Hari Terakhir

Con Te Partiro -Andrea Bocelli

I’ll go with you,
to countries I never
saw and shared with you
now, yes, I shall experience them.
I’ll go with you
on ships across seas
which, I know
no, no, exist no longer;
with you I shall experience them.

Di Tokyo, 25 September, enam tahun lalu saya menuliskan lirik lagu Con Te Partiro. Beberapa hari setelahnya, saya harus pulang ke tanah air mengikuti si Papap yang selesai tugas sekolahnya. Con Te Partiro. I’ll go with you. To countries I never saw.Dua tahun sebelumnya, persis hal itu yang saya lakukan. Pergi mengikuti Papap ke negeri yang tidak pernah saya tahu. Dan dua tahun berikutnya kembali mengikutinya ke mana pun dia harus kembali.

Hari ini, saya kembali menuliskan lagu Con Te Partiro. Hari ini adalah hari saya harus berkata selamat tinggal. It’s time to say goodbye. To a place I call home for 14 something years. Tapi bukan karena mengikuti si Papap. I had to say goodbye to follow my heart.

Hari ini hari terakhir saya bekerja di kantor ini. Gedung ini. Kebanyakan orang pasti tidak ingin membayangkan hari ketika dia mengundurkan diri dari kantor. Begitu juga saya. Bahkan di momem-momen drama queen saya, Saya tidak pernah membayangkan akan melayangkan surat pengunduran diri karena perbedaan-perbedaan yang tidak bisa dijembatani. Irreconcilable differences.

Saya selalu membayangkan diri saya seorang fighter. People and I argued. We debated. We even fought. Sometimes I won. Other times I lost. I picked myself up. I would never quit.
This time I have to quit.

Ketika perjuangan untuk meraih kemenangan tidak lagi terasa sepadan dengan kebahagiaan batin, saya tahu waktunya sudah tiba.

Telinga saya mendengar teriakan marah. Menurut mereka saya menyerah kalah. Menurut mereka perjuangan belum selesai. Entah darimana datang kesadaran. Juga kekuatan. Saya bergeming. This is a fight I don’t want to take part in.

Hari ini hari terakhir saya berada di rumah selama 14 tahun. Ada kelegaan luar biasa. Dan juga kesedihan yang menumpuk. Satu-satu saya salami. Bila hidup adalah pilihan, maka pilihan saya kali ini membuat saya hidup. Happiness is not just a choice. It’s an attitude.

6 thoughts on “Hari Terakhir

  1. Been there, done that
    Saya juga pernah seperti ini mbak. Resign. dan ternyata setelahnya saya jadi lebih bahagia (meskipun dompet tidak). Saya setuju kalau kita sendiri yang harus membuat pilihan karena terkadang kita toh tidak bisa mengubah orang lain.
    Semangat mbak!

  2. Resign ya mbak??

    time to move forward….

    dengan 4 buku dan penguasaan 2 bahasa asing ..
    jalan rasanya sangat terbuka …
    (mudah mudahan dompet mengikuti :))

    SEMANGAT ……

  3. You won mbak, resign bukan berarti mengalah. Salut untuk mbak yang bisa menentukan sikap setelah mencoba bertahan. Semoga sukses dengan apapun yang menunggu saat ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.