To Work. Or Not To Work.

Saat memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran, kebanyakan orang dewasa saya berpikir hanya perlu melakukan diskusi panjang dengan diri sendiri dan partner rumah tangga. Berbulan-bulan saya dan Papap mempertimbangkan ini itu mengenai kelangsungan operasional rumah tangga tanpa sedikit pun terpikir bahwa anak-anak kami, Hikari misalnya, perlu diajak ngobrol.

Dua bulan setelah Hikari sering melihat saya lebih banyak di rumah, Hikari mulai bertanya. Mama kok gak bekerja?
Waktu itu, tanpa banyak pikiran saya bilang saya berhenti bekerja di kantor itu.
“Kenapa?”
“Supaya Mama bisa punya lebih banyak waktu untuk kamu dan adik.”
“Waktu untuk apa?”
“Waktu untuk bermain, belajar, yaaa… untuk bersama-sama kamu.”
“Memangnya Mama kemarin-kemarin tidak punya waktu?”
“Mmmm…. waktunya lebih sedikit. Apalagi sama adik.”
Hikari sepertinya sedang berpikir keras dan saya melihat kesempatan itu untuk menguliahi beberapa hal yang harus berubah karena perubahan kondisi saya.
“Kita harus mulai berhemat.”
“Kenapa?”
“Karena uang Mama jadi lebih sedikit.”
Hikari berpikir lagi.
“Lalu Mama senang dengan gaya hidup seperti itu?”
“Hah? Maksudnya?”

Singkat cerita Hikari rupanya bingung karena saya mau-maunya melepaskan beberapa kenyamanan hidup demi berada di rumah lebih banyak. Sementara saya terhenyak setelah menyadari Hikari, salah satu alasan kenapa saya memilih untuk lebih banyak di rumah, tidak begitu membutuhkan waktu saya terlalu banyak. Saya jadi ingat di suatu masa saat saya dan adik-adik saya masih SD. Saat itu si Mami sedang cuti dan siang-siang ada di rumah. Hari ini ada di rumah. Besoknya ada lagi di rumah. Lusanya ada lagi di rumah. Adik saya dengan polos bertanya, “Mama kapan kerja lagi?!”
Diam-diam saya mengamini pertanyaan adik saya. Soalnya kalo si Mami ada di rumah cerewetnya minta ampuuuuun!
Tapi tentu saja saya berbeda dengan si Mami.
yeah right

Akhirnya pada satu hari saya memberanikan diri bertanya kepada Hikari walau dengan resiko berakhir dengan hati teriris-iris sembilu.
“Ri, memangnya kamu lebih senang Mama bekerja ya?”
“Iya sih.” Hikari menjawab sepolos-polosnya.
“Kenapa? Kamu tidak suka Mama ada terus di rumah bersama kamu dan adik?”
“Senang juga sih.”
“Tapi kamu lebih senang Mama bekerja?”
“Iya sih.”
“Gimana sih, Ri. Mama jadi bingung. Jadi kamu lebih senang yang mana?”
“Aku juga bingung. Mama lebih senang yang mana?”

Hari itu saya belajar. Untuk mengambil keputusan apapun yang menyangkut semua anggota keluarga, anak sekecil Hikari yang baru kelas 5 SD pun punya hak untuk menentukan perasaannya. Dan perasaan dia mengatakan…
“Bukannya kata Mama aku harus selalu bekerja keras dengan belajar? Kalau Mama berhenti bekerja, berarti Mama tidak bekerja keras lagi?”

Maksud Hikari, berarti saya hanya malas-malasan saja sementara dirinya diwajibkan untuk belajar terus.
Artinya saya harus mulai menulis blog, menulis cerita, menuliiiiiiis lagi supaya tidak dibilang malas-malasan…

2 thoughts on “To Work. Or Not To Work.

  1. “Soalnya kalo si Mami ada di rumah cerewetnya minta ampuuuuun!
    Tapi tentu saja saya berbeda dengan si Mami.
    yeah right”

    Catet…. 🙂

  2. Hahahaha, dicatet Mbak. Klo kasus saya, sepertinya Dea senang klo saya tidak bekerja, karena itu berarti ASI-nya unlimited, hehehehe. Tapi, di luar dugaan, ART ga pengen saya berhenti bekerja, karena itu berarti bakalan ada yang akan ngerecokin kerjaannya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.