Baper Berjamaah di PPDB Online bagian 1

Ini harus banget saya nulis soal ini saking level bapernya tinggi banget ๐Ÿ˜€ . Ini pertama kalinya saya bikin postingan berseri gini juga haha…

Bagi yang belum tahu apa itu PPDB, ini adalah sistem Penerimaan Peserta Didik Baru dari jenjang SD sampai SMA yang sekarang berlangsung online di beberapa daerah. Belum semua kota di Indonesia menggunakan PPDB online dan bukan hanya soal fasilitas teknologi yang terbatas tapi juga karena bila diterapkan di masyarakat yang belum siap, panitia bakal digeruduk dengan orang tua yang level bapernya mengerikan ๐Ÿ˜€ .

Tahun ini Hikari lulus SMP dan kami orang tuanya sudah stress sejak setahun lalu ๐Ÿ™ . Stress ini sebenarnya karena school goal Hikari untuk jenjang SMA adalah masuk sekolah negeri. Level stress kami pun bertingkat. Setahun lalu, level stress kami masih di tahap ‘mau SMA negeri mana?’ sampai ke level stress tahap kenyataan ’emang bisa sekolah di mana’ sejalan dengan nilai try out Hikari sepanjang kelas XI yang enggak naik-naik :mrgreen: .

Walau saya lulusan sekolah negeri sejak SMP sampai kuliah, Hikari belum pernah sekolah di sekolah negeri. Alasannya bukan gengsi tapi lebih ke karakter Hikari yang agak susah dikasih model pengajaran yang umum di sekolah negeri. Sejak masuk kelas XI, Papap merasa sudah waktunya bagi Hikari untuk belajar kehidupan sebenarnya. Asli lebay. Tapi memang Papap berkeras Hikari keluar dari bubble lingkungan yang nyaman, suportif, dan akomodatif terhadap karakternya yang unik. Mari kita lihat apakah tiga tahun ini teori Papap berjalan mulus. *menunggu ada yang teriak buat anak kok coba-coba*

Ingatan saya saat saya daftar masuk sekolah dulu agak mengenaskan. Saya tidak pernah merasa stress saat mencari sekolah. Entah kalau si Mami dan Kumendan yang stress. Kayaknya sih enggak soalnya si Mami terutama tidak pernah menjadikan topik ‘waktu De’ cari sekolah’ sebagai bahan obrolan emak-emak. Ha! Karena saya tidak ingat pernah stress saat daftar sekolah -mulai SMP sampai kuliah, saya malah jadi nervous karena sekarang harus mengingat-ingat bagaimana rasanya mengurus sekolah negeri. Saking nervousnya, saya sudah ngumpulin info soal cara daftar sekolah negeri sejak setahun lalu: dari mulai testimoni teman sampai mantengin website PPDB yang tentunya masih berisi info tahun lalu ๐Ÿ˜› .

Karena informasi dari pihak kedua, ketiga, kesekian pun belum mampu mengentaskan rasa nervous, akhirnya saya dan seorang teman yang punya school goal sama, janjian untuk keliling Jakarta Timur untuk survey sekolah demi mendapatkan informasi dari pihak pertama. Kami berbagi daftar sekolah dengan ranking dan nilai minimum untuk janjian cuti demi bisa kelilingan seharian dari satu sekolah ke sekolah lain. Daftar pertanyaan dan daftar action juga kami bikin rapi supaya enggak lupa apa aja yang mau ditanya atau apa yang mau dilakukan. Di antara daftar action, teman saya menyelipkan poin ‘ke toilet’.
“Emang segitu jauhnya ya sekolah-sekolah ini sampai elu harus ke toilet di tiap sekolah?”
“Bukan buat pipiiiiiis, Deeee! Ini buat survey ke-higenis-an sekolah!”
“Lah anak kita kan cowok, cuy. Gimana survey-nya? Elu mau masuk toilet cowok?!”
Poin itu dia belum pikirin. Plis deh.

Pagi di hari kami akan keliling, kami malah nervous mikir harus pakai baju apa. Saking pengalaman dengan sekolah swasta yang lumayan informal, kami merasa bertamu ke sekolah negeri pakai kaos (rapi casual) dan celana jeans akan jadi masalah. Yang saya ingat dulu si Mami kalau ke sekolah saya selalu pakai baju rapi resmi dan kadang malah pakai blazer haha! Apa iya sekarang juga masih begitu? Begitu jamnya saya janjian dengan teman, kami malah pakai baju office wear ๐Ÿ˜€ .

Saat akan survey ini, jujur saja, sebagai lulusan generasi yang kenyang mengalami bobroknya birokrasi, bahkan untuk level DKI Jakarta, saya agak sangsi kalau kami akan mendapatkan lebih banyak info berguna dibanding info dari website PPDB. Jujur juga, website PPDB ini sangat informatif untuk info awal dan dibuat dengan profesional. Tidak seperti website lembaga pemerintah yang isinya hanya sarang laba-laba. Begitu kami sampai di sekolah pertama, saya dan si teman dorong-dorongan untuk siapa yang nongolin muka duluan ke ruang guru. Sialnya begitu giliran dia mendorong saya, saat itu juga ada guru nongol di depan kami. Terpaksa lah saya jadi orang dewasa matang dulu daripada nanti Hikari diciriin karena emaknya memalukan ๐Ÿ˜€ . Di luar ekspetasi saya (yang rendah itu), proses cari info ini berjalan sangat lancar. Kami diterima dengan baik, dikasih lihat prosedur pendaftaran yang sama dengan di website, dikasih lihat nilai minimum, ditenangkan saraf kami yang mulai konslet karena terlalu banyak nanya, dan disemangati. Daaaan…yang bikin saya salut luar biasa adalah mereka memastikan tidak ada pungli, tidak ada bayar ini itu, semua hhhraaatiiiiisssss, semua transparan! Pinch me, am I in Indonesia?!

Kami keluar dari sekolah pertama dengan percaya diri yang mulai meningkat. Cuusss…kami pun langsung ke sekolah kedua. Same story. Walau kami hanya ditemui guru piket (karena jam istirahat), kami diantar ke papan pengumuman berisi informasi lengkap petunjuk teknis PPDB yang terpajang di lobi sekolah. Yang lebih membuat saya semakin salut adalah informasi di sini sama persis dan konsisten dengan informasi dari sekolah pertama! Saya kena Omaigad moment banget. Selesai di sekolah kedua, perasaan kami lebih tenang karena lebih mengerti prosedur tapi juga lebih stress karena…BUSET YAAAAK INI SEKOLAH NILAI MINIMUNYA TINGGI-TINGGI AMAAAAT! Rasanya saya pengin balik ke rumah, guncang-guncang Hikari, dan nyetrap dia 24 jam cuma buat belajar doang! Selesai di sekolah kedua, kami masih kekeuh mau ke sekolah ketiga. Selain untuk mencari tahu lokasi sekolah (iyaaa kami enggak tahu sama sekali ini sekolah-sekolah ada di mana hahaha!) juga untuk mengkonfirmasi informasi. Sekolah ketiga ini seakan mengkonfirmasi semua informasi dari website dan dari dua sekolah sebelumnya. Bahkan di sekolah ketiga, kami sampai diceritakan jenis-jenis orang tua yang datang mendaftar. Ceritanya berkisar dari yang tidak paham menggunakan sistem online (berhadapan dengan komputer itu bikin nervous, Jendral!) sampai yang berusaha memalsukan Kartu Keluarga. Ada yang nangis-nangis minta anaknya diterima di sekolah itu padahal rayonnya bukan di situ. Ada yang pembantunya disuruh bolak-balik nanya ke sekolah padahal…si majikan bisa tinggal buka website. Kasian banget pelaksana PPDB di sekolah ngadepin ortu kalau dipikir-pikir hehehe…

Pulang dari survey hari itu saya merasa bahagia banget bukan karena dapat informasi banyak (ya itu juga sih) tapi lebih ke saya mengalami sendiri betapa birokrasi di negeri kota ini bisa kok melayani publik dengan profesional tanpa ongkos.

Bagi yang akan ikut PPDB tahun depan, saya sih sarankan persiapan kayak gini:
Baca website PPDB selengkapnya. Walaupun informasinya masih yang tahun lalu, kita bisa punya bayangan apa aja persiapan yang diperlukan dan dokumen apa aja yang disiapkan. Informasinya hampir 90% sama dengan proses tahun berikutnya.
Tanya-tanya pengalaman tahun lalu. Kalau punya kenalan yang baru saja mengikuti proses PPDB online ini bisa dimintakan testimoninya. Siapa tahu ada pengalaman dia yang bisa bikin kita berjaga-jaga, misalnya sistem pendaftaran tiba-tiba offline. Sebaiknya tanya ke lebih dari dua orang untuk bisa menyimpulkan.
Survey ke sekolah. Ini penting banget bukan hanya untuk tahu lokasi sekolah dan bagaimana caranya anak pergi ke sana (kalau belum tahu kayak saya hehe) tapi juga untuk memastikan anak kita nyaman dengan sekolahnya. Iya, bawa anaknya sekalian ke sekolah. Ehtapi jangan datang Sabtu Minggu nanti yang nemuin Satpam doang.
Bawa daftar pertanyaan untuk ditanyakan ke sekolah. Sampaikan informasi apa yang ‘denger-denger’ supaya bisa diluruskan. Bukan ke dokter aja loh yang harus bawa daftar pertanyaan. Eh, ke dokter bawa daftar pertanyaan kan?
Akhirnya, siapkan deh segala dokumen yang diperlukan jauh-jauh hari. Sebagai informasi, bila lokasi sekolah sebelumnya beda provinsi dengan sekolah yang dituju, anak harus melampirkan KK asli sebagai informasi domisili. FYI, kalau misalnya, domisili anak baru dipindahkan ke kota tujuan demi supaya bisa masuk sekolah itu, jangka waktunya minimal 6 bulan sebelum pendaftaran. Jadi, seperti teman saya nih, rumah di Jakarta coret alias Bekasi, lokasi sekolah di Depok, sekolah yang dituju di Jakarta, dia memindahkan nama anaknya ke KK rumah Eyang indah di Jakarta Timur. Nah, pemindahan itu harus 6 bulan sebelum dia daftar sekolah.

Setelah semua kelengkapan beres, tinggal nungguin anak ujian nasional deh. Kalau sekolah yang dituju termasuk sekolah favorit yang artinya semua orang berkompetisi masuk sana, ya anaknya kudu dapat nilai tinggi. Bisa dimulai lah itu ritual mantengin anak belajar tiap malam ๐Ÿ˜› . Tapi kasian ah. Kan sekolah harusnya fun dan mencerahkan, bukan demi nilai semata *kedip kedip* ๐Ÿ˜Ž .

Tulisan tentang hari H daftar PPDB online di postingan berikutnya yaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.