Antara Senayan dan Sudirman

Hari Jumat tanggal 22 lalu saya muncul di pusat kota, sebutlah daerah sekitar Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, dan Kuningan. Momen yang harus dirayakan sebenarnya karena belum tentu sebulan sekali saya mau atau harus pergi ke pusat kota. Tiap kali saya harus ke daerah situ, yang terbayang pertama kali pasti macetnya, naik apanya, sama siapanya, sampai ke apa-segitu-pentingnya. Dengan lokasi rumah saya yang nun jauh di ujung sana, pergi ke pusat kota itu perlu persiapan dan perbekalan setara bepergian pakai passport.

Jumat kemarin saya pergi ke daerah Senayan untuk menghadiri launching novel Perempuan Pelukis Wajah, antologinya Mbak Ainun, Ndorokakung, Karmin Winata, dan teman-temannya. Acara yang wajib saya datangi karena saya kepengin baca isi novel mereka sekaligus minta cap bibir di novelnya 🙂

Selesai acara dan beberapa cap bibir kemudian (huehehe bohong deh. Saya enggak dapat cap bibir karena novel saya disandera salah satu penulisnya), datang pun waktunya saya untuk pulang. Rencana awal, si Papap akan jemput saya di PS situ. Kejadiannya, si Papap yang malas rebutan jalan dari ujungnya Sudirman ke daerah Senayan di jam orang pulang kantor itu malah menyuruh saya untuk naik bis Transjakarta ke halte Dukuh Atas. Dan perjuangan saya pun dimulai dari halte Ratu Plaza yang puenuuuhnya ampun-ampunan.

Dari pengalaman rebutan antrian, rebutan masuk bis, rebutan tempat duduk, sampai rebutan keluar, saya nyatet beberapa hal luar biasa di perjalanan itu:
1. Para perempuan pekerja necis cantik jalur Blok M-Harmoni ternyata punya jari-jari kaki sekuat gajah. Mereka dengan berani menggunakan sendal jepit diantara kerumunan orang-orang tak kenal belas kasih yang mengantri bis Transjakarta! Saya yang pakai sepatu boots malah jadi ngeri sendiri takut nginjek jempol mereka.
2. Kalau indikator keamanan bisa dilihat dari seberapa bebas para penumpang kendaraan umum menggunakan hape mereka di kendaraan umum, maka itu artinya jalur Blok M-Harmoni punya tingkat keamanan yang sangat tinggi.
3. Kalau indikator kemajuan bisa dilihat dari seberapa intens orang-orang menggunakan gadgetnya, maka ibukota ini maju banget. Ketimbang ngisi status fesbuk atau chat di bbm aja enggak bisa nunggu sampai di rumah. Walaupun bis yang saya tumpangi itu penuhnya astaganaga gak ketulungan, banyak para penumpang yang asyik ngisi status fesbuk dan bbmnya tanpa terganggu. Padahal mau berdiri satu kaki aja susah bener.
Commuter line di Tokyo berisi pemandangan sama yang penumpangnya sibuk mainin hape sepanjang perjalanan. Tapi saya jarang lihat pemandangan seperti itu saat rush hours. Soalnya mau pegangan satu tangan aja susah, apalagi mau main hape.
4. Anda jenis orang yang harus selalu dengar musik tapi earphone anda ketinggalan di rumah? Jangan kuatir. Geser badan anda sedikit mendekati teman seperjalanan. Bisa geser kiri atau geser kanan. Dengan kondisi umpel-umpelan seperti itu anda bisa mendapatkan hiburan musik gratis dari teman seperjalanan yang memasang musik di hapenya dan memakai earphone di telinganya tapi volume dipasang dengan level seperti sedang ada hajatan satu RT. Kuenceeng! Jangan kuatir soal pilihan lagu. Dengan volume sekencang itu lagu-lagu yang dipasang pasti yang Top40. Mana berani pasang dangdut?!

Tapi dipikir-pikir lagi lumayan lah sebulan sekali bisa lihat keajaiban macam begitu. Hitung-hitung cuci mata sekaligus jadi bahan ngeblog 🙂

You may also like...

1 Comment

  1. Hahaha, iya tuh percuma pake earphone, lha wong bocor gitu suaranya. Dan saya juga masi takjub ama yang pake sandal jepit di bis. Saya pernah pake sepatu sandal naik bis ke kantor, hasilnya? Kuku jempol tinggal setengahnya, kelindas penumpang yg dorong-dorong rebutan naik bis bak angkutan lebaran :((

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.