Rumah untuk Sel-Sel Kelabu

20130502-154034.jpg
Mungkin otak saya terdiri dari partisi-partisi. Setiap partisinya memproses hal berbeda-beda yang bekerja pada saat bersamaan sehingga bisa menghasilkan kemampuan multitasking level advanced. Buktinya adalah buku-buku tulis kecil yang biasa disebut notes. Tahun yang baru berjalan 4 bulan ini, saya punya lima buku.

Sudah jadi kebiasaan saya sejak…mungkin SMP membawa buku-buku kecil ke mana-mana. Buku tulis yang biasanya gratisan -hadiah dari bank atau bikin sendiri dari kertas bekas yang dijilid- saya pakai untuk menuliskan random thoughts yang bersliweran di kepala saya. Semakin tua, jumlah buku semakin banyak. Alasannya ya itu. Otak partisi saya. Saya tidak mau, tidak bisa, tidak enak rasanya mencampur berjenis-jenis pikiran di satu buku. Sekarang ini buku saya terdiri dari:
-buku untuk random thoughts beneran. Semacam diary.
-buku berisi ide-ide tulisan dan coretan dialog imajiner tokoh-tokoh saya.
-agenda setahun yang ternyata tidak bisa digantikan oleh digital agenda di gadget.
-buku berisi ide-ide mengajar dan lesson plan.
-buku berisi ide-ide untuk proyek baru saya.

Semua buku-buku berukuran seperempat kertas A4 itu saya bawa ke mana-mana!
Saat saya nunggu bis atau cowok kece lewat, saya bisa ngurek-ngurek buku tulis itu untuk merekam ‘bisikan gaib’ di kepala. Saat saya di kelas memperhatikan murid-murid saya jumpalitan, saya bisa tiba-tiba punya ide untuk lesson berikutnya dan segera saya rekam ide itu di buku yang lain.
Apakah semua ide yang ditulis bakal dieksusikan? Enggak juga. Tapi saya sering terkagum-kagum dengan diri saya sendiri setiap kali membaca ulang catatan-catatan saya yang lama. Kadang banyak yang tolol, ada juga yang brilian.

Seorang teman pernah meledek. Seharusnya saya membuang kebiasaan beserta buku-bukunya saat saya memiliki tablet. Bukan kah tablet computer mempunyai aplikasi canggih untuk menyimpan semua isi sel-sel kelabu saya?
Well, no. Seperti yang sudah saya alami, nothing can beat the simplicity of pen and paper.

Jadi, apa bentuk rumah untuk sel-sel kelabumu?

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 thoughts on “Rumah untuk Sel-Sel Kelabu

  1. Whoaa, banyak banget bukunya mbak. Saya cukup bawa satu buku sakti saja, untuk mencatat semuanya, kecuali klo meeting, berarti ada buku lain untuk ngotret-ngotret. Semua pertanyaan terkait Dea yang mo ditanyakan ke DSA saya catat di sana. Things to do juga di situ, ampe post it belanjaan juga saya tempel di situ hehehhee. Tapi entah kenapa saya ga pernah nyatet ide buat ngeblog, sukanya spontan saja.

    Memang ya ga ada yang bisa menggantikan catatan manual ini. Bahkan klo meeting pun, saya lebih suka nyatet sendiri, lebih ngerti ketimbang menunggu MoM yang sudah dibuatkan.

Leave a Reply to Mariskova Cancel reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.