Antologi Cerpen – Sebuah Niat untuk Terus Menulis

Cerpen Majalah Femina
Niat. Yang penting niatnya.
Sebenarnya saya sudah lama berniat melanjutkan draft-draft cerpen yang terbengkalai. Ya niat doang. Belum pernah saya laksanakan dengan berbagai alasan. Salah satunya karena saya takut berkomitmen waktu untuk menulis (saja). Menulis itu butuh banyak faktor pendukung selain mood. Ada faktor ketenangan lingkungan yang sangat penting, faktor kenyamanan tempat menulis, faktor bebas gangguan, dsb dkk dll. Kalau saya sudah berkomitmen untuk menulis, artinya saya akan menjadi sangat selfish. Tidak mau diganggu selama jam-jam saya menulis. Tanpa adanya ruangan sendiri yang bebas gangguan, kondisi ini sulit kecuali saya menulis dari tengah malam sampai dini hari. Coba setiap hari gini, minggu kedua tipes langsung kan?

Di tengah kondisi tidak bisa berkomitmen untuk menulis, ide-ide cerpen saya menumpuk. Ide-ide itu hanya bisa saya tulis coret-coret di buku catatan. Sedih kan? Kadang ide-ide itu bermain-main di kepala sampai bikin saya mumet. Di luar kondisi internal, ada kondisi eksternal lain. Kalaupun saya menuntaskan draft cerpen saya, ke mana saya harus kirim tulisannya? Sebelumnya sih saya selalu mengirimkan cerpen ke sebuah majalah wanita di negeri ini. Sekarang, saya belum kepengin mengirimkan ke mana mana karena isinya (ternyata) tidak melulu tentang wanita.

Akhirnya saya berpaling ke salah satu platform untuk membaca novel online dan mengunggah cerita di mana saja dan kapan saja. Saya pikir di platform jenis ini saya lebih bebas menulis apa pun yang saya mau -entah cerpen atau malah cerber sekali pun. Akhirnya saya niatkan deh untuk mengumpulkan cerpen-cerpen saya di satu antologi khusus bercerita tentang commuting dan menaruhnya di Storial.

Commuting?
Iya, commuting.
Kumpulan cerita pendek tentang perjalanan para komuter.

Pernah membayangkan bila para komuter di Ibu Kota menghabiskan 55 jam atau lebih per tahun di jalan, apa yang mereka lakukan setiap harinya selama 3-4 jam di dalam angkutan umum? Tidur? Membayangkan pekerjaan menumpuk di kantor? Melamun tanpa arah? Mengingat orang terkasih di rumah? Mengingat orang terkasih di suatu tempat yang tidak bisa mereka datangi?

Selama 3-4 jam saya terjebak di perjalanan bus antara pinggiran Ibu Kota dan pusat bisnisnya, saya membayangkan cerita-cerita mereka dan mengumpulkannya di sini.

Begitu latar belakangnya. Memang saya cenderung jatuh melamun kalau dibiarkan berduaan dengan daya khayal saya doang. Perjalanan pulang pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya sepanjang 40an kilometer yang menghabiskan 4-5 jam di jalan setiap hari itu waktu yang paling cocok untuk menyuburkan bibit-bibit cerita. Seandainya lamunan itu bisa langsung muncul dalam bentuk teks 😀 .

Mudah-mudahan saya bisa rutin dan konsisten memperbarui antologi saya dengan cerpen-cerpen baru. Kalau kalian berkunjung ke sana, silahkan kasih komentar ya, supaya saya bisa belajar terus. See you there!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.