Pilosopi Klepon

kleponKlepon, si makanan kampung ini tidak mudah dicari di kota. Setidaknya, tidak mudah dicari di tempat saya tinggal. Klepon yang bulat hijau berbalut taburan kelapa dengan isi gula merah cair mengandung filosofi yang dalem. Memakan klepon itu harus sekaligus satu butir. Tidak boleh digigit di tengahnya karena niscaya gula merah cair di dalamnya akan menyemprot kemana-mana membuat anda dan pembantu anda menyumpah-nyumpah karena noda gula merah susah hilangnya bila mengenai baju. Saat memakan klepon pun mulut anda harus mingkem sempurna dengan alasan yang sama seperti di atas. Lalu apa filosofinya?

Cara makan klepon itu mengajarkan kita saya untuk menahan mulut dan sensasi apapun yang saya rasakan saat ingin mengucap. Saya harus memikirkan dulu apa yang mau saya ucapkan beberapa saat karena kalau saya tidak sabaran dan main njeplak, gula merah itu akan muncrat kemana-mana yang nantinya saya sesali. Ngerti kan?

Tepuk Pramuka

Kalau ada hal yang tidak berubah di negeri ini selama 50 tahun salah satunya adalah seragam Pramuka yang coklat muda coklat tua itu. Mau dipakein dasi merah putih, dikasih topi anyaman, digantungin tali dan pisau di pinggang, teteeeep gak bisa bikin saya dan kulit hitam saya jadi lebih cakep. Dari dulu saya heran kenapa seragam pramuka kita gak berwarna biru seperti laut karena toh nenek moyang kita orang pelaut. Atau hijau seperti pohon karena Indonesia negara agraris. Tapi terlepas dari warna seragam Pramuka yang gak iFriendly (baca: friendly dengan I), saya harus mengakui bahwa tahun-tahun saya ikut kegiatan Pramuka adalah periode yang menyenangkan buat saya.

Jaman saya sekolah dulu -yang tentunya dimulai dari TK- kegiatan Pramuka di sekolah hukumnya wajib kudu. Bukan cuma wajib tapi juga kudu ada karena Pramuka adalah sejatinya propagandanya orde baru untuk membuat para pemuda-pemudi bangsa ini loyal kepada negara (baca: rejim). Jadi, tidak ada freewill. Yang ada setiap hari Sabtu, semua anak -mau anggota atau bukan- harus jadi anggota dan harus pakai seragam Pramuka ke sekolah. Baru saat saya SMA dan mulai melek warna, keanggotaan Pramuka menjadi sukarela.

Continue reading

Cobaan

Bulan puasa identik dengan bulan cobaan.
Kalau dipikir-pikir, setiap Ramadhan mendatangkan cobaan yang berbeda-beda buat saya.
Ada saat di satu bulan Ramadhan cobaan buat saya adalah pengen nyekek orang. Ada juga 29 hari puasa, cobaannya itu bener-bener cuma lapar dan haus. Padahal, saya jenis orang yang jarang merasa lapar dengan konsekuensi badan saya saingan dengan tiang bendera. Tapi, mungkin juga cobaan lapar dan haus itu terjadi karena saya disumpahin temen-temen yang dongkol dengan berat badan kelakuan saya yang sering makan banyak di depan mereka tapi berat gak naik-naik.

Continue reading

Tes Kepribadian

Pernah dengar teori yang mengatakan kalau kita ingin mengetahui kepribadian seseorang, kita harusnya melihatnya saat menyetir? Bukannya saya tak percaya teori ini, tapi agak susah juga menerapkan teori ini pada orang-orang yang tak bisa menyetir. Sebaliknya saya mempunyai teori yang agak berbeda. Saya malah percaya bahwa kepribadian seseorang bisa terlihat dari caranya duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Teori ini saya dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi supir orang tua saya.

Continue reading