Biarin aja lah

Saya sedang makan malam bareng beberapa teman asing di sebuah resto di Makassar ketika saya dengar seorang tersangka korupsi kelas wahid menang pra-peradilan di Jakarta. Saya cek twitter dan…yup…it’s there. Sontak semua keriaan saya di makan malam itu langsung menguap. Rupanya perubahan air muka saya terbaca jelas oleh teman-teman, entah bagaimana. “Everything OK, D?”

Saya menghela napas panjang dulu. Menjelaskan apa yang terjadi di Jakarta itu perkara mudah. Ada kasus mega korupsi. Ada tersangka. Tersangka melawan. Tersangka menang. Mudah kan?
Yang susah itu menjelaskan ke teman-teman ini kenapa mood saya bisa berubah se-drastis itu karena saya sendiri tidak tahu kenapa saya bisa sekesal itu. Kenal tersangka juga enggak. Berurusan dengan tersangka juga enggak. Dia mau kalah mau menang juga (sepertinya) tidak berhubungan langsung dengan saya. Toh saking gelisahnya, saya tidak tahan untuk tidak curcol di FB (aw, shut up!).

Why do you keep breaking your people’s heart, Indonesia?

Beberapa teman kemudian merespon curcol saya itu, baik di FB maupun japri. Ada beberapa yang komen ke saya, “Nggak usah dipikirin. Bisa apa juga kita?” atau “Biarin ajah laaaah” atau “Serius amat, De.” 🙄 Bete bacanya.

Awalnya saya juga mikir. Iya ya kenapa juga saya bisa sekesal itu? Segelisah itu? Dan saya bilang ke teman asing itu juga. “I’m not sure why this news pissed me off so much. I don’t even know him!”

Lalu teman saya yang bijak dan berumur 😛 bilang, “Maybe because you see something bigger than yourself. You consider the country, the future, or even your kids…The country they will live in later.”

Iya. Itu benar. Saya kesal tingkat dewa, saya gelisah luar biasa, karena saya tidak bisa membayangkan anak-anak saya akan mewarisi negara yang tidak lebih baik dari negara tempat saya hidup sekarang. Bila kegelisahan merupakan bibit tindakan dan kekesalan memunculkan perubahan, sebaiknya semua orang gelisah dan kesal. Komentar ‘biarin aja’ atau ‘enggak usah dipikirin’ hanya akan menghasilkan kepasrahan dan penindasan yang tidak selesai.

Ya terus kalau elo gelisah gini, D, elo bisa ngapain juga, hah?

Bisa ngapain ya?
Hmmm….

Saya bisa….
menolak diam?
menolak dipungli?
menolak diajak korupsi dan kolusi?
mengajarkan anak saya untuk tidak menoleransi korupsi dan kolusi walau kecil?
menyontohkan ke anak saya untuk berkata “TIDAK!” pada korupsi?

Eh. Anu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.