Ter-Kaftan Kaftan

Sudah dua kali Lebaran si Mami tiba-tiba punya ide untuk menghadiahi saya baju Lebaran. Harusnya kan saya senang dong? Di situ masalahnya! Saya dan si Mami agak enggak kompak soal beberapa hal, misalnya model rambut, film favorit, warna kesukaan, hobi, buku bacaan, makanan favorit, tanaman kesukaan, ini, itu, ini, itu… sampai standar ganteng seorang laki-laki. Model baju adalah salah satu hal mendasar mengapa saya bersyukur satu-satunya foto keluarga resmi yang kami miliki adalah saat saya menikah. Jadi si Mami enggak bisa maksa pilihin baju buat saya hehehe…

Continue reading

A Cup of Caffeineism

It’s been twenty-something days that I have been caffeine-free, coffee speaking. And as a coffee addict, this means something. An achievement-of-the-year-award something. You see for years I have been able to free myself from many things -jealousy, ambition, grudges, hatred, my mom- but not caffeinated coffee. When a doctor told me my life would be a lot longer without caffeine, I told the good doctor he had to say the same thing to motorcyclists in Jakarta with their motorbike as an exchange for caffeine. Caffeine has been in my blood ever since I was an infant. My mom who believes black coffee is a traditional treatment for fever-cause seizures gave me my first two-spoonfuls of black coffee when I was no older than 6 months old! I had never had any seizure. I did get my first gastroenterities when I was 9 years old. It isn’t relevant, though. My dad, who was a coffee addict himself, allowed me to drink from his big glasses of black coffee since I was little. He only shared his precious black coffee with me. So, telling a young me to stop drinking coffee is hillarious. Yet, today I realized I was successfully free from caffeine for twenty something days without trying!

Continue reading

Kode Alam Semesta

Do you believe in signs?

Saya ini jenis orang yang percaya dengan kode-kode dari alam semesta. Misalnya, suatu kali saya sedang risau berat (kalau orang dewasa kan risau bukan galau) karena seseorang. Mau marah enggak bisa, enggak marah kok bisa jadi kanker. Berhari-hari saya pikirin soal ini. Eh pada suatu pagi yang aneh, tangan saya iseng nyari frekuensi radio di mobil saat sedang nyupir ke kantor. Dapat lah suara lagu favorit jaman muda dulu. Baru juga dengerin lagunya semenit, suara penyiar memutus lagu. Penyiar itu tiba-tiba ngomong: Forgive, Forget, Move On. Aaah siyal. Ngomongin saya ya?

Semingguan yang lalu saya harus membelah tiga provinsi untuk bisa sampai di rumah. Dengan menumpang taksi burung dan mata yang pelupuknya digondeli bantal, saya menyusuri Jakarta dari ujung barat ke ujung timur untuk kemudian berbelok melipir ke Depok dan akhirnya sampai ke Bekasi pinggiran Bogor. Begitu duduk di taksi, saya memastikan satu hal: supir tahu lokasi rumah saya kah? Pertanyaan ini penting karena saya berniat untuk tidur pulas di taksi. Setelah bangun jam 3:30, berangkat jam 5 sehabis Shubuh, mengajar 8 jam, dan baru selesai jam 5 sore, bisa tidur 1.5 jam di taksi tanpa terganggu adalah kemewahan. Apalagi di tengah kepenatan kepala saya karena satu hal maha penting soal pekerjaan. Jadi begitu duduk dan memastikan supir taksi adalah bapak-bapak berumur yang tidak punya tampang kriminal, saya pun bertanya…
Continue reading