Selamat Tahun Baru, jangan?

21 hari pertama tahun 2019 dan kedisplinan saya untuk ngeblog masih dalam level menyedihkan. Bahkan, saat saya takut-takut ngintip blog ini (iya takut-takut karena sudah lama malas update), saya malah tertohok posting terakhir tentang kekonsistenan saya latihan Yoga selama setahun. Setidaknya ada satu hal dalam hidup saya setahun yang konsisten hahaha…

So, what has happened in your first 21 days of 2019? Or, in your last 365 days in 2018? How did you leave 2018?

Buat saya, 2018 itu nano-nano banget -you millennials won’t know what Nano nano is 😀 . Nano nano itu permen yang rasanya rame: asam, manis, kecut, asin sedikit. Gitu. Yang sekarang kayaknya udah gak dijual lagi, mungkin karena rasanya mengingatkan orang pada beban hidup jadi gak ada yang mau beli…
Buat saya, 2018 juga begitu. 2018 itu semacam terasa sedih, marah, kuatir, tapi juga bersyukur karena ada yang dipelajari. Kayak rasa naik kelas di ring Tinju gitu. Babak belur, tapi naik kelas. Daripada babak belur tapi gak naik kelas, yekan?

Kenapa babak belur? Karena kayaknya saya bertanding di arena hidup (halah) yang kondisinya bukan buat saya. There was a dummy winner and I wasn’t even close to the dummy. Tapi kemudian saya bisa mengakhiri 2018 dengan lagunya Elton John ‘I’m Still Standing’.

And did you think this fool could never win
Well look at me, I’m coming back again
I got a taste of love in a simple way
And if you need to know while I’m still standing you just fade away
Don’t you know I’m still standing better than I ever did
Looking like a true survivor, feeling like a little kid
I’m still standing after all this time
Picking up the pieces of my life without you on my mind

Di akhir tahun 2018 juga saya mulai mencoba konsisten merekam pikiran saya. Those scattered conversations in my head. Mencoba berbujo aka bullet journalling.

Bujo memang lagi ngehits sejak 2015an tapi sebenarnya sudah dimulai 3 tahunan sebelumnya. Sejak SD, kayaknya, saya sudah pegang diary dan konsisten nulis sampai awal kuliah. Berhenti karena… gak tau. Lupa. Kalau coret-coret bukunya sih gak pernah berhenti tapi isi diarynya sudah berubah dari journaling ke lebih to-do list. Mbosenin beud. Bisa pindah ke blog ya karena punya bibit journaling dari kecil 😀 . Nah, di akhir tahun 2018 kemarin saya niat beli notebook baru (iyaaa soalnya yang lama dan masih kosong setengah aja ada beberapa). Kenapa niat? Karena maaahhhaaaallll 😥 . Kenapa beli baru? Karena…kan mau tahun-baru-buka-lembaran-baru kindda stuff. Padahal sih emang ngiler aja liat si notebook yang limited edition hahahaha….

Eniwei, saya mulai journaling lagi. Kali ini isinya mau saya buat pelajaran menyelami diri sendiri. My Strength. My Shits Weaknesses. Sesuai petunjuk para Master Bujo, bujo saya kali ini tujuannya untuk memperbaiki actions saya yang salah, gagal, kurang tepat, kurang bijak menjadi learned actions yang lebih baik melalui strategi tertentu…
Eh buset susah amat yak! 🙄

Setelah journaling selama 31 hari di 2018 dan 21 hari di 2019, bagaimana progressnya? Egila lebih banyak emoji ngamuknya!
But I’m learning. I’m learning. And I have 11 months 10 days to practice.

Bagaimana kabar 21 harimu di tahun baru?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.