Usia yang Tersisa

Hari ulang tahun memberikan beragam perasaan untuk setiap orang. Buat keluarga besar si Mami, hari ulang tahun harus berasa meriah walau hanya kumpul keluarga besar di rumah Eyang sambil makan mie goreng panjang umur. Syukur-syukur kalo ada yang bawa kado. Buat si Papap, hari ulang tahun ya berasa hari biasa aja. It’s just another day. Kalau mamanya lagi ingat, syukur-syukur dimasakkin nasi uduk komplit. Karena kebiasaan di keluarga besar si Mami lah, keluarga saya -Kumendan, Mami, dan kedua adik laki-laki- selalu merayakan hari ulang tahun, walau hanya sekadar memasak makanan lebih istimewa dari biasanya. Sepertinya ada kewajiban moral untuk memberi tahu seisi dunia bahwa salah satu dari kami ada yang berulang tahun di hari itu. Untungnya ulang tahun saya dan kedua adik saya itu cuma berselang beberapa hari. Jadi, pestanya bisa digabung supaya lebih irit :).

Sejak saya dan Papap menikah, Papap selalu berusaha mengistimewakan hari ulang tahun saya dan Hikari sementara dia sendiri santai saja soal ulang tahunnya. Malah kalau saya beli sesuatu untuk ulang tahunnya, sikap dia sama lempengnya. Di ulang tahun pertama saya sejak kami menikah, dia memberikan kejutan kepada saya yang sedang hamil 5 bulan dengan mengundang seluruh teman-teman saya ke makan malam di suatu tempat. Untung buat dia, waktu itu saya mau diajak pergi karena pas kejadiannya, sampai jam 7 malam yang diiringi hujan deras itu, saya menolak setengah mati untuk keluar rumah sementara Papap menghabiskan waktu hampir sesorean untuk membujuk saya pergi. Untuk ulang tahun Hikari, perencanaan Papap bisa sampai setengah tahun sendiri. Gerilya Papap dimulai dengan nanya-nanya ala intel ke Hikari sampai berburu kado yang dia rencanakan. Tahun lalu, saya pernah diseret dari mal ke mal hanya untuk mencari lego dengan spesifikasi yang Papap cari. Sudah begitu, niat keras untuk beli kado sesuai bujet yang tadinya Papap rencanakan, bisa bablas sampai dua kali lipatnya. Demi si Hikari. Saya sendiri selalu memilih untuk mencari kue ulang tahunnya aja :).

Tahun ini, ulang tahun saya agak lebih menantang dari sebelum-sebelumnya. Lebih menantang dari tahun lalu saat saya dihadiahi sakit tipus di hari ulang tahun. Tahun ini, saya juga sedang hamil 6 bulan dengan cobaan kehamilan yang luar biasa, bukan hanya dari segi fisik tapi juga emosi. Gimana enggak emosi, seminggu sebelum saya ulang tahun, si Mami tiba-tiba tanpa peringatan menghadiahi saya baju model hippie maxi dress bermotif floral sampai dua (dua!) helai! Padahal seingat saya, sejak saya bisa bilang ‘enggak mau!’ di usia sebulan lebih beberapa hari saya tidak pernah pakai baju long dress, apalagi yang bermotif bunga-bunga! Gini deh, saya tidak pernah pakai dress! Antara syok, takjub, merasa terhina, dan sadar harus menelan rasa syok bulat-bulat, saya mengembalikan hadiah dari si Mami dengan alasan… ukurannya kebesaran. Iya, si Mami beli long dress ukuran XL dengan pikiran saya yang hamil ini sudah menggembung menjadi 5x lipat. Padahal, saya kan justru kehilangan berat badan sampai 5 kg!

Tapi, di ulang tahun saya di tahun ini, saya juga berkesempatan untuk pergi liburan 3 hari di Bandung bersama si Papap dan Hikari, dan baru hari ini pulang. Hikari sampai dimintakan cuti sekolah selama hari -hal yang haram saya lakukan biasanya :). Sewaktu dia ditanya gurunya kenapa dia sampai minta ijin tidak masuk sekolah, jawaban dia jujur sekali, “aku mau ke Bandung. Kan ulang tahunnya Mama!” Tahun ini juga saya berusaha mematikan semua alat komunikasi -terutama dengan kantor- supaya saya bisa meresapi (hayah) hari ulang tahun saya ke 17 ini (batuk-batuk) dengan khidmat, yang berakibat pada menumpuknya misscall, sms, dan email. Mungkin karena terharu dengan usaha keras saya untuk menikmati liburan kali ini, Papap sempat-sempatnya bertanya kepada saya sewaktu kami sedang mencari makan siang di mal tadi.

“Mamam mau dibeliin apa untuk ulang tahun, Mam?” tanya Papap baik hati.
Saya tersipu-sipu. “Dibeliin mobil…” jawab saya lirih manja yang direspon dengan seringai lebar di wajah Papap.

Di akhir siang, Papap akhirnya tetap membelikan saya hadiah ulang tahun: dua buah celana hamil…

Hikari sendiri jauh lebih tanggap dibanding Papap. Pagi-pagi begitu saya bangun tidur, dia sudah melesat ke luar. Sewaktu kami masih terheran-heran, dia sudah kembali dengan empat buah bunga melati yang dia petik dari halaman rumah.

“Ini hadiah ulang tahun Mama,” kata Hikari yang disambut seruan huuuuuuuuuuu panjang oleh Papap.
“Curang! Itu kan tanamannya Mama!” protes Papap yang cuma dibalas Hikari dengan membuang muka.

Tahun ini juga saya tertawa-tawa sekaligus terharu dengan ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman, termasuk dari teman-teman fesbuk yang khusus untuk para pembaca novel-novel saya. Rasanya ser-ser-an mendapat ucapan selamat dari orang-orang yang hanya kenal saya lewat tulisan tapi sudah ikhlas mengirimkan doa.

Bicara soal doa, sebagian besar teman-teman menghadiahi saya doa semoga selalu sehat. Mudah-mudahan doa mereka didengar yang Maha Mendengar karena hadiah satu itu yang memang saya butuhkan sangat. Nenek FM dengan sangat dalam menuliskan perasaan saya di blognya. Sampai pengen nangis bacanya. Doa teman-teman itu hadiah berharga untuk saya tahun ini. Satu ucapan selamat ulang tahun lagi yang sangat berbekas dari Jeng Ai yang menulis di twitter saya…

Happy birthday darling, semoga sisa umurmu banyak bahagia dan sehat selalu yaaaa *kecup*

Ya, pada akhirnya umur yang bertambah juga berarti umur yang tersisa. Dan saya ingin melihat tahun-tahun yang akan datang sebagai umur saya yang tersisa. Di sisa umur saya itu saya ingin mengisinya dengan bahagia. Isn’t that what matter most in life?

You may also like...

12 Comments

  1. met ultah mbak dev
    sehat selalu, senang selalu dan senyum selalu? *ngebayangin baju hippie motif kembang + bandana + bola kristal halah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.