Wangsit dari Toilet

Sudah tiga jam saya muter-muter mencari ide. Buku-buku bertebaran di atas kasur, beberapa keping audio cd sudah bolak-balik pasang, kamus sudah penuh berisi tempelan kertas warna-warni, pensil dan penghapus juga sudah semakin tipis, tapi ide di kepala masih belum muncul juga. Padahal saya sudah menyisakan sedikit ruang di kepala saya dengan cara menghapus file-file berisi -misalnya- cara memperbaiki rantai kalung yang putus, cara menegur staf dengan lebih halus, cara marah kepada bos dengan lebih sopan, cara menyimpan gosip panas sehingga bisa saya gunakan di masa depan, dsb. Ruang kosong di kepala saya itu memang saya maksudkan untuk hal-hal yang lebih penting.

Tiga hari lagi saya harus mengajar satu kelas baru menggunakan program baru dengan buku baru dan peserta baru yang… agak challenging. Buku sudah di tangan saya sejak seminggu lalu. Setiap hari buku itu saya buka, saya bawa ke kantor, saya bawa mimpi, tetap saja ide “Mau ngajar apa gue nantiiii?!” belum keluar juga.

Selain harus memikirkan kelas baru itu, saya juga harus memikirkan training satu lagi yang harus saya berikan satu setengah bulan lagi (Iya. 1.5 bulan lagi!). Di training ini saya harus mengajarkan hal baru yang belum pernah saya presentasikan ke hadapan calon-calon guru yang kalau saya salah ngajarin mereka bakal membahayakan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Assignment itu sudah saya terima sebulan lalu tapi sampai sekarang saya belum dapat membayangkan apa yang harus saya presentasikan nanti!

Satu hal penting lain yang harus saya pikirkan adalah draft naskah saya yang enggak maju-maju dari bab 2. Tokoh sudah ada, alur sudah ada, lagu pengantar nulis sudah ada, tapi kalimat-kalimat yang keluar kok bolak-balik tidak pas.

Bayangkan! Dalam tiga jam saya harus memikirkan tiga hal penting tersebut!

Tapi hidup memang adil. Setelah tiga jam duduk di kamar dingin diselimuti suara hujan di luar, saya kepingin pipis. Dengan enggan (halah!) saya pun beranjak ke toilet. Bisa dicatat, saya jarang bisa cepat melakukan kegiatan apapun di dalam toilet. Orang lain bisa beres pipis dalam semenit, saya butuh 15 menit. Kalau lagi buru-buru. Orang lain mandi dalam 15 menit, Papap mencatat rekor tercepat saya mandi adalah 45 menit. Jadi, balik lagi ke adegan saya beranjak ke toilet, saya pun melakukan kegiatan pipis dengan santai. Lalu, terjadilah!

Ide-ide mengalir dengan deras di dalam toilet tadi! Ide untuk mengajar kelas baru tiga hari lagi, ide untuk mengajar training 1.5 bulan lagi, ide untuk naskah yang mentok, ide untuk ngeblog, ide untuk bikin status fesbuk, ide untuk minta masakan apa besok hari, ide untuk pakai baju apa untuk pesta ultah Papi saya besok… Uaaaahhhh!

Jadi, pesan moral saya kali ini adalah buatlah toilet anda senyaman mungkin karena tempat itu mungkin adalah satu-satunya tempat yang bisa menyelamatkan hidup anda. Coba kalau saya tadi malas ke toilet, bukan hanya blog ini bakal basi selama beberapa minggu ke depan tapi saya mungkin bisa kena infeksi saluran kemih kan?!

6 thoughts on “Wangsit dari Toilet

  1. Cara mendapat wangsit memang beda beda, kalo gue dapet wangsit nya sambil berkebun di alam maya alias main game (nyari justifikasi…) yang penting kan wangsit nya dapeet.

  2. Hmm, akan mencoba trik ini, siapa tahu nanti jadi produktif ngeblog. Tapi klo toiletnya keburu diketok anak kos lain gimana ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.