Kaca pada Matamu

Okay, saya mau buat pengakuan dosa.

Duluuu sekali, jaman saya masih muda banget, saya diam-diam mendambakan bisa memakai kacamata. Bisa, maksud saya bukan sekadar memakai, tapi benar-benar perlu memakai kacamata. Sakit jiwa, memang. Alasan saya waktu itu cuma satu: pengin kelihatan keren dengan gonta-ganti kacamata menyesuaikan color mood saya hari itu. Saya baru tahu kemudian frame kacamata keren mahalnya luar biasa dan gonta-ganti kacamata setiap kali mood saya berubah tidak hanya membuat saya bangkrut tapi juga bisa membuat saya harus bangun sebelum subuh supaya punya waktu untuk memilih kacamata sebelum berangkat ngantor ๐Ÿ™„ .

Pertama kali saya pakai kacamata di usia 30an sekarang kan masih 22 karena saya merasa mata saya sudah susah fokus tiap menulis di komputer atau membaca. Dengan girang, saya pun pergi ke dokter mata. Sialnya si dokter mata tidak percaya mata saya bermasalah karena menurut dia saya hanya kelelahan ๐Ÿ˜ . Kata teman saya, kalau kelelahan, lebih baik ke spa daripada ke dokter mata. Saya tidak menyerah. Pergi lah saya ke optik. Hasilnya? Optician di optik bilang mata saya minus ๐Ÿ™ . Enggak, saya bilang mata saya plus. Saya susah baca jarak dekat dan kerja di komputer. Si optician cek mata saya lagi.
“Minus, Mbak.”
“Saya bisa melihat jauh dengan sempurna, kok.”
“Tapi Mbaknya masih muda. Enggak mungkin plus!”
Lah? Padahal mesin cek mata itu enggak ada aplikasi ngecek umur kayaknya ๐Ÿ™„ .

Singkat cerita, berdasarkan angka-angka dari ‘mesin mata’ itu saya pulang dengan membawa kacamata lensa minus.
Saya langsung stress. Keluar dari optik itu saya baru sadar bikin kacamata itu mahal. Apalo?! Apalo?!

Kacamata lensa minus itu enggak lama saya pakai. Kalau diingat-ingat, mungkin malah hampir tidak pernah saya pakai. Dan, saya baik-baik saja. Beberapa tahun kemudian baru lah saya berhasil mendapatkan stempel dokter mata bahwa mata saya plus dan harus pakai lensa progresif. Dasar manusia tempatnya galau, setelah benar-benar butuh pakai kacamata, plus pula, saya malah enggak pernah pakai. Bila sedang kerja di laptop, laptopnya saya mundur-mundurkan supaya kelihatan. Saat baca buku, bukunya saya putar-putar untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Saat main hape, fontnya saya gedein ๐Ÿ˜Ž . Saya punya teori pembiasaan untuk mata saya. Mungkiiiiiiin, mungkin, kalau saya biasakan mata saya membaca tanpa kacamata plus itu, mata saya akan terbiasa, enggak manja, dan normal lagi ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ .

Berbulan-bulan setelah itu, saya menyerah dan mulai rutin pakai kacamata saya. Saya kapok. Alasannya sederhana. Pada suatu hari, saya sedang makan rawon, dan saya salah mengidentifikasi sesuatu di mangkok saya itu. Saya pikir bumbu rawon….ternyata semut.

Saya insyap.

Sekarang, setiap tahun ukuran lensa saya berubah terus. Minus saya berkurang, plus saya bertambah.
Seandainya ukuran minus-berkurang-plus-bertambah itu mendeskripsikan kelakuan saya, ibu saya pasti sujud syukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.