Ribuan Jarum di Sebelah Kepalaku

As someone living with chronic migraine (and long history of allergies), days like those in the picture when I could function as a person are most cherished. When migraine strikes, it always feel like I’ve never known days without pain. Knowing that migraine can strike me anytime forces me to be ‘meaningfully present’ in those pain-free hours, especially with my kids. Having a book-reading before bedtime, or chatting about school, or dining together, or listening to their stories, or even laughing…are out of questions since every nerve in my body aches from sound, light, stimulation. My head feels like thousand needles are fighting inside my head. Trying to be positive about life is a struggle when being in pain. . . My thoughts and prayers for those who suffer from more serious illnesses. My pain is nothing compared to yours. . ? @naldsaerang #migraines #migrainelife #deepinthought #beingpresent #painstory #migrainestrikesagain #painfuldays

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on


Continue reading

Menjadi Yogi #6

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

INFLEXIBLE

Haiiiiiish sudah 4 bulan saya tidak update perkembangan dunia peryogaan saya. What happened?! *lah malah nanya*
Saya masih rajin ikut latihan yoga kok. Hanya saja jadwalnya kebanyakan bolong dari pada enggak bolong. Januari saya bolong karena ke Sydney. Februari juga bolong karena ke Manado. Maret saya bolong lagi karena ke…ke mana ya saya bulan lalu? 🙄 Ke Bandung dan ke Puncak! Yaseh jaraknya dekat tapi kalau enggak ada di rumah kan ya enggak bisa latihan juga… *digaplok guru yoga gue*
Continue reading

Dress Your Age, Yourself!

Baru seminggu lalu, seseorang, perempuan, menyapa saya di satu acara setelah saya mengenalkan Hikari dan Aiko ke dia dan beberapa orang lain. Hubungan kami sebatas urusan kantor dan kalau bukan karena acara yang bersamaan, kami tidak akan bertemu. Kali itu, saya membawa anak-anak.
“Wah, Mbak De’ ini ternyata anaknya sudah besar ya!”
Awalnya saya pikir dia mengacu ke Hikari. “Iya yang pertama sudah SMA, tapi masih ada yang kecil ini.”
“Maksud saya, yang kecil pun sudah besar.”
“Nngg…iya. Sudah SD kelas 1.” Jidat saya mulai berkerut.
“Padahal gayanya masih kayak perawan loh!”
Hmm. Oke. Mata saya spontan mencari teman saya yang seumuran dan saya yakin masih perawan. Gaya dan kelakuan dia kayaknya 11-12 sama saya.

Saya bisa lihat si pemberi komentar itu serius dengan ucapannya. Serius takjub. Takjub melihat anak-anak saya UDAH SEGEDE ITU dan saya masih waras riang gembira. Dia bolak-balik menatap anak-anak dan saya. Girl? Please?

via GIPHY

Continue reading

Birthday Blues is Not Some Kind of Colors

wordporn
So, anyone here experiences feeling sad, lonely, and down without knowing the reasons, around your birthday? I do.

I don’t really remember when I started to have this blues around my birthday. As much as I don’t remember when, I don’t remember why or how, either. And that sucks. Blues and feeling suck are a good combination to get one’s mood level hit rock bottom. God forbids if my birthday falls during my period. That will be really really lethal to my mental health.
Continue reading

Nyasar Berfaedah di Sydney

Teman sekolah saya dulu pernah komentar. “Biar si De dikasih penggaris, pasti gambar garisnya bakal mencong juga!”
Nah. Hubungan saya dengan GPS itu sebelas dua belas dengan hubungan saya dengan penggaris. Level kacaunya tingkat dewa.

Sebulan lalu saya tiba di Sydney di kondisi musim panas yang dingin 🙄 . Sejak pertama datang, saya sudah diajarin bernavigasi di kota itu dengan metode yang harusnya fun dan gampang diingat: pergi belanja ke supermarket terdekat. Harusnya sih gampang ya karena tata kota Sydney teratur blok per blok. Kalau kita jalan lurus ikuti jalan ya sampainya di ujung jalan sebelah sonoan. Coba jalan di Jakarta. Udah baik-baik jalan lurus, sampainya bisa di pinggir kali 😀 . Kenyataannya, saat disuruh pulang belanja sendiri saya nyasar dengan sukses padahal cuma jalan jarak beberapa blok, lurus aja enggak pakai belok, dan masih pakai google map.
Continue reading

Hirarki Oleh-oleh

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on

Waktu teman saya curhat soal kewajiban membawa oleh-oleh dan kemudian minta diantar ke Paddy‘s untuk beli oleh-oleh, saya spontan menyinyiri karena nyinyir itu lebih mudah daripada membantu mencari solusi. Sebagai orang yang jarang membawakan oleh-oleh, saya lantas menyebutkan pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan membawa meme berikut sebagai landasan pengetahuan saya 😛 .

travelographers

Tapi teman saya ini lebih takut dikutuk jadi batu bila pulang kampung tanpa oleh-oleh daripada uang sakunya habis.
“Makan masih bisa minta teman. Hitung-hitung diet. Kalau oleh-oleh masa’ minta teman?”
Lalu dia nambahin. “Sebaiknya strategi alokasi uang saku itu kita belanjakan oleh-oleh dulu sampai puas baru sisanya kita pakai hidup selama di sini. Bukan sebaliknya, bujet oleh-oleh malah sisa uang saku. Dapat apa kita?!”
Dapat lapar dan jadi gelandangan di mari sih. Yakali bisa begitu mikirnya 🙄 .
Continue reading

Tahun-Tahun yang Tidak Kembali di Pitch Perfect 3

IMDb
Setelah Loki, saya mau bahas film lain yang -saya masih surprised- saya tonton sejak film pertama. Pitch Perfect 3. Berbeda dengan sekuelnya Thor, saya masih ingat sedikit-sedikit jalan cerita film-film Pitch Perfect dari film pertama. Padahal ini film ringan yang tidak dimaksudkan untuk dipikirin moral story-nya setelah nonton 😀 . Etapi di film ketiga ini, saya malah nyangkut dengan pesan sampingannya.
Continue reading