When traffic kills

Papap, saya dan Hikari keluar rumah tadi sore sehabis Maghrib. Tujuan kami ada dua: mencetak foto Papap dan makan malam. Dua tempat yang akan kami tuju bersebelahan dengan cluster rumah kami, masih di satu komplek perumahan. Dua hal tadi kelihatannya sangat sederhana.

Mobil kami berbelok masuk ke tempat parkir mall kecil di sebelah cluster. Pemandangan macet total panjang di luar pagar mall terlihat jelas. Dua arah jalan Alternatif Cibubur parkir gratis. Dampaknya, banyak mobil yang masuk ke area mall hanya untuk mencari jalan pintas lewat perumahan kami. But, hey, we couldn’t care less.

Jalan 500 meter menuju tempat cuci cetak foto di ruko sebelah mall ternyata memakan waktu lebih lama dari seharusnya gara-gara banyaknya mobil yang mengambil jalan pintas. Tapi toh kami tetap sabar dan senang hati. Setelah selesai urusan cuci cetak foto, Papap memutar mobil kembali ke arah lobby mall untuk makan malam. Di luar pagar mall, mobil-mobil yang tidak bisa berjalan maju mengular panjang tak kelihatan ujungnya. Kami bersyukur karena kami berada di dalam komplek perumahan dan tidak harus mengalami penderitaan seperti mobil-mobil itu.

Walau ramai diluar kebiasaan, Papap berhasil menemukan tempat parkir di belakang mall kecil itu. Hikari yang sedari tadi bernyanyi-nyanyi lagunya Jon Bon Jovi – It’s my life tak sabar segera meloncat keluar dari mobil. Mesin mobil belum lagi mati dan kaki saya pun belum lagi melangkah keluar ketika suara pintu sisi Hikari ditutup dengan kencang. Sedetik kemudian jeritan Hikari terdengar melolong dan suara pintu terbuka kembali diikuti dengan tangisan dan jeritan membuat saya terjengkang dan terbang ke sisi Hikari.

Hikari baru saja menutup pintu sekencangnya namun dengan ibu jari kanannya masih berada di dalam pintu.

Diantara tangisan keras Hikari, Papap dan saya memeriksa ibu jarinya yang segera terlihat membesar, biru, berdarah dan bengkok. Tidak bisa lagi menahan sakit, Hikari merosot di kaki saya dengan bibir digigit keras. Papap langsung menggendong Hikari ke dalam mobil dan menjalankan mobil secepat kilat dengan rencana menuju rumah sakit.

Secepat kilat ke rumah sakit…

Pemandangan macet ratusan mobil tidak bergerak di depan kami membuat saya dan Papap panik. Kemana, bagaimana, kami bisa sampai di rumah sakit secepatnya sementara jalanan tidak memberikan tempat longgar sedikitpun?!

Perjalanan 5 kilometer yang seharusnya bisa ditempuh dalam 10 menit kami tempuh hampir satu jam. Itu pun sudah melewati jalan pintas yang tidak karuan bentuknya. Saking sakitnya, Hikari memeluk saya erat-erat tidak mau dilepas. Saya hanya bisa mengajaknya istigfar. Hal yang saya lakukan setiap kali dia sakit dan obat apapun rasanya tidak bisa menyembuhkannya. Badannya mulai menghangat karena bengkak di jarinya. Lama-kelamaan, Hikari tertidur. Entah karena capai merasa sakit atau karena doa kami menenangkannya.

Alhamdulillah kami bisa sampai di rumah sakit di tengah-tengah jalanan yang tak ramah dan Papap yang seperti kesetanan menyalip mobil kiri kanan demi sejengkal jalan. Hikari segera mendapatkan pertolongan dan Alhamdulillah tidak ditemukan adanya patah atau retak di jarinya. Jarinya diberikan perawatan dan suhu tubuhnya mulai turun setelah diberi obat. Hikari berangsur-angsur tenang di tempat tidur UGD ketika seorang bapak-bapak setengah baya didorong masuk ke UGD. Dadanya yang sakit membuat wajahnya hampir biru. Tidak lama kemudian, seorang pasien lagi didorong masuk dengan wajah pucat pasi tidak bisa bereaksi. Lalu pasien lain lagi dan lagi dan lagi.

Saya menatap wajah Hikari lama sekali. Ditengah-tengah kegilaan jalan macet malam ini, saya masih bisa lega karena waktu yang hampir satu jam di jalan tidak membawa akibat fatal bagi Hikari. Tapi melihat pasien-pasien lain yang berdatangan dengan penyakit fatal yang berkejaran dengan waktu, hati saya terasa disayat-sayat. What if? Oh, God, please not! Never!

Beberapa waktu lalu ada kecelakaan di Cibubur Junction ketika seorang supir tidak mampu mengendalikan mobil matic yang disupirinya. Mobil itu menabrak mall penuh orang. Seorang anak laki berusia 6 tahunan meninggal di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang kami datangi. Rumah sakit yang hanya berjarak 5-7 km dari mall. Sang bapak dengan pilu berkata perjalanan itu seharusnya hanya ditempuh 5-10 menit saja. Tapi malam itu jalanan sangat macet dan mereka baru bisa sampai di rumah sakit yang hanya berjarak 5-7 km itu dalam satu jam!

Tiap kali orang bicara soal jalanan macet, mereka hanya bicara soal pemborosan uang dan dampaknya pada lingkungan. Malam ini saya belajar, bicara soal jalanan macet, kita juga bicara soal nyawa.

You may also like...

4 Comments

  1. tapi sebetulnya yang lebih penting itu menyadari berbagai resiko fatal yang sudah bisa diprediksi di lingkungan yang sudah biasa terlihat tanpa harus dibenturkan sendiri dengan resiko itu (yang mungkin kita tak rasakan atau tidak mau merasakannya dulu)

  2. pernah merasakan siang hari jam makan siang melarikan bokap yg kena gegar otak ke rumah sakit, dan terjebak macet. masih ditambah lagi antri untuk layanan admin rumah sakit. could never thank God enough that my old man now is still alive. tips untuk mama hikari: bawa makirong di mobil. well, just in case.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.