You are what you think. Really?

Walau belum pernah mencoba, saya punya insting saya gak cocok ikutan yoga. Alasannya sederhana: salah satu instruksi di yoga adalah kosongkan pikiranmu.

Sumpah deh saya bisa mengosongkan apapun kecuali pikiran. Kalau kepala saya dipasangi kabel yang tersambung ke toa, anda pasti pusing dengar seliweran isi kepala saya karena bunyinya akan mirip dengan radio mobil yang frekuensinya diacak alien. Seperti di film-film.

Continue reading

Blak-blakan

Saya selalu ketawa ngakak lihat iklanĀ Joni Blak ini. Ngakaknya karena dua alasan: satu, iklan ini selain konyol punya pesan yang nyentil banget, dan dua, iklan ini bikin saya berkaca.

Jadi ceritanya ada pemuda kampung bernama Joni. Sejak kecil dia sudah di ‘ramal’ kan akan menjadi orang yang blak-blakan. Yang paling lucu adalah adegan sewaktu Joni kecil diberitahu kakek-kakek soal blak-blakan dia:
Kakek: Joni, kamu nanti akan menjadi orang yang blak-blakan.
Joni: Pak, ada upil!

Bener aja, gedenya, jadilah si Joni itu orang yang blak-blakan ke semua orang kampung.
Ada adegan di musholla dimana ada satu bapak yang badannya ditutupi sarang laba-laba saking lamanya berdoa minta kaya. Si Joni dengan blak-blakannya bilang, “Jangan cuma berdoa doang, Pak. Usaha juga.”

Singkat cerita, akhirnya dia dimusuhi satu kampung sampai harus kabur untuk menghilang. Loh kok, orang yang benar malah harus kabur dan menghilang? Endonesah banget gak seeeh?

Iklan lucu ini kena banget pesannya. Nyentil. Jadi orang blak-blakan itu seringkali nganter nyawa. Jarang ada yang suka walau pesannya benar 100%. Kenapa saya teringat diri sendiri? Soalnya, seringkali mulut saya blak-blakan lebih cepat dari otak saya. Mirip si Joni. Mudah-mudahan saya gak perlu sampai harus kabur dari orang sekampung karena saya sudah sering harus kabur dari orang tua sendiri….

“Emaaak, ampuuuun!”

Joni Blak Blak