Ethiopia

Kalau ada satu negara yang saya hapal betul luar kepala sejak saya balita, negara itu pastilah Ethiopia. Bahkan saat saya belum bisa membaca peta, saya sudah tahu Ethiopia ini berada di suatu benua bernama Afrika. Saya juga hapal betul sejak balita bahwa Ethiopia itu negara miskin dimana penduduknya kurus kering karena jarang bisa makan saking miskinnya.

Ilmu tentang Ethiopia itu saya dapat dari si Mami yang mencekoki saya dan adik-adik saya soal Ethiopia pada saat jam makan kami. Kalau kami makan 3 kali sehari, maka dalam sehari juga 3 kali kami mendapat pelajaran soal Ethiopia!

“Makannya dihabiskan! Kalian harus bersyukur kalian bukan orang Ethiopia yang gak punya makanan!”
“Jangan buang-buang makanan! Itu orang Ethiopia di Afrika sana, minum aja susah apalagi makan! Kalian sudah dapat makanan malah dibuang-buang!”
“Kamu mau seperti orang Ethiopia yang susah makan?”
Dan seterusnya dan seterusnya…
Saya tidak mengerti apa pada jaman itu Ethiopia terkenal sekali karena miskinnya sehingga si Mami terinspirasi dengan negara itu.

Kalau saya berpikir setelah saya tua, menikah, punya anak, jadi ibu juga, lalu saya bisa terbebas dari Ethiopia, maka saya salah berat. Seminggu lalu saat saya, Hikari dan si Mami sedang makan siang di salah satu resto di dekat rumah, si Mami menyendokkan 2 sendok nasi penuh, Kangkung segerobak, dan lauk pauk beraneka macam ke piring saya. Lalu pertempuran pun dimulai… Antara orang hamil yang kerjanya muntah melulu dengan nenek-nenek yang terinpirasi Ethiopia.

Saya menolak sendokan nasi si Mami dan hanya menyisakan sekitar 10 sendok makan nasi di piring. Si Mami lantas memulai kuliahnya. Ethiopia belum kesebut.
Lalu datang Kangkung. Lalu lauk pauk. Semua saya kembalikan ke piring aslinya.
Maka dimulailah…
“Kamu harus makan banyak!”
“Mam, aku makan. Tapi gak bisa sebanyak itu.”
“Inget kamu lagi hamil!”
“Mam, aku muntah kalau makan sebanyak itu!”
“Makanya pikirannya jangan muntah melulu! Pikirannya itu harus makan harus makan harus makan harus makan….”
Saya diam saja sambil terus mengembalikan segala nasi, sayur dan lauk pauk operan si Mami.
Si Mami masih terus menguliahi saya tentang pentingnya kekuatan mental dalam mensugesti diri supaya mau makan. Saya masih diam saja. Cuma tangan saya yang bergerak mengembalikan semua makanan operan.
Lalu, kuliah Mami berhenti sedetik.
“Hei,” panggil si Mami yang kelihatannya sadar kalau saya cuekin. “Kamu itu harusnya bersyukur bisa makan enak begini! Orang-orang di Ethiopia itu…”
“Huahahahahahaha….. Ethiophia? Hahahahahahaha….”
Sampai situ saya kontan ketawa ngakak. Tinggal si Mami melempar sendok ke piring saya dengan muka cemberut berat.

3 thoughts on “Ethiopia

  1. kok sama ya, aku yang tinggal jauh di kampung yg gak terkenal banget waktu kecil, ibu saya selalu membandingkan saya dan 2 saudara saya kalau kami; 1. gak mau makan/males makan 2. kalau kami agak kurusan. jangan ibu2 seangkatan itu sama “ethiopianya” ya?????!!!!!!

  2. rasanya jaman sekarang jarang ngedenger negara ethiopia….mungkin karena sekarang sudah banyak cerita yang lebih menarik,misalnya norman,atau melinda dee….jadinya berita ethiopia jadi ketinggalan.hehe….lagipula kalo mau nyari pemandangan tulang belulang kayak gitu udah banyak yang kekurangan gizi di negara kita ini.jadi ga perlu lagi keluar negeri,,,indonesia gitu loh…sagala aya didiyeu…piss ahh…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.