A Cup of Heart

He held out his hands and put the glass bowl in front of me. It was half full with small folded papers. Back in my apartment, Black, my goldfish, lived in the same kind of bowl. His hands were now on his hips. Sleeves rolled up and apron the color of coffee bean was crisp. His widened eyes were watching me. Expecting me to take one the folded papers.
“Come on, man. I just want a cappuccino. Sweet, creamy, but strong.” I gave him my best smile.
“It doesn’t work that way here.” From the other side of the table, he pointed out at a sign on top of it.
My smile disappeared. “Fine.”
I picked one paper, glared at him, and opened the paper. It was written ‘heart’. I let out a frustration but his satisfying laughter was louder. He would be handsome if the glass bowl didn’t hit his face first, I thought, entertaining the idea.

It had been a month I had my coffee here and heart was the only latte art I got for my cappuccino. I didn’t even care about the bloody drawing but this man who otherwise was quite handsome if I hadn’t been regularly cross at him said it was a rule here to choose a surprise latte art for our coffee! A fresh cup of coffee with lily drawing was delivered to a man at a nearby table.
“Why can’t I have that just once? Or a smiley for a change!” I hissed.
He shrugged indifferently. “Luck, I guess.” He took the bowl and put it back under the table. “One cappuccino coming right up. Sweet, creamy but strong. Enjoy the heart.”
He gave me his widest brightest smile. I rolled my eyes, picked up my yoga mat, and walked to my usual table next to the front window.

At the barista’s table, he returned the bowl next to an identical bowl half full with small folded papers. He sensed his friend passed behind and muttered under the breath. Only loud enough for his ears to hear.

“It’d be a lot easier if you just tell her directly.”

First posted the story as very mini short story in my instagram.

#writing #shortstorywriting #oneofthoseinsomnianights #coffee #coffeeaddict #latteart #cupofcoffee #veryshortfiction #fictionwriting #coffeestory #latteartgram #caffeinated

Antologi Cerpen – Sebuah Niat untuk Terus Menulis

Cerpen Majalah Femina
Niat. Yang penting niatnya.
Sebenarnya saya sudah lama berniat melanjutkan draft-draft cerpen yang terbengkalai. Ya niat doang. Belum pernah saya laksanakan dengan berbagai alasan. Salah satunya karena saya takut berkomitmen waktu untuk menulis (saja). Menulis itu butuh banyak faktor pendukung selain mood. Ada faktor ketenangan lingkungan yang sangat penting, faktor kenyamanan tempat menulis, faktor bebas gangguan, dsb dkk dll. Kalau saya sudah berkomitmen untuk menulis, artinya saya akan menjadi sangat selfish. Tidak mau diganggu selama jam-jam saya menulis. Tanpa adanya ruangan sendiri yang bebas gangguan, kondisi ini sulit kecuali saya menulis dari tengah malam sampai dini hari. Coba setiap hari gini, minggu kedua tipes langsung kan?
Continue reading

Jam 7 Pagi

Di dua puluh empat jam hidupku dalam sehari, matahari terbit di jam 7 pagi.

JAM 7 PAGI
Getaran ponsel membangunkan aku diikuti dengan bunyi ting ting ting yang terdengar bertubi-tubi menandakan pesan demi pesan berebutan masuk. Jam 7. Ah sialan. Tadi aku lupa mematikan suara notifikasi.
Aku tidak langsung membuka pesan yang masuk ke ponselku. Mataku masih menolak untuk membuka lebar, kepalaku masih lekat dengan bantal leher, dan nyawaku masih gentayangan di dunia mimpi. Ting ting ting! Penumpang perempuan di sebelah kananku mengubah posisi rebahannya tanpa basa-basi, memunggungiku. Punggung bangku bus yang dia duduki, eh, tiduri, direbahkan lebih dalam. Maaf ya. Aku berharap kekuatan alam semesta meneruskan permintaan maafku lewat telepati. Aku tidak perlu melihat siapa yang mengirim pesan. Aku sudah tahu.

Cerpen terbaru di antologi cerpen Empat Puluh Kilometer Pulang di Storial. Lengkapnya, lanjut ke cerita Jam 7 Pagi.

#fiction #writing #storytelling

Ide Mentok itu Real, Kawan

Sudah seminggu ini waktu saya terbuang sia-sia di depan laptop tanpa berhasil produktif sama sekali. Draft cerpen yang harusnya tayang minggu lalu (kemudian molor tengah minggu, terus molor lagi sampai akhir minggu) hanya bisa saya pelototin bolak balik. Saya cuma sanggup ngotak-ngatik teknisnya: pilihan kata, tanda baca, tanpa bisa maju ke hal yang lebih substansial: isi cerita dan endingnya, sisssss! Frustasi rasanya.
Continue reading

Setahun Pandemi

Yup, setahun sudah umur pandemi Covid-19 ini dengan segala dampaknya. Maret ini setahun sudah saya kerja di rumah dengan hanya satu kali (1x!) saja pernah balik menginjakkan kaki di kantor pada suatu hari Minggu untuk mengambil peralatan kerja. Setahun pula anak-anak sekolah dari rumah. Setahun! Will this ever end?

Setahun pandemi ini juga berarti saya kehilangan satu tahun umur saya di pandemi. Benar-benar satu tahun! Setahun lalu karantina pandemi dimulai sesaat setelah saya merayakan ulang tahun bersama keluarga di daerah pegunungan. Pulang dari situ, dunia berubah. Hari ini umur saya berubah satu angka, dan ini pertama kali saya bisa pergi ke luar bersama keluarga, merayakan bertambahnya lilin di kue ulang tahun, di pantai. Isn’t this something, though small, that we should be grateful for? Walaupun jalan-jalan ke pantai harus cari spot terjauh dari pengunjung lain. Walaupun barang yang dibawa ke penginapan menjadi lebih banyak karena ditambah dengan sanitiser, disinfektan, dsb. Walaupun tiap foto lupa kalau mukanya tertutup masker. Walaupun kalau mau makan, hanya bisa take away dan menghindari restoran penuh dan/atau tertutup. Semua walaupun ini dilakukan demi bisa mengecap sedikit kenormalan masa lalu.

Setahun ini setidaknya mengajarkan untuk menyukuri apa yang masih kita punya atau masih kita bisa dan bukan menyesali apa yang tidak kita punya atau tidak bisa kita lakukan.

Hang in there, people.

Wedding Ring – My Morning with You

“Is that…a wedding ring?”

Pertanyaannya, walau pelan, datang tiba-tiba. Dilontarkan di situasi yang tidak tepat. Di keheningan penumpang yang memenuhi bus pagi itu. Sebelumnya perhatianku sedang terpaku pada pemandangan pohon-pohon di luar jendela bus yang mulai berganti warna dari hijau ke coklat. Aku terkesiap, menoleh cepat dan mendapati dirinya menatapku lekat-lekat dari balik lensa kacamatanya. Bola matanya yang biru seperti langit musim dingin di luar sana menatapku lekat-lekat. Ah, sialan! Perempuan berambut merah sebahu yang duduk di bangku di depan kami memiringkan kepalanya sedikit. Aku tak bisa melihat wajahnya tapi aku yakin apapun jawabanku, perempuan di depanku akan tahu juga. Apa pertanyaannya tadi?

Lanjutannya ada di Storial ya 😀 .

#fiction #writing #storytelling

40 Kilometer Pulang

Sudah mulai musim hujan. Siap-siap banjir.
Kata supir bus tanpa ditujukan kepada siapa-siapa. Matanya masih terpaku ke ruas jalan di depannya. Pandangannya terhalang air hujan yang turun seperti jalinan air tebal-tebal. Dua buah wiper panjang melekat di kaca bus dan bergerak konstan ke kanan ke kiri tidak banyak menolong. Hanya suara besi diseret saja yang menandakan tongkat wiper itu bekerja.

Bangku empuk berbalut kulit sintetis warna hitam di belakang supir sebenarnya bisa diduduki tiga orang penumpang. Hanya aku yang duduk di sana. Orang-orang yang naik setelahku hanya melirik sebentar lalu berlalu. Tidak ada yang mau duduk di sebelahku. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku pun tidak mau duduk di sebelahku. Payung di tanganku basah dan tetes-tetes air turun ke lantai bus. Jaket parka yang kupakai basah kuyup membuatnya berat, bau, dan dingin. Lalu ada tas ransel yang basah kutaruh di sebelahku. Celana panjang berbahan kain yang menjadi jalan air dari badanku ke kaki, merembes ke kaos kaki, menyusup ke pojokan dalam sepatu yang bila kupaksa berjalan akan berbunyi seperti spons penuh air. Aku duduk di ujung bangku, menyender ke jendela di sisi kanan. Mesin pendingin di atas kepala tidak bisa diatur suhunya. Hanya ada pilihan Mati dan Dingin. Udara dingin yang keluar dari mesin itu tidak punyai belas kasihan. Badanku menggigil. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari kejaran angin beku di dalam bus. Setidaknya udara dari mesin pendingin bisa menghilangkan embun dari kaca jendela. Aku bisa memandang keluar. Ke deretan mobil yang berjalan berdesakan di ruas jalan tol. Mobil-mobil pribadi berisi satu dua orang. Taksi-taksi dengan penumpang yang sepertinya lega telah terhindar dari tumpahan air dari langit. Membayangkan kehangatan mereka membuatku semakin menggigil. Berapa ongkos taksi dari Plaza Semanggi ke Bekasi? Mungkin 200 ribu rupiah di tengah hujan dan macet. Jumlah Rupiah yang tidak mampu aku keluarkan demi rasa hangat sejauh 40 kilometer.

Badanku menggigil lagi.
Continue reading

Cara untuk Tetap Waras

Sebelas bulan sudah pandemi ini. Bulan depan tepat satu tahun perayaan karantina rumah sejak Covid-19 muncul Maret tahun lalu. Bulan depan tepat satu tahun saya kerja dari rumah, anak-anak sekolah dari rumah. Maret tahun lalu saya berpikir bulan Juli, atau mid 2020, saya bakal balik ke kantor dan 4 bulan di rumah terasa membahagiakan karena terbebas dari bangun pagi buta untuk mengejar-kejar bis ke kantor. I thought, ‘let’s enjoy this’. Kapan lagi bisa ngerasain kerja dari rumah pakai kaos butut dan celana pendek dengan mata belekan selama satu, dua, tiga…bulan. Sudah gitu masih bisa begadang nonton Netflix tiap malam. Maret tahun ini, saya bahkan tidak berani berharap saya sudah bisa duduk di bis pada bulan Juli 2021. What a shitty world.

Setelah hampir setahun berusaha keras disiplin supaya terjaga dari berinteraksi langsung dengan lingkungan Covid-19, bulan lalu saya harus mengalami langsung berurusan dengan pasien-pasien Covid-19 di lingkungan keluarga sampai harus kehilangan satu anggota keluarga. Sungguh menguras emosi, pikiran, tenaga, dan dana.

Saat ini, rasanya saya hanya ingin berbaring di tempat tidur, bodo amat dengan dunia.
Continue reading