The One that Matters

Saya bukan penonton apalagi penggemar Pak Mario Teguh. Apabila saya kemudian tidak memindahkan channel ke stasiun TV lain pada malam itu saat acara Pak Mario berlangsung adalah karena saya ingin lihat wajah-wajah para pemuda yang mengalami siksaan saat bekerja di pabrik wajan di Tangerang. Anda tahu beritanya kan?

Pak Mario malam itu mengundang tiga orang pemuda yang sudah berjasa membuka praktek perbudakan modern itu. Dan saya memutuskan untuk tidak memindahkan channel TV. Saya ingin tahu darimana mereka mendapatkan keberanian itu.

Di layar TV, salah satu pemuda yang paling muda menangis terisak saat diminta menceritakan pengalamannya. Sementara dua orang temannya terlihat lebih tabah.
Pak Mario bertanya, “apa yang anda pikirkan sekarang?”
Anak muda ini menjawab sambil terisak menahan perasaan berat, “saya ingin bos mendapatkan hukuman berat sekali…”
Lalu dia terisak lagi.
Kejadian berikutnya yang sampai sekarang melekat di kepala saya.

Saat mendengar kalimat anak muda tadi, Pak Mario memotong.
“Anda ingin bos anda menderita atau anda ingin dibebaskan dari penderitaan dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik?”
Pemuda itu terdiam kaget. Seakan berpikir. Dengan berat tapi sadar, dia menjawab, “saya ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

More than once in life I feel like swearing. Ketika kita saya menyadari bahwa ada manusia di luar sana yang sudah memperlakukan saya dengan tidak adil tanpa saya bisa membela diri, yang saya ingin lakukan adalah berharap, berdoa, orang itu akan mendapat balasannya. Tapi acara Pak Mario malam itu menampar saya.

Who matters? What matters most?
Apakah kemalangan seorang bajingan lebih penting disebutkan ke langit daripada kebahagiaan saya?

Nope. I am -we are- more important.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.