Hashtag Di Rumah Aja

Minggu ini minggu ke dua ratus empat puluh saya menjalani karantina rumah karena Covid-19. Kidding. Ini minggu kelima saya dan ribuan orang di negara ini terpaksa menjalani karantina rumah. Di dunia? Mungkin sudah bulan ke-lima mereka menjalani karantina sejak virus ini resmi disebut pandemik. I can’t believe I have lived long enough (or short enough) to experience a world wide pandemic like now.

Sewaktu pertama kali virus ini ramai muncul di bulan Februari, saya masih wara wiri antar kota. Awal bulan Maret saya malah masih wara wiri ke rumah sakit karena kena gejala tipus dan Cholecystitis. Untungnya sebagai penderita alergi manja, ke mana-mana saya selalu pakai masker. Setelah keadaan berubah menjadi lebih genting, orang-orang mulai disuruh social distancing dan diam di rumah, sekaligus menggunakan masker dan rajin cuci tangan.

Diam di rumah menjadi salah satu tindakan terampuh untuk memutuskan rantai penularan virus ini. Enak kayaknya ya. Gak perlu rebutan naik bis ke kantor. Gak perlu capek komuting dari rumah ke kantor. Gak perlu bangun sebelum subuh. Gak perlu pusing nyetrika baju. Gak perlu keluar uang transport. Gak perlu ketemu teman kerja nyebelin di kantor. Eh. Setelah 5 minggu, rasanya enaknya jadi menguap. Semua yang berlebihan memang jadi tidak menyenangkan.

Setelah 5 minggu tidak keluar komplek rumah, saya sampai tidak tahu apa yang terjadi 3 kilometer dari rumah ini. Anak-anak malah tidak pernah keluar komplek sama sekali. Jarak pandang mereka dari rumah hanya 500 meter. Kantor dan sekolah semua dilakukan online. Belanja pun sebisa mungkin online. Siapa itu yang selalu bilang pengin libur di rumah lebih lama. Be careful with what you wish for.

Saya termasuk pendukung keras #dirumahaja dan #stayathome di masa pandemik ini. Alasannya karena dengan diam di rumah kita bisa membantu memutus penularan. Saya pernah mengalami anak ketularan cacar sampai parah kondisinya karena penular dengan tidak bertanggung jawab memilih untuk keluar rumah dan tetap ke sekolah dengan kondisi dirinya sakit. Di lain pihak, setelah seminggu dua minggu lewat, saya jadi merasakan semacam tuntutan bahwa seharusnya saya bisa menggunakan waktu di rumah selain hanya tetap kerja 8 jam dan jadi guru pendamping anak-anak yang belajar dari rumah. Saya merasa seharusnya saya menggunakan waktu di rumah dengan mempelajari ketrampilan tambahan atau menuntaskan hutang. Entah jadi bisa masak, entah menelurkan 5 novel baru, entah jadi bisa main musik, entah rumah jadi lebih kinclong, entah kebun jadi lebih hijau, entah level yoga saya meningkat jadi setara celeb yogis. Tapi setelah 5 minggu, yang bisa saya tuntaskan hanya nonton seluruh season film Lucifer di Netflix lalu nonton ulang lagi. Man! Sumpah saya jadi merasa tak berguna.

Saya sempat meniatkan diri untuk meneruskan draft novel yang terlantar bertahun-tahun, tapi akhirnya cukup puas dengan ngapdet blog aja. Lalu saya paksa Hikari untuk ngajarin gitar tapi sudah seminggu saya baru bisa satu not sementara Hikarinya sudah bete karena saya ngeluh jarinya sakit terus. Well….

Sementara karantina rumah ini sepertinya belum akan berakhir 1-2 bulan lagi, saya akan meneguhkan niat untuk setidaknya meneruskan dan menuntaskan hutang…dan ini enggak ada kaitannya dengan nonton Lucifer lagi sambil nyatetin British jokes dia.

Poster is from @joshstyle.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.