Sesuatu Banget

Hadiah dan Papap.

Setiap kali saya mendengar Papap berkata dia punya sesuatu untuk saya, perut saya malah mules. Papap punya definisi yang berbeda atas barang-barang yang bisa dijadikan hadiah. Seringkali, bukan rasa bahagia luar biasa yang saya rasakan saat menerima hadiahnya, malah rasa sakit perut luar biasa akibat pengen ketawa ngakak yang ditahan-tahan. Biar gimana juga, ketawa ngakak setelah menerima hadiah masih dianggap gak sopan 🙂

Suatu hari di jaman saya masih muda kinyis-kinyis, saya mendapat tugas baru: menjadi mentor untuk guru-guru. Karena tugas ini saya harus masuk ke kelas guru lain, duduk manis memperhatikan dia mengajar tanpa boleh tertidur saat saya harus mencatat ini itu untuk bahan diskusi setelahnya. Masalahnya, kecepatan tangan saya mencatat sering kali kalah jauh dengan kecepatan guru berbcara. Akibatnya, seringkali saya ketinggalan omongan guru yang bisa saya kutip. Jadi pada hari-hari itu saya rajin berkeluh kesah ke si Papap mengenai tangan kanan saya yang mulai terkena penyakit encok.
“Pap, pijetin tangan kananku dong.”
“Kenapa emangnya?”
“Encok kebanyakan nulis.”
“Tangan kan gak bisa encok.”
Segitu biasanya respon Papap atas keluh kesah saya.

Continue reading