Bulan puasa jam 6 sore di antara Jalan Pramuka dan Cibubur

Sms sore selalu jadi milikmu. Isinya selalu sama. Aku yakin kau sudah menaruh kalimat itu menjadi default sms-mu untuk ku sehingga yang harus kau lakukan hanya mengirimkan template sms saja.

Aku sudah di bwh ya.

Aku selalu bergegas begitu sms-mu datang.

Tunggu sebentar. Begitu biasanya jawabku.

Oke. Sebentar. Atau itu jawabanku.

Sebentar. Aku lagi sholat. Jawaban lain dariku yang biasanya kamu balas dengan, ‘lagi sholat kok bisa sms?‘ But, that’s not the point kan?

Lima belas, duapuluh menit kemudian kujumpai kamu dalam kostum penunggang motormu. Duabelas jam berpisah, tidak ada rasa kangen di wajahmu. Tidak masalah. Di wajahku juga tidak ada rasa kangen kok. Kau giring aku ke sepeda motormu. Lalu serah terima pun kita lakukan.

Pertama kau sodorkan sandal padaku. Aku lalu menyopot sepatu dan memberikannya padamu. Lalu kau sodorkan jaket padaku sembari mengambil alih tas besar dan kantong-kantong kresek bawaanku. Terakhir kau sodorkan helm padaku sambil tidak lupa menolongku mengancingkan pengikat helm itu di daguku. Yang tidak pernah kau sodorkan padaku adalah kunci motormu. Tapi tidak apa karena toh aku tidak bisa menyetir sepeda motor.

Setelah aku aman berada di tungganganmu, kau melajukan motor perlahan. Saat itu juga kau biasa mengecek jam tanganmu.

Sebentar lagi jam enam. Katamu.

Aku biasanya tidak menjawab karena kalimatmu bukan pertanyaan.

Motormu melaju cepat meninggalkan jalan Pramuka sebelum akhirnya berjalan perlahan di sisi kiri jalan di sekitar Cipinang. Matahari telah lelah dan langit berganti warna.

Sudah Maghrib? Tanyamu biasanya sambil menoleh ke belakang.

Pertanyaan yang aneh karena telinga kita toh sama-sama tertutup helm berlabel SNI.

Kita cari minum sambil jalan ya? Tawarmu.

Aku mengangguk saja.

Disitu? Tanyamu. Tapi susah parkir. Jalan lagi ya.

Aku mengangguk. Toh aku tidak bisa menekan rem walaupun segimanapun hausnya kerongkonganku.

Kalau disitu? Tanyamu. Tapi tidak ada tukang gorengan. Tepismu.

Aku tidak jadi mengangguk. Kamu toh tidak bisa melihatku mengangguk.

Yang itu? Tanyamu lagi. Rame banget ya? Kau jalan lagi.

Dan kamu pun menjadikan pertanyan demi pertanyaan itu sebagai ritualmu. Kamu tidak pernah menghentikan motor pada pertanyaan pertama.

Kita selalu sudah meninggalkan Cipinang dan melewati jarum jam pukul 6 sore pada saat kamu benar-benar menghentikan motor dan menoleh kepadaku.

Mau buka puasa dimana? Tanyamu sungguh-sungguh bertanya.

Aku selalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaanmu yang ini.

Disitu? Jawabku sembarang sambil selalu menunjuk sebuah restoran. Restoran apapun.

Kamu akan mengernyit. Yang bener, ah. Omelmu lalu melajukan sepeda motormu lagi.

Aku tersenyum dari balik helmku. Setelah ini kamu pasti akan berhenti di warung minuman pertama yang terlihat olehmu tanpa peduli apakah warung itu ramai, tidak ada tukang gorengan, atau malah tidak ada tempat parkir.

Jam 6 sore lewat beberapa belas menit, orang-orang yang lewat dengan mobil, motor, sepeda, dan berjalan kaki pasti bisa menemukan kita duduk berdua bersebelahan di sebuah warung minum kecil sambil menyeruput teh botol dalam adegan saling tersenyum dan saling memandang. Sukur-sukur ada sekantung gorengan di sebelah kita.

3 thoughts on “Bulan puasa jam 6 sore di antara Jalan Pramuka dan Cibubur

Leave a Reply to yati Cancel reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.