Kamu Gak Perlu Bilang Wow Dan Koprol Segala!

Sejak mengeluarkan diri dari pekerjaan 8-to-5 kemarin ituh hidup saya terasa nikmat sekali. Bangun siang, becanda dengan baby Aiko, mandi telat, makan siang di rumah, berangkat santai ke tempat mengajar di siang menjelang sore, sampai di rumah lagi sebelum Azan Isya, makan malam di rumah, dikerjain Hikari yang jahil, nemenin anak-anak tidur, lalu menulis dan begadang sampai jam 3 pagi untuk kemudian bangun siang lagi di keesokan harinya. Nikmat.

Saking nikmatnya saya sampai ngeri sendiri akan terbiasa dengan rutinitas yang terbalik dengan orang normal lainnya. Perkara saya bukan orang normal dari dulunya ya itu urusan belakangan. Yang membuat sehari-hari saya masih agak ‘teratur’ adalah karena saya memutuskan untuk kembali mengajar lagi. Sebelumnya, sejak saya berkutat dengan urusan manajemen, saya paling-paling hanya bisa mengajar 1 kelas. Sekarang, kegiatan saya yang resmi ya melulu mengajar. Dan yang namanya mengajar, cerita sampingannya buanyaaaaaaaaaaaak banget.

Sekarang ini saya punya kelas beragam dari kelas anak kecil (SD), anak abege, sampai orang kerja. Tiap kategori kelas punya geli-geli-nya sendiri sekaligus punya momen-momen saat saya harus pijet-pijet jidat.

Dua kali pertemuan di kelas anak yang isinya anak-anak kelas 4 SD, salah seorang anak laki bergaya macho bernama Davi bertanya lantang ke saya sambil mengumbar senyum machonya.
“Ma’am! Ma’am sudah punya pacar beluuuuum?”
Saya yang lagi menganga karena sedang menerangkan sesuatu terpukau melihat senyum machonya.
“Jadi, Ma’am sudah punya pacar, belum?” tuntutnya.
Saya pun berubah kalem dan memberikan senyum tercantik yang saya punya.
“I don’t have a boyfriend, Davi…”
Mata Davi berkelap-kelip. Senyumnya semakin lebar.
“I haaaaaaaaaaaaaave a husband.”
Lalu bergema lah jeritan serempak, “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Itu kelas SD. Kelas yang isinya anak-anak abege SMP lain lagi ceritanya. Di pertemuan ketiga, saya melihat ada anak perempuan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Anak perempuan memakai seragam sekolah dari sekolah ngetop di daerah sini sibuk menyisir rambut panjangnya. Di kelas. Menyisir di kelas di depan teman-temannya. Karena menyisir di kelas di depan siswa tidak termasuk salah satu hal yang dilarang di tempat saya mengajar dan juga tidak termasuk hal yang membahayakan keselamatan siswa lain, saya tidak berkomentar. Ketika saya selesai mengecek kehadiran seluruh murid, nama anak perempuan ini tidak ada di daftar.
“Hi!” sapa saya sambil melambaikan tangan ke anak ini yang masih sibuk dengan sisirnya. Dia hanya melirik saya sedikit.
“What’s your name? I don’t have your name on the list.”
Lalu saya melihat dia mengambil napas dalam-dalam dan sedetik kemudian keluar jeritan dari mulutnya, “Saya kan gak masuk karena baru pulang dari AMEEEERIIIIKAAAAAAAAAAA!”
Satu kelas berisi tujuhbelasan siswa terdiam menahan napas sambil lirik-lirikan.
Saya mengambil napas dalam-dalam daaaaaaaaaaaaaaan… tersenyum manis.
“Di daftar saya hanya ada nama siswa. Tidak ada catatan siswa baru pulang dari Amerika. Jadi sebaiknya kamu turun ke kantor administrasi, minta surat pengantar, baru kembali lagi ke kelas ini. Sekarang.”
Anak perempuan bernama Valen ini akhirnya melangkah gontai ke luar kelas. Lewat lima menit kemudian dia balik ke kelas sambil manyun saat saya sedang menjelaskan tugas hari ini.
“Your assignment is to buy a birthday present for your mom. You have 200thousand rups to spend.”
Belum juga duduk di kursinya, si Valen sudah menjerit(!) lagi. “Tapi mami saya maunya tas LV untuk ulang tahunnya!”
Sekali lagi saya tersenyum manis. “As long as you can buy it for 200thousand rups, Valen.”
Sejak itu Valen tidak pernah membuat onar lagi.

Di kelas yang yang sama dengan si Valen, ada seorang anak laki-laki bernama Rama yang hobinya komentar sambil teriak.
“Ma’am, si Bagus pakai topi di kelas!”
“Ma’am, si Archi datangnya terlambat melulu sih?”
“Ma’am hari ini gak kehujanan?”
“Ma’am, sejak kapan pakai kaca mata? Kemarin kok gak pakai?”
“Ma’am, kaca matanya kok dibuka lagi?”
“Ma’am, itu kaca mata cuma buat baca?”
“Ma’am, kaca matanya gak bisa dipakai terus-terusan?”
“Maaaaaa’aaam…”
“Ramaaaaaaaaaaaaaaa! What is it with you and my glasses?!” jerit saya bete.
Rama cengar-cengir. “Hehehehe…. soalnya Miss De’ lebih cakep pakai kaca mata….”
“…………..”
Mau ditelen tuh anak tapi kok rasanya pasti pahit….

Di kelas lain yang isinya juga abege anak-anak SMP, saya bete dengan hal lain lagi. Seisi kelas yang 90%nya diisi anak kelas 1 SMP itu doyan banget bilang ‘Terus, harus bilang wow gitu?’ atau versi panjangnya ‘Terus, gue harus bilang wow sambil koprol di depan kelas gitu?”
“Okay, class, today our topic is about going shopping.”
“Terus, akyu harus bilang wow gitu?”
Pertama kali, dalam hati saya. Saya melirik ke anak laki ini yang balik menatap saya sambil nyengir lebaaaaaaaaaaar.

Lain hari,
“Do you have any questions? No? Okay, let’s practice.”
“Jadi, kita harus bilang wow gitu?” kata anak lain.
Dua kali, hitung saya. “You’ll answer first.” Tunjuk saya ke anak wow tadi yang langsung disambut ketawa puas teman-temannya.

Hari lain,
“Look at this picture. What do you think about this boy?” tanya saya sambil memperlihatkan wajah salah satu personel One Direction.
“Handsoooooooooooooooome!” jerit yang perempuan.
“Terus, kita-kita harus bilang wow getoh? Sambil koprol? Berapa kali?”
Telunjuk saya langsung terhujam ke anak yang baru komen. Tangannya kontan menutupi mulutnya yang cekikikan.

Di setiap sesi si Wow dan si Koprol bertebaran dari mulut anak-anak abege yang memang sedang masanya doyan ngomong. Semua kena di-Wow dan di-Koprol-in. Saya, teman mereka sendiri, sampai staf admin yang membawakan daftar nama pun kena.

Hari itu,
“Okay, your assignment for today is…”
“Terus kita harus….”
“STOP THAT!” Saya bertolak pinggang di depan kelas.
Anak-anak langsung terdiam.
“If I hear the words WOW and KOPROL ONE MORE TIME….” saya mengambil napas panjang sembari memandang berkeliling. Anak-anak saling melirik takut-takut. “I’M GOING TO MAKE THAT PERSON KOPROL IN FRONT OF THE WHOLE BUILDING WHILE SAYING WOW ONE HUNDRED TIMES!”
Anak-anak mengunci mulutnya rapat-rapat menahan ketawa.
“AND I AM GOING TO RECORD THAT AND UPLOAD IT TO YOUTUBE!”
“NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Kelas itu akhirnya berhenti dari kecanduan wow dan koprol mereka.

5 thoughts on “Kamu Gak Perlu Bilang Wow Dan Koprol Segala!

  1. Gak nyangka kl di ‘kehidupan nyata’ wow dan koprol itu bisa kocak, selama ini saya mikirin emang lucunya dimana sih wow dam koprol itu 😀

  2. hehehehe, untung saya bukan guru yah? Bener-bener ga ada ide nanggapinnya. Pernah dulu waktu kuliah bantu temen ngasi mentoring lingkungan ke anak-anak sekolah, ternyata saya angkat tangan utk anak-anak SMP. Saya harus berusaha keras supaya ga diusilin, padahal ini kegiatan ekskul pilihan mereka sendiri loh. Sejak saat itu saya menyadari: kasian guru mereka 🙁

  3. OMG, you’re so COOL! dulu pernah ngajar, tapi keknya gak pernah bernyali ngajarin anak SMP abg gituh. serem bok! mendingan suruh ngajarin anak kecil dan nyebokin segala deh kalo pipis ketimbang berhadapan sama anak abege 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.