Aksi dan Reaksi

Dulu sekali saat muncul berita Dewi Persik menampar seorang laki-laki karena melecehkan dirinya di muka umum, satu forum yang saya ikuti ramai. Maksud saya ramai adalah sebagian besar peserta forum ramai-ramai menghujat Dewi Persik. Bukan karena tamparannya tapi karena pakaian yang dikenakan. Para pemberi komentar sepakat, Dewi Persik patut mendapatkan pelecehan tersebut karena dia selalu berpakaian berani.

Setelah beberapa saat membaca komentar orang-orang, saya mulai gerah. Lalu saya menulis, kira-kira:

Pelecehan -apapun alasannya- tidak boleh dimaklumi! Perihal Dewi Persik mau pakai baju minim atau malah tidak pakai baju sama sekali bukan alasan seseorang untuk merasa berhak melecehkannya. Itu sama saja dengan berkata seorang perempuan patut diperkosa bila dia berpakaian minim atau berperilaku mengundang.

Anda tahu apa yang saya dapatkan setelah menulis itu? Saya dihujat!

Menurut sebagian besar peserta forum, tindakan Dewi Persik mengundang. Jadi ada aksi ada reaksi. Pakaian minim, ya pantas kalau laki-laki jadi tergoda untuk menggoda. Saya tidak sependapat. Saya lihat perempuan memakai rok-rok pendek sepaha di Jepang, tapi tingkat pemerkosaan disana jauh lebih rendah dibanding disini. Bagi saya aksi boleh ada, reaksi belum tentu perlu diperlihatkan. Orang lain boleh ngajak berantem, kan kita tidak perlu harus melayani dia berantem? Setiap individu punya pilihan untuk bereaksi atau tidak.

Pendek cerita, saya kalah suara di forum itu. Tidak masalah. Disitu saya belajar bahwa banyak orang kita yang masih melemparkan tanggung jawab karena telah bereaksi kepada orang lain.  Saat satu jari menunjuk ke orang lain, kita lupa ada empat jari yang menunjuk ke diri kita. Eh, tapi kenapa sih saya tiba-tiba ngomongin Dewi Persik?

Mekarsari 2010

Beberapa hari yang lalu saya dapat sms dari salah satu ibu dari temannya Hikari di sekolah. Anak ini termasuk salah satu teman baik Hikari. Si Boy -sebut saja- anak yang paling sering dijauhi teman-temannya. Dia termasuk anak yang lumayan pintar, tapi dia anak yang paling cengeng di kelas. Teman-teman Hikari memanggilnya Boy Bayi.

Saya pikir ibu si Boy dalam hati menyadari kemanjaan anaknya. Di usianya yang 8 tahun, si Boy masih sering merengek-ngamuk bila kemauannya tidak dituruti, masih sering menguntit teman-temannya kemana saja, masih sering mengabaikan tanggung jawab personal dan komunitas, atau masih sering menangis iri bila dia tidak diikutkan dalam satu kegiatan dimana teman-temannya ikut. Tapi, alih-alih memperbaiki cara dia mendidik Boy atau memperbaiki tingkah laku Boy, si ibu memilih untuk meminta lingkungan Boy memaklumi anaknya. Pada saya, dia minta Hikari untuk selalu main dan menjaga Boy (Bo, anak lu lebih gede dari anak gue!). Dia juga minta saya untuk mengajari Boy tanggung jawab (“Bereskan mainan setelah selesai main atau tidak boleh main disini lagi!” Lah, emaknya siapa?!). Dari kelas 1 sampai kelas 3, dia minta guru-guru si Boy untuk menegur anak-anak yang menolak main dengan Boy atau yang mengatai Boy dengan Boy Bayi, si Cengeng, atau lainnya.

Belakangan ini, keengganan teman-teman Boy untuk main bersamanya semakin jelas terlihat. Dan julukan-julukan pun makin sering dilemparkan. Sebagai latar belakang saja, anak-anak di sekolah Hikari tidak punya banyak kosakata hinaan. Mereka tidak tahu kalau nama binatang bisa dijadikan nama panggilan kesayangan. Walau begitu, dengan keterbatasan kosakata hinaan, mereka mampu membuat si Boy menangis tiap pulang sekolah dan si ibu mengancam untuk pindah sekolah.

Si ibu lalu sms saya. Intinya dia minta saya bilang ke Hikari untuk menegur teman-temannya bila mereka mulai mengejek si Boy. Dia minta Hikari untuk menjaga Boy dari ulah bullying teman-temannya.

What?!

Sore itu begitu saya sampai di rumah saya langsung mengajak Hikari bicara. Apa yang terjadi di sekolah? Siapa yang mengganggu si Boy? Kenapa dia diganggu? Apa yang dilakukan kepada si Boy? Dan seterusnya dan seterusnya…

Kata Hikari: “Si A panggil Boy si Bayi soalnya waktu si Boy disuruh tunggu giliran main, dia nangis. Si B bilang si Boy begini. Si C bilang si Boy begitu…”
“Kamu ikut mengejek?”
“Enggak sih.” Hikari menunduk. “Tapi aku ikut tertawa.”
“Menurut Hikari ikut menertawakan Boy itu baik?”
Hikari menggeleng. “Tidak.”
Sedetik kemudian Hikari menatapkan matanya bulat-bulat pada saya. “Tapi Boy memang tidak menyenangkan sih. Dia nangis waktu disuruh tunggu giliran main, jadi si A marah. Terus dia malah mendorong C sewaktu C bilang itu giliran C. Jadi teman-teman bilang si Boy Bayi.”

Saya paham sekali logika Hikari. “Nak,” kata saya, “lain kali, kalau si Boy membuat kesal kalian lagi, bilang ke Boy: Kalau kamu tidak mau giliran, aku tidak mau main dengan kamu.”
“Kalau si Boy tetap tidak mau giliran?”
“Tinggal pergi.”
“Kenapa?”
“Si Boy sudah berlaku tidak baik. Kalau Hikari membalas dengan mengejek dia itu artinya Hikari menjadi tidak baik juga.”

Hikari terdiam. Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya apa maksud saya tapi saya sudah bertekad untuk membuat Hikari melihat bahwa setiap diri punya pilihan. Melihat aksi mungkin tidak bisa terhindarkan. Tapi bereaksi adalah satu pilihan untuk dilakukan atau justru tidak dilakukan.

Kepada si Ibu, saya menjawab, “Hikari sudah diberi tahu supaya tidak ikut mengejek Boy. Si Boy sudah diberi tahu supaya mengubah tingkah lakunya supaya kooperatif waktu bermain dengan yang lain?”

Sms saya tidak dibalas.

Onigiri Isi Abon

Tulisan ini pertama kali saya tulis tanggal 12 Januari 2007 untuk mengenang hari-hari Rabu di Honjo, Saitama, dimana saya harus bawain bento Onigiri untuk Hikari.

Mama Hikari gak bisa masak, itu semua orang di dunia sudah tahu. Tapi, karena hidup jalan terus dan Hikari harus selalu membawa onigiri bento setiap hari Rabu  -ketika kami hidup di Honjo-, maka Mama Hikari harus belajar bikin onigiri bento. Untung ada kiriman abon dari Eyang…

Continue reading

Bakwan Babe

Bakwan Babe ini sebenarnya bakwan biasa kok. Bedanya di… siapa yang bikin dan nilai historisnya hayah

Waktu kita masih di Honjo, kita sering kehabisan cemilan. Lalu, berbekal nanya sana-sini, si Papap mencoba berkreasi di dapur. Hasilnya? Bakwan Babe ini.

Anehnya, dengan isi, bumbu, dan cara masak yang sama, bakwan bikinan saya gak pernah bisa se-rasa dan senikmat bakwan Babe ini. Begini ini kalau si Babe bikin…

Bahan-bahan:

1. Sayur-sayuran, dipotong tipis seperti tusuk gigi. Tapi, dicuci dulu sebelumnya ya. Sayur yang biasanya dipakai si Babe adalah wortel, kol, bawang bombai, toge, dan kalau lagi iseng timun. Sumpah, gak enak kalo pake timun.

2. Tepung terigu untuk tempura, sesuai banyaknya bahan sayur. Kalau ingin bakwannya gemuk, pakai tepung banyak. Kalau ingin tipis, pakai tepung sedikit.

3. Air, tergantung bentuk bakwan idaman: gemuk atau kurus.

4. Garam, merica bubuk, se-selera-nya. Kaldu blok atau kaldu powder. Setengah blok kecil atau sedikit kaldu powder.

5. Bawang putih halus (blender, tumbuk, pijet, pites, terserah), satu-dua siung. Tergantung selera, tapi kalau kebanyakan si bakwan jadi pahit. Satu siung untuk bahan sayur satu mangkuk besar.

6. Minyak goreng. Jangan terlalu banyak, cukup merendam dua pertiga bahan aja. Kalau terlalu banyak, si bakwan jadi mekar.

Cara:

1. Setelah sayur mayur diiris tipis memanjang, diaduk atau dicampur jadi satu di mangkuk. Di piring juga boleh tapi kayaknya si gak nyaman dey.

2. Tumpahkan, eh, beri tepung terigu sehingga menutupi keseluruhan bahan sayur. Pertama kali jangan banyak-banyak.

3. Beri air pada campuran tepung dan sayur. Nah, disini selera bermain. Kalau campuran tepung dan air terlalu cair, seperti air kelapa, tambah tepung. Kalau terlalu kental seperti susu kental manis XXX, tambah air. Gampang toh. Oh, kalau terlalu kental, bakwannya jadi gemuk dan kurang renyah. Bakwan Babe justru tipis dan kriyuk.

4. Bila adonan tepung sudah sesuai kata hati, tambah garam, merica bubuk, kaldu, dan bawang putih halus. Aduk sampai rata. Rasakan. Bakwan Babe gurih dan biasanya si Babe pakai satu sendok makan garam.

5. Panaskan minyak goreng sampai panas benar. Cara mengetahui kalau minyak sudah panas dengan meneteskan sedikit adonan ke wajan. BUKAN dengan memasukkan jari anda ke wajan!

6. Ciduk adonan dengan sendok (bukan dengan ciduk mandi), lalu tuangkan ke wajan. Atur supaya berbentuk pipih. Karena minyak goreng tidak merendam si adonan keseluruhan, bila bagian bawah adonan sudah kuning, balik. Goreng sampai berwarna kuning tua, BUKAN gosong.

7. Hidangkan dengan cabai rawit atau saos sambal. Mau pakai jenis cabai atau sambal yang lain ya silahkan saja. Asal, pedes tanggung sendiri.

#Pertama kali ditulis tanggal 8 Februari 2007.

Lascha Shamai

Img_1373 Makanan Bangladesh ini enak untuk diseruput di malam-malam yang dingin atau di hari-hari yang panas. Kalau sudah jadi, rupanya mirip bubur ayam. Tapi ini bubur susu.

Bahan:

-Lascha shamai 150 gr. Laccha shamai ini sejenis Img_1825vermicelli manis tipis-tipis. Kalau beli di toko Bangladesh atau toko India, yang punya toko pasti tau deh makhluk semai ini…

-Susu putih cair setengah liter.

-Gula, sesukanya. Harusnya sih yang banyak karena makanan ini rasanya kudu manis.

-Sebatang dua batang kecil kayu manis.

Cara Memasak:

1. Rebus susu hingga mendidih. Hati-hati luber.

2. Tambahkan gula. Rasain, eh, rasakan. Bila kurang manis, ya ditambah lagi laahh..

3. Masukkan kayu manis. Diamkan sebentar supaya bau dan rasanya bercampur di susu.

4. Lascha sha mai tadi diremas-remas hingga hancur. Masukkan ke susu mendidih tadi. Aduk.

5. Aduk terus hingga bercampur rata dengan susu dan agak mengental.

6. Matikan kompor. Kalau tidak dimatikan kan bahaya…

Cara Makan:

Hari dingin: Langsung santap. Hati-hati panas membakar lidah.

Hari panas: Simpan di lemari es semalaman. Keluarkan besoknya, langsung santap tanpa perlu dipanaskan lagi.

Hari gak panas gak dingin: Seenak udelnya aja lah…

#Pertama kali ditulis tanggal 18 Agustus 2006. Masakan ini diajarin oleh Nadia Tabassum, asli Bangladesh, mamanya Imti 🙂

Miso Shiru alias Miso Soup

Mengingat tautan ke blog masak-memasak saya di friendster selalu disalah arahkan oleh friendster, saya post ulang disini ah.

Ini dia satu-satunya masakan bikinan saya yang dengan pede saya proklamirkan UENAKK TENAN! Bikinnya gampang pula!

Ingredients dulu:

Img_18241. Miso, kira-kira 4 sendok makan (Bentuknya pasta rasanya asin-asin enak. Ada beragam jenis miso. Biar aman, pakai yang warnanya coklat kekuningan karena rasanya moderate. Kalau warnanya gelap, rasanya lebih asam. Kalau warnanya terang, rasanya agak tawar).

Img_1821

2. Dashi, satu sachet (Sejenis kaldu berasal dari ikan. Ada yang bubuk ada yang pasta).

3. Air, setengah liter.

4. Garam, sedikit saja.

5. Ikan kering yang kecil (segede jempol saya) 5 biji.

6. Aslinya pake Mirin alias sake untuk masak. Tapi saya gak pake. Rasanya teteup uenak kok.

Isi Sup:

1. Umumnya, wakame atau rumput laut. Ada yang kering, ada yang basah. Cara pemakaian sama saja. Kalau yang basah biasanya harus dipotong-potong dulu. Kalau gak, kepanjangan ajah, gitu loooh.

Img_18282. Tofu. Ini juga bisa pakai yang basah atau yang fried. Potong kecil biar gak keselek.

3. Pake kerang juga boleh. Kerang plus cangkang, atau daging kerangnya aja, sama-sama enak. Beda di penglihatan doang.

4. Pakai sayur mayur juga bisa. Misal: bawang bombay, ninjin eh wortel, tomat, dsb.

Cara Masak:

1. Ambil panci ukuran sedang. Kalo wajan, gak cocok aja.

2. Rebus air beserta 5 ekor ikan segede jempol tadi. Ikannya dimasukkan ke air ya! Habis itu, masukkan garam. Seiprit ajah!

3. Setelah mendidih dan berbuih, masukkan dashi. Aduk.

4. Angkat ikan-ikan tadi dari panci. Kalau mau dibiarin di panci juga gak pa-pa sih, tapi kalo kelamaan jadi benyek ikannya. Mending sekalian dimakan kali yee…

5. Masukkan isi miso. Isi miso favorit saya adalah wakame, fried tofu, dan kerang. Kalau pakai sayur yang agak keras macam wortel, diamkan dulu si sayur di panci sampai empuk ya. Kasihan yang makan kalau enggak.

6. Nah, kalau semua bahan isi sudah siap, kecilkan api. Medium aja. Berasap tapi jangan sampai berbuih-buih. INI PENTING! Karena…

7. Masukkan miso. Miso tidak boleh dimasukkan saat air sedang mendidih-didihnya karena rasa miso akan hilang. Ingat-ingat!!! Cara masukkin misonya begini: taro miso di gayung, eh, di sendok sayur. Trus, encerkan dengan air di panci, baru tuang ke panci.

8. Rasakan supnya. Kalau senang asin, bisa tambah misonya sesuai selera. Kalau kebanyakan ya gak masalah. Paling-paling bangkrut karena kudu sering beli miso…

#Resep ini diajarkan oleh teman saya Otsuka-san. Pasti asli deeeh rasanya!

#Pertama kali ditulis pada 5 September 2006 disini.

Chrysanthemum in Seruni

I took this picture at Seruni Hotel in Cisarua. I just found out later that Seruni is indeed the Indonesian name for Chrysanthemum. I thought it was only Krisan. So this is Seruni, my dear friends!

Seruni is apparently Japanese national flower. It is called Kikuka. The symbol of this flower often appears in flags, crests, traditional uniforms (kimono used by imperial family), etc. The emperor uses this flower as his official seal and his throne is called a chrysanthemum throne. Funny though. When I was there, I saw more roses than this flower in all cities that I visited.

Update: A friend of mine said that these flowers are probably Gerbera LOL

Nasib Selebriti

Kemarin itu saya baru pulang dari Bandung setelah menghadiri pesta nikahnya si Kang Meddy. Terus terang, ini pertama kalinya saya menginap di Bandung, demi Kang Meddy dan pembuktian kepada si Nenek bahwa saya benar sudah dateng ke kawinan anak didiknya.

Teman-teman saya biasanya suka menghina-hina saya soal Bandung karena kebutaan saya tentang kota ini. Kalau teman-teman saya melencer liburan kesana, saya tak pernah tertarik. Kalau teman-teman saya riuh belanja di lusinan FO sana, saya juga masih tak tertarik. Perjalanan saya ke kota itu hanya sekedar numpang lewat kalau mau ke Lembang.

Nah, wiken lalu saya menginap di salah satu hotel di tengah kota Bandung. Sampai sana sudah jam 2 siang lewat dengan membawa rasa capek dan perut keroncongan akibat kelamaan di mobil. Selesai check-in dan menaruh barang di kamar, Papap langsung mengajak makan. “Disebelah aja,” kata Papap. “Makan apa juga kalau capek dan laper begini pasti enak.”

Berbekal teori si Papap, kami jalan kaki ke resto Sunda yang berada tepat di sebelah hotel. Begitu masuk resto yang bergaya bambu-bambu, mata saya langsung kepentok dengan dua buah bingkai besar hampir 1 meter x 1 meter yang penuh berisi foto selebriti Indonesia. Enggak tau juga apa ada selebriti internasional kesitu. Antara gak sempat dan gak napsu untuk ngeliatin puluhan foto-foto selebriti itu, saya langsung masuk resto tanpa ngelirik dua kali ke foto-foto itu. Papap langsung pesan makanan standar di resto Sunda: ikan, sambel, sayur asem, mangga…

Enak?

Teori Papap tentang kalau laper makanan apapun jadi enak ternyata tidak terbukti. Atau kami memang belum segitu lapernya. Saya dan Papap setuju ada resto lain di pinggir pantai Anyer yang rasanya jauuuuuuuuuh lebih nikmat dibanding resto ini.
“Padahal resto ngetop. Harusnya enak banget, kan?” kata Papap.
“Tau darimana ini resto ngetop?”
“Lah itu foto-foto selebriti sampai dua lusin dipajang disitu!”
O-oh. Saya baru ngeh ternyata foto-foto para selebriti itu berfungsi sebagai testimoni tidak langsung atas kelezatan makanan di resto ini.

Malam hari dan besoknya, saya baru melihat bahwa banyak resto lainnya yang pasang strategi pemasaran dengan memasang foto para selebriti yang datang ke resto mereka. Tiap pindah resto, saya lihat muka dia lagi dia lagi dia lagi di resto yang berbeda-beda. Selebriti Indonesia ternyata doyan wisata kuliner.

Di resto terakhir di daerah Burangrang, saya kembali melihat foto-foto selebriti yang dipajang dengan latar belakang resto tersebut. Kali ini, saya punya waktu untuk melototin satu-satu siapa saja orang ngetop yang pernah datang kesitu… dan setelah foto yang terakhir saya pelototin, saya merasa kasihan…

Coba bayangin. Kalau saja saya seorang selebriti yang baru sampai Bandung setelah mengalami hari yang melelahkan mental dan fisik. Lalu saya lapar. Belum makan, hari sudah siang banget.
Eh, bo, di sebelah ada resto. Makan yuk! Saya pun cuma sempat dan cuma punya energi untuk menaruh barang di kamar. Setelah itu saya ingin memuaskan rasa lapaaaaaaar. Saya beranjak ke resto di sebelah hotel. Muka lecek? Ya iya, kaleee. 4 jam di jalan gitu loh! Muka laper? Perlu nanya? Apa perlu elu gue makan sekalian? Udah, gak usah rese! Kita jalan aja ke sebelah buruan!

Pergi lah saya yang selebriti bermuka lecek dan lapar ke resto sebelah. Baru sampai di pintu resto…
“Eeeeeeeeeeeh, mbak seleb! Apa kabar?”
Hah? Apa kabar? Kapan gue pernah kesini?
“Silahkan mau pesan apa?”
“Ennnggg… saya duduk dulu boleh?”
“Boleeeeeeh! Eh, tapi foto dulu ya? Ya? Ya?”
JEPRET!
“ADOH!”
“Makasih mbak seleb! Sekarang baru boleh duduk.”

Beberapa hari kemudian foto saya dengan muka lecek dan laper terpampang di resto itu. Dem!

Nah! Selebriti asli gak bakal ngelewatin hari sial model begitu. Selebriti asli pastinya bakal sadar -terpaksa atau tidak- untuk memoles dirinya sekinclong mungkin dengan senyum palsu seindah mungkin memakai baju sekeren mungkin saat pergi keluar dari kamar segimanapun capeknya, lapernya, betenya, dongkolnya, jeleknya diri mereka saat itu. Dan itu yang membuat saya merasa kasihan.

Yang lebih bikin kasihan lagi adalah semua orang yang ikut rombongan selebriti itu harus sama kinclong dan palsunya dengan si seleb. Kan konyol kalo emak selebritinya kinclong tapi anaknya dekil. Sudah begitu, dia harus rela jadi iklan tak berbayar resto tempat dia makan. Lah iya kalau makanannya enak. Kalau enggak?! Duh, rasa kasihan saya makin menjadi-jadi nih. Untung saya nolak jadi seleb….