Menjadi Yogi #9

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

PENGAKUAN DOSA

Postingan pertama tentang Yoga di tahun 2019 malah ngomongin pengakuan dosa ๐Ÿ˜€ . Suram.
Ya saya mau ngaku dosa karena sudah 3 bulan enggak ikutan kelas yoga rutin lagi. Kenapa kah? Bosan kah? Malas kah? Sudah jago kah? Tentu bukan yang terakhir.

Gegara libur tahun baru kepanjangan yang disusul dengan jadwal work trip yang bentrok dengan jadwal yoga lalu yang memperparah adalah kelas yoga favorit saya ganti jadwal. Mau masuk ke kelas baru kok ya banyak alasan untuk enggak jadi. Sudah gitu di bulan Februari saya harus operasi Lipoma di 8 spot. Lumayan bikin pegel dan enggak bisa narik otot dulu untuk sementara. Jadi, alasan saya enggak yoga rutin lagi justified dong ya hehehe….

Walaupun saya enggak rutin ke kelas yoga selama 3 bulan, bukan berarti saya enggak latihan di rumah. Masih banget latihan tapi ya sebatas Sun Salutation doang. Cuma ingat itu soalnya ๐Ÿ˜› .
Kalau lagi rajin, saya buka youtube dan ngikut para seleb yogis latihan. Dari Indonesia yang saya nyaman ikuti baru Anjasmara karena instruksinya jelas dan latihannya berjenjang dari yang pemula sampai yang canggih. Kalau saya sih pra-pemula hehehe…

Jadi sebenarnya kalau pun kita tidak lagi ikut kelas yoga langsung, kita masih bisa latihan rutin. Modalnya cuma jaringan internet dan tekad kuat membaja tahan godaan dari rasa mager. Tapi memang jujur aja latihan dari video atau yutub itu tidak bisa menggantikan interaksi langsung antara guru dan murid. Kalau ada gurunya, kita bisa dapat saran personal tentang kelemahan kita di mana. Kemudian jelas lebih aman. Mbak Guru Yoga saya paling enggak mau nyuruh muridnya ujug-ujug handstand kalau postur dasar aja belum bisa. Seperti saya misalnya yang punya masalah dengan tulang punggung, postur saya tidak lurus. Sehingga kalau handstand sering enggak kuat dan miring-miring. Butuh proses sampai si Mbak Guru mengizinkan saya handstand. Terus? Sekarang bisa handstand? Jelas tidak. Eh, belum. Saya cuma bisa handstand kalau dibantu kaki saya dilempar ke atas oleh Mbak Guru hahaha…

Satu kali saya ngobrol dengan kolega kerjaan yang jarang bertemu karena beda provinsi. Laki-laki, Caucasian, lebih tua dari saya. Dia ternyata rutin latihan yoga walau enggak mau dipanggil yogis. Waktu saya cerita soal rasa tidak percaya diri saya setelah lihat para seleb yogis di instagram, dia komentar. “Forget them. I only repeat suryanamaskar every day and perfect it. It’s enough.”
Jadi menurut dia, latihan sun salutation aja berulang-ulang sampai posenya sempurna. Itu cukup untuk mendapatkan kebaikan dari yoga.

Ada dua peer utama saya setelah setahun latihan yoga. Yang pertama adalah melakukan pose sambil meditasi. Bukannya mengatur napas dan mengatur isi kepala supaya tenang, saya malah sibuk mikirin ini pose saya udah bener atau belum, ini kenapa perut gue enggak mau diputer sih, ini kenapa ngos-ngosan begini bla bla bla. Peer yang kedua adalah menguatkan perut alias core badan saya. Yang kedua ini yang bikin saya enggak kuat pose lama dan/apalagi pose terbalik. Gara-gara core saya lemah, tiap latihan swing yoga saya hampir selalu mual.

Foto Swing Yoga ini adalah latihan yoga saya terakhir. Saya yakin kalau saya balik latihan Swing Yoga lagi, saya pasti pakai proses babak belur lagi. Tapi seperti pepatah ‘beauty is pain’ dari para pemakai high heels, saya juga percaya bahwa being healthy is pain, first, but happier eventually.

Ya enggak?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.