Nyasar Berfaedah di Sydney

Teman sekolah saya dulu pernah komentar. “Biar si De dikasih penggaris, pasti gambar garisnya bakal mencong juga!”
Nah. Hubungan saya dengan GPS itu sebelas dua belas dengan hubungan saya dengan penggaris. Level kacaunya tingkat dewa.

Sebulan lalu saya tiba di Sydney di kondisi musim panas yang dingin πŸ™„ . Sejak pertama datang, saya sudah diajarin bernavigasi di kota itu dengan metode yang harusnya fun dan gampang diingat: pergi belanja ke supermarket terdekat. Harusnya sih gampang ya karena tata kota Sydney teratur blok per blok. Kalau kita jalan lurus ikuti jalan ya sampainya di ujung jalan sebelah sonoan. Coba jalan di Jakarta. Udah baik-baik jalan lurus, sampainya bisa di pinggir kali πŸ˜€ . Kenyataannya, saat disuruh pulang belanja sendiri saya nyasar dengan sukses padahal cuma jalan jarak beberapa blok, lurus aja enggak pakai belok, dan masih pakai google map.

Karena itu masih hari pertama, jadi pendamping saya di Sydney masih maklum. Belum ngetawain, apalagi sampai banting hapenya. Hari kedua saya diajak pergi agak jauh lagi dengan metode berbeda: jalan kaki ke stasiun kereta terdekat, nyari platform yang sesuai, naik kereta sampai tujuan. Saya sukses turun kereta sampai ke Circular Quay…karena ditemani πŸ˜€ . Tapi ternyata destinasi saya masih jalan beberapa kilo lagi ke Government House. Maka, hilang lah saya di lautan manusia di antara stasiun kereta dan Sydney Opera House. Pendamping saya kemudian sms.
‘Just walk straight to Sydney Opera House. It’s big, you won’t miss it. You can see it clearly!’
Emmm…bulan juga keliatan dari mari apa iya bakal jadi jaminan saya enggak nyasar?! Ya nyasar juga akhirnya.

Setelah bolak-balik nyasar di hari-hari pertama, saya dikasih lah peta -cetak, bukan aplikasi di hape- yang bisa saya bawa untuk jalan ke kampus keesokan harinya. Hari itu pulang pergi saya enggak nyasar…karena berhasil ngintilin teman-teman πŸ˜› . Keesokan hari dan keesokan harinya lagi saat tidak ada orang yang bisa dibuntuti, saya nyasar lagi πŸ˜€ .
“Hey, you know what I did yesterday after campus?”
“What?”
“I was lost again.”
“…of course you did.”
Saya pun diberi kursus singkat cara pakai google map yang sebenarnya selalu saya pakai juga. Tapi ya itu level keberhasilannya kalau di Jakarta ya lebih karena insting daripada pintar baca petanya hahaha…

Saya sebenarnya tidak keberatan nyasar di Sydney kecuali soal kaki yang jadi pegal luar biasa. Sydney kota yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua. Sebagai penikmat bangunan tua minus penunggunya mata saya menikmati saat-saat nyasar itu. Lagipula, dengan coffee shop yang jarak satu sama lainnya macam Alfamart-Indomart di sini, saya bisa nyasar dengan bahagia. Yang geregetan justru pendamping dan teman-teman saya. Pendamping saya geregetan karena saya tanggung jawab dia πŸ˜€ . Teman-teman saya geregetan karena mereka sering ikut saya jalan dan kami jadi nyasar massal. Susahnya, yang paling sering diajak jalan keliling oleh orang lokal itu saya. Jadi, dengan logika bahwa saya sudah pernah jalan ke sana ke mari, teman-teman saya ini bergantung ke saya setiap kali mau mencari sesuatu, seperti barang tertentu atau oleh-oleh, misalnya. Dan setiap kali, saya selalu membuat teman-teman lebih dekat ke Tuhan karena seringnya mereka istigfar.

Ketiga kalinya saya bawa teman-teman nyasar, mereka akhirnya bagi-bagi tugas. Tugas saya mengingat barang atau obyek apa adanya di tempat mana. Orang kedua dapat tugas mencari di google map lokasi si tempat yang saya sebut. Orang ketiga cek ricek di google kuatir saya salah sebut nama tempat. Metode ini lumayan berhasil. Kami bisa sampai ke tempat tujuan. Yang jadi masalah sekarang pulangnya. Karena pas jalan pulang mata kami jelalatan ke mana-mana, alhasil kami sering melenceng dari arahan google map dan…nyasar lagi πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ .

Akhirnya di kali keempat kami berencana jalan bareng lagi, kami sepakat untuk ikhlas dengan apa pun hasil jalan kami. Salah satu teman saya kemudian memberikan kami kalimat motivasi tentang nyasar.
“Nyasar di kota kayak gini, oke lah. Kita hanya harus memastikan nyasar kita berfaedah. Faedahnya? Kita jangan pulang dengan tangan kosong. Harus ada yang kita jinjing pulang. Itu lah prinsip nyasar yang berfaedah.”
Kami mengangguk-angguk. Malam itu kami nyasar lagi saat jalan pulang sambil terengah-engah karena bawa belanjaan buaaaanyak. Malam itu, bukan hanya nyasarnya berfaedah. Umpatan kami pun berfaedah…

Sedikit tips supaya kalau kalian nyasar masih bisa mendapatkan faedah nih ya:
1. Catat nama toko yang kira-kira produknya lucu jadi bisa balik lagi ke situ kapan-kapan.
2. Belanja lah sebagai oleh-oleh nyasar.
3. Foto-foto di spot yang menarik untuk bahan instagram siapa tahu bisa balik lagi.

A post shared by dmariskova (@dmariskova) on

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.