40 Kilometer Pulang

Sudah mulai musim hujan. Siap-siap banjir.
Kata supir bus tanpa ditujukan kepada siapa-siapa. Matanya masih terpaku ke ruas jalan di depannya. Pandangannya terhalang air hujan yang turun seperti jalinan air tebal-tebal. Dua buah wiper panjang melekat di kaca bus dan bergerak konstan ke kanan ke kiri tidak banyak menolong. Hanya suara besi diseret saja yang menandakan tongkat wiper itu bekerja.

Bangku empuk berbalut kulit sintetis warna hitam di belakang supir sebenarnya bisa diduduki tiga orang penumpang. Hanya aku yang duduk di sana. Orang-orang yang naik setelahku hanya melirik sebentar lalu berlalu. Tidak ada yang mau duduk di sebelahku. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku pun tidak mau duduk di sebelahku. Payung di tanganku basah dan tetes-tetes air turun ke lantai bus. Jaket parka yang kupakai basah kuyup membuatnya berat, bau, dan dingin. Lalu ada tas ransel yang basah kutaruh di sebelahku. Celana panjang berbahan kain yang menjadi jalan air dari badanku ke kaki, merembes ke kaos kaki, menyusup ke pojokan dalam sepatu yang bila kupaksa berjalan akan berbunyi seperti spons penuh air. Aku duduk di ujung bangku, menyender ke jendela di sisi kanan. Mesin pendingin di atas kepala tidak bisa diatur suhunya. Hanya ada pilihan Mati dan Dingin. Udara dingin yang keluar dari mesin itu tidak punyai belas kasihan. Badanku menggigil. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari kejaran angin beku di dalam bus. Setidaknya udara dari mesin pendingin bisa menghilangkan embun dari kaca jendela. Aku bisa memandang keluar. Ke deretan mobil yang berjalan berdesakan di ruas jalan tol. Mobil-mobil pribadi berisi satu dua orang. Taksi-taksi dengan penumpang yang sepertinya lega telah terhindar dari tumpahan air dari langit. Membayangkan kehangatan mereka membuatku semakin menggigil. Berapa ongkos taksi dari Plaza Semanggi ke Bekasi? Mungkin 200 ribu rupiah di tengah hujan dan macet. Jumlah Rupiah yang tidak mampu aku keluarkan demi rasa hangat sejauh 40 kilometer.

Badanku menggigil lagi.

Satu jam sebelumnya aku habiskan di tepi jalan berdiri di bawah hujan menunggu bus berwarna hijau dengan garis merah putih di badannya. Setelah hampir satu jam di bawah hujan, payung yang kupegang akhirnya hanya menjadi aksesoris. Akhirnya kubiarkan saja air mengaliri setiap inci kulitku tanpa perlawanan lagi.

Duduk di bangku bus berwarna hitam, aku merasakan mataku basah. Air mataku tiba-tiba mengalir. Aku tak pusing mengusapnya. Buat apa? Tidak ada yang akan tahu aku menangis. Toh badanku kuyup dari ujung rambut sampai kaki. Kurapatkan jaketku yang basah berharap ada sisa-sisa kehangatan sambil berdoa 40 kilometer pulang ini berjalan cepat. Mungkin aku bisa sampai rumah sebelum jam 10 malam. Mungkin kedua anakku sudah tidur sehingga aku bisa langsung mandi. Mungkin suamiku juga sudah tidur sehingga aku juga bisa langsung istirahat. Mungkin asisten rumah tangga yang setiap hari datang ke rumah sempat membereskan rumah lebih dulu sebelum dia pulang sore tadi. Mungkin piring-piring kotor sudah dibersihkan. Mungkin baju-baju yang akan dipakai suami dan anak-anakku besok sudah disetrika. Semua kemungkinan-kemungkinan di kepalaku tanpa kusadari berubah menjadi doa.

Mataku menyapu penumpang lain di deretan bangku sebelah. Aku bukan satu-satunya penumpang yang basah kuyup. Seorang laki-laki tua kurus merangkul tas ransel bututnya yang juga basah. Matanya terpejam. Lelah tergurat di kulit wajahnya. Dia tidak memakai jaket. Hanya kemeja kotak-kotak lusuh yang tidak jelas warnanya, entah hitam atau coklat, menempel lekat di badan kurusnya. Sebentar-bentar badannya bergetar. Menggigil. Aku menengadah. Ke langit gelap di luar sana.

Aku memang kurang bersyukur. Seperti kata temanku yang nasihatnya untuk semua masalah hidup adalah agar manusia lebih banyak bersyukur. Kemarin aku tidak sengaja mengeluhkan sakit kepalaku di depannya dan ia menatapku lekat sebelum memperlihatkan senyum dan helaan napas. Aku kenal betul senyum dan helaan napas itu. Pertanda akan keluar kata-kata bijak dari mulutnya. Kata temanku, ada terlalu banyak hal tidak penting yang aku khawatirkan sampai pikiranku tidak sanggup menahannya dan membuat kepalaku sakit. Lebih banyak bersyukur, katanya. Masalah-masalahku tidak ada artinya dibanding banyak orang di dunia yang jauh kurang beruntung, katanya. Coba untuk melihat betapa banyak hal di hidupku yang bisa aku syukuri, katanya. Seperti biasa, aku hanya mengangguk-angguk. Mungkin aku memang kurang bersyukur. Aku penasaran apakah dia juga akan bilang tumor di kepalaku, penyebab sakit kepalaku ini, juga akibat aku kurang bersyukur? Aku menoleh ke mobil-mobil yang menyesaki jalan tol. Lebih banyak bersyukur, kataku dalam hati. Aku di dalam bus ini dan mereka yang duduk nyaman dan hangat di mobil-mobil itu sama saja. Kami sama-sama terjebak di ruas jalan puluhan kilometer jauhnya dari rumah. Bedanya hanya di 200 ribu rupiah dan 18 ribu rupiah.

#fiction #writing #shortstory

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.