Kapan ada adiknya? Ketika Ortu Diajak Berhitung Gap Usia Anak

Awalnya gara-gara graduation performance Aiko yang membuat saya harus berinteraksi dengan orang tua lain secara intensif. Hmm…iya, saya modelan orang tua yang enggak pernah nongkrong di sekolah, jarang ikutan arisan emak-emak sekolah, jarang komen di group WA sekolah, dan enggak pernah main bareng emak-emak sekolah ke manaaa gitu. Biasanya sih saya menyalahkan pekerjaan. Lah abis arisan ortu diadakan di hari kerja, masa saya cuti ngantor hanya untuk arisan? Sebagai buruh 8-5 mendingan cuti ditabung buat Lebaran ya kan? Kan? Eniwei, gara-gara Aiko harus tampil di acara lulus-lulusan sekolahnya, saya jadi diikutkan ke grup WA emak-emak yang isi obrolannya, “Nanti yang jadi the Seven Dwarf beli kostumnya di mana?”

Pada satu kesempatan saya harus nongol untuk ambil kostum dan seorang Ibu tanya ke saya, “Mommy Aiko, umurnya berapa sih?”
Wahai perempuan, harus ya nanya soal umur? ๐Ÿ˜€
Sewaktu saya kasih tahu umur saya dengan jujur -25, bukan 17 tahun- dia membelalakan mata.
“Ya ampun, Mom. Enggak kelihatan loh!”
Okay, ini maksudnya pasti enggak kelihatan tua…. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€
Kemudian dia seperti berhitung. Aiko kan usianya 5.5 tahun. Jadi…umur berapa saya punya anak?
Karena saya kasihan lihat dia hitung-hitungan gitu, saya komentar langsung, “Udah tua, Mbak. Apalagi kalau saya jalan sama Kakaknya Aiko!”
“Oh, Aiko punya Kakak?”
Nah kan. Gara-gara saya enggak gaul, para ortu sampai tidak tahu Aiko punya kakak kekekeks…
“Kakaknya sudah hampir 15 tahun.”
“APPPAAAAAAA?!” zoom in zoom out zoom in zoom out

Punya dua anak yang beda usia jauh di kemudian hari ternyata membawa dinamikanya sendiri. Jelas saya lebih nyambung ngobrol dengan ortu di sekolah Hikari. Seumuran. Begitu saya ketemu ortu di sekolah Aiko, saya sering garuk-garuk kepala. Ho, begini ya sekarang gaya ortu sekarang? Saya pernah ngakak guling-guling sewaktu diceritain tentang arisan yang harus pakai seragam dan kalau ada yang enggak seragam maka wajahnya dicoret lipstik. Mungkin ini juga alasan kenapa orang sering kepo nanyain ‘Kapan punya adek lagi?’ Mungkin ini sebenarnya local wisdom untuk ngasih tahu ortu baru tentang age gap anak yang ternyata berpengaruh terhadap pergaulan ortu ๐Ÿ˜€ .

Yakin deh, semua orang tua baru dengan bayi berusia 1 tahun pasti akan mendapatkan pertanyaan ‘kapan punya adek lagi?’ setidaknya seratus satu kali dalam hidup mereka.
Tergantung jawaban si ortu, komentar berikut pasti akan menyertai:
“Jangan lama-lama, kasihan si kakak gak ada teman.”
Atau, “Cepat-cepat deh. Biar capeknya sekaligus habis itu ortu tinggal menikmati.”

Saat usia Hikari dua tahun dan kami belum ada tanda-tanda akan memberikan adik untuknya, saya mulai disindir kanan-kiri. Dari disangka punya masalah kehamilan sampai diinterogasi soal niat. Komentar para handai taulan hampir senada. Jangan terlambat untuk punya anak kedua.

Terlambat? Apa definisi terlambat? Berapa tahun kah terlambat itu?

Artikel ini memberi gambaran kira-kira apa yang akan dihadapi ortu (ibu, lebih tepatnya) berdasarkan age gap anak-anaknya. Bila terlalu dekat gapnya, tubuh dan emosi ibu akan terkuras untuk mengurus dua anak batita. Bila terlalu jauh, usia ibu akan mempengaruhi kondisi kesehatan.

Dengan Hikari dan Aiko yang jaraknya 9 tahun, saya merasakan dinamikanya seperti orang tua baru lagi. Kagok pegang bayi karena terakhir kali mengurus bayi ya 9 tahun lalu. Di sisi lain, saya dan si Papap lebih tenang melihat kondisi bayi yang colic bahkan demam. Enggak buru-buru lari ke UGD, yang pasti ๐Ÿ˜€ . Lalu, saya jadi punya asisten plus teman bermain Aiko. Hikari sudah bisa diminta jagain dan ajak main adeknya. Sementara itu karena Hikari sudah mandiri, saya tidak mengurus dua balita. Di sisi ini, teman saya pernah menyanggah karena anak sulungnya enggak mau sama sekali diikutin adeknya hehehe… Beda karakter anak, yes? Lalu, punya balita di antara orang besar ternyata membawa kelucuan sendiri. Mungkin, kalau kedua anak saya hanya berjarak beberapa tahun saja, saat ini saya dan Papap nelangsa duduk berduaan nonton TV tiap malam yang sepi karena anak-anak sudah remaja dan lebih memilih sibuk di kamarnya. Sekarang ini kan kalau kami dicuekin Hikari, ada Aiko yang kami jadikan mainan ๐Ÿ˜› .

Walau sudah menimbang pro dan con dari sibling age gaps ini, bagi saya, yang paling membuka mata ternyata soal pergaulan para orang tua yang beda banget gayanya. Justru poin ini malah tidak pernah terpikirkan sama sekali. Kami harus menyesuaikan cara berpikir kami di kelompok umur yang berbeda karena soal relevansi. Apa yang dulu relevan di masa Hikari TK menjadi tidak relevan di masa sekarang saat Aiko TK, dan sebaliknya.

Kalau ingin baca lebih lanjut tentang sibling age gaps, bisa ke link di bawah ini nih.
https://www.babycentre.co.uk/a563447/sibling-age-gaps
http://www.parenting.com/article/ready-for-another-child

Akhirnya, kata saya sih persoalan sibling age gaps ini harusnya balik lagi ke tiap-tiap orang tua. Ada yang sanggup ngurus beberapa balita sekaligus, ada juga yang pasang bendera putih minta ampun. Nah, saya masuk kategori kedua tuh ๐Ÿ˜‰ . Kalau kalian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.