You are what you think. Really?

Walau belum pernah mencoba, saya punya insting saya gak cocok ikutan yoga. Alasannya sederhana: salah satu instruksi di yoga adalah kosongkan pikiranmu.

Sumpah deh saya bisa mengosongkan apapun kecuali pikiran. Kalau kepala saya dipasangi kabel yang tersambung ke toa, anda pasti pusing dengar seliweran isi kepala saya karena bunyinya akan mirip dengan radio mobil yang frekuensinya diacak alien. Seperti di film-film.

Sekarang ini saya selalu harus begadang malam-malam buta untuk menidurkan (baca: menggendong) si baby. Durasi menidurkan bayi ini berkisar antara setengah jam sampai ayam berkokok besok paginya. Saat menidurkan bayi itu kepala saya ikut begadang. Kalimat demi kalimat bersliweran saling bertubrukan. Isinya kira-kira…

‘Be, bangun, Be. Gantian gendong, gitu loh!’
Atau, ‘Be, BANGUUUN, BEEEE!’
Atau, ‘Ebuset itu tetangga baru pulang!’
Atau, ‘Bab pertama draft gue kok gak asik gitu sih. Besok ganti ah.’
Atau, ‘Ih, anak gue cakep juga ya kayak emaknya.’
Atau, ‘OMG, jerawat gue nambah!’
Atau, ‘Ya ampuuuun si babe gak bangun-bangun?!’
Atau, ‘Besok bikin spaghetti untuk Hikari, ah.’
Atau, ‘Eh, bikin spaghetti jangan besok. Ngantuk.’
Atau, ‘Malam buta begini ada twit apa ya?’
Atau, ‘Satu tambah satu berapa ya?’
dan seterusnya…

Akibat kepala saya yang tiap malam penuh itu, kerut-kerut di jidat saya bertambah secara signifikan jumlahnya. Mungkin juga karena durasi mikirnya sekarang jadi lama. Kalau sebelumnya kan saya bisa tidur malam jadi durasi mikirnya terpotong. Untung cita-cita saya jadi Miss Universe sudah beralih menjadi seorang guru dimana kerut-kerut di dahi menjadi keharusan untuk menandakan pintar tidaknya seseorang. Lalu seorang tante saya yang melihat betapa kuyu dan kuryusnya saya sekarang memberi nasihat, “kamu jangan banyak mikir. Kalau si baby minta digendong terus, nikmati aja. Gak usah dipikirin jadi stres gitu loooh.”

Akhirnya sekarang setiap kali sliweran kata-kata mulai muncul di kepala, saya menyugesti diri dengan nyebut di dalam hati, “gak boleh mikir. Gak boleh mikir. Gak boleh mikir. Gak boleh mikir…” …sampai pagi. Termasuk postingan gak penting ini. Akibat saya gak mau mikir.

Posted with WordPress for BlackBerry.

One thought on “You are what you think. Really?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.