok. Kalau kita jalan lurus ikuti jalan ya sampainya di ujung jalan sebelah sonoan. Coba jalan di Jakarta. Udah baik-baik jalan lurus, sampainya bisa di pinggir kali πŸ˜€ . Kenyataannya, saat disuruh pulang belanja sendiri saya nyasar dengan sukses padahal cuma jalan jarak beberapa blok, lurus aja enggak pakai belok, dan masih pakai google map.
Continue reading

Hirarki Oleh-oleh

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on

Waktu teman saya curhat soal kewajiban membawa oleh-oleh dan kemudian minta diantar ke Paddy‘s untuk beli oleh-oleh, saya spontan menyinyiri karena nyinyir itu lebih mudah daripada membantu mencari solusi. Sebagai orang yang jarang membawakan oleh-oleh, saya lantas menyebutkan pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan membawa meme berikut sebagai landasan pengetahuan saya πŸ˜› .

travelographers

Tapi teman saya ini lebih takut dikutuk jadi batu bila pulang kampung tanpa oleh-oleh daripada uang sakunya habis.
“Makan masih bisa minta teman. Hitung-hitung diet. Kalau oleh-oleh masa’ minta teman?”
Lalu dia nambahin. “Sebaiknya strategi alokasi uang saku itu kita belanjakan oleh-oleh dulu sampai puas baru sisanya kita pakai hidup selama di sini. Bukan sebaliknya, bujet oleh-oleh malah sisa uang saku. Dapat apa kita?!”
Dapat lapar dan jadi gelandangan di mari sih. Yakali bisa begitu mikirnya πŸ™„ .
Continue reading

Tahun-Tahun yang Tidak Kembali di Pitch Perfect 3

IMDb
Setelah Loki, saya mau bahas film lain yang -saya masih surprised- saya tonton sejak film pertama. Pitch Perfect 3. Berbeda dengan sekuelnya Thor, saya masih ingat sedikit-sedikit jalan cerita film-film Pitch Perfect dari film pertama. Padahal ini film ringan yang tidak dimaksudkan untuk dipikirin moral story-nya setelah nonton πŸ˜€ . Etapi di film ketiga ini, saya malah nyangkut dengan pesan sampingannya.
Continue reading

Karena Semua Kita adalah Loki

Entah kenapa sejak saya nonton Thor Ragnarok beberapa bulan lalu saya masih aja keinget si Loki. Ya, oke, saya kebayang-bayang si Chris Hemsworth juga sih selama beberapa hari. Ya ganteng gitu loh πŸ™„ dan aksennya mengingatkan saya pada celotehan orang-orang di kantor πŸ˜€ . Saya makin ingin bahas si Loki di blog setelah beberapa waktu lalu di mall dekat rumah saya sempat memergoki seorang bapak memarahi menasehati anaknya yang sepertinya masih usia SD kelas 4 atau 5. Entah sudah melakukan apa sih anak laki itu tapi nasehat si bapak terngiang-ngiang di saya. “….nanti sampai gede kamu jadi begitu terus! Mau?!”

Oke. Itu bukan menasehati sih. Lebih ke meramal masa depan. Ya masa’ meramal masa lalu?!
Continue reading

Menjadi Yogi #5

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri β€˜Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

MITOS

Walaupun saya baru berlatih yoga selama 2 bulan, sebenarnya saya sudah sering dirujuk beberapa teman untuk belajar yoga. Dirujuk, sampai dibujuk.
Kalau saya selonjoran di bangku, ada aja teman yang bilang, “punggung lo bengkok gitu. Yoga gih biar lurus.”
Kalau saya berdiri santai, nanti ada teman yang dari belakang menekan punggung saya. “Punggung lo nih miring-miring gini. Ikut yoga aja.”
Atau kalau saya ngeluh sakit kepala, teman lain bilang, “yoga aja. Peredaran darah jadi lancar.”
Terakhir, saya sedang bengong di pinggir kolam renang hotel sambil memerhatikan orang-orang yang ikut yoga ketika seorang kenalan menyapa, “aren’t you joining them? You’ve got that yoga look!”
Apapun masalahnya, yoga solusinya πŸ˜€ .
Continue reading

Penulis Tanpa Media

Obrolan ngalur ngidul dengan teman yang mantan jurnalis lapangan internesyonel berujung di pertanyaan, “kapan tulisan lo terbit lagi, De?”
Pipi saya langsung terasa digampar pakai sendal jepit. Yang tipis aja biar enggak terlalu sakit.

Seperti biasa, saya ngeles dengan jago.
“Nulis novel itu butuh waktu. Lama. Gimana coba dengan kerjaan gue sekarang ini yang butuh perhatian gue seratus dua puluh persen? Hah? Hah?”
“Ngeles aja lu!”

Iya. Dia paham saya cuma cari alasan πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .
Continue reading

Mainan Baru: Essential Oils

Mulanya biasa saja.

……………….

Mmmm…enggak. Enggak gitu juga.
Mulanya, selesai kelas yoga, seringkali teman-teman yoga saya itu pada goleran di matras dan sibuk menggosok-gosok dengkul, kadang lengan atas, kadang bahu, kadang paha, kadang pantat. Semua bagian yang habis disiksa hari itu. Lama-lama saya penasaran karena saya mencium aroma-aroma segala rupa selagi mereka menggosok. Badannya. Bukan setrikaan. Akhirnya saya pun melongok ke tempat berkumpulnya para anggota goleran.
Continue reading

Menjadi Yogi #4

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri β€˜Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

JADWAL BERANTAKAN

Setelah sempat 2 bulan teratur latihan yoga, akhir Oktober kemarin menjadi penanda melorotnya performa yoga saya *halah*
Gara-gara travel, latihan rutin bersama Mbak Guru Yoga harus mundur. Masih untung kalau seminggu dapat sekali, saya sempat skip beberapa minggu tidak ke sanggar yoga. (eh kids zaman now masih pakai kata sanggar kah?). Kadang saya masih rajin bisa latihan di hotel atau di rumah dengan cara melihat tutorial di youtube. Kekurangannya latihan dari nonton youtube adalah satu, kalau posenya salah enggak ada yang neriakin, apalagi, ngebetulin; dua, kalau posenya susah, langsung nyerah di napas pertama dan gak ada yang neriakin huehehehe…. Apalagi tennis elbow saya masih belum pulih. Alasan untuk enggak serius latihan saat travel makin menjadi-jadi. Nyerah dong mimpi jadi Yogi-nya?

Tentu tidak!
Continue reading