Atas Nama Eksistensi?

Cerita saya kelupaan password atas berbagai akun jaringan sosial di internet seperti Friendster, hi5, WYAN, jaringan-apa-itu-yang-saya-lupa-namanya, Multiply, dan seterusnya, itu sudah biasa. Lebih biasa lagi kalau saya tidak pernah membalas salam kawan-kawan yang menyapa saya di berbagai akun itu. Si Nenek itu sudah hapal kebiasaan saya yang cuma sempat buka akun lalu menghilang. Dan setelah itu tentu saja saya lupa passwordnya.

Toh saya tidak pernah kapok. Walau tahu saya akan tidak sempat memperbaharui Friendster milik saya, saya ho-oh saja sewaktu teman-teman Papap di Jepang mengajak saya buka FB. FB pun sempat saya lupakan -apalagi setelah balik ke Indonesia- sampai FB ngetren lagi disini. Beberapa waktu lalu, saya yang sebelumnya bergeming dengan maraknya penggunaan twitter, ikut buka akun twitter demi melihat status twitternya John Legend yang akan manggung di Indonesia. How silly is that?

Kalau aktifitas FB saya tergantung mood yang kadang pecicilan kadang males-malesan, aktifitas saya di twitter lebih parah. I have no idea what I should do there! Saya juga tidak tahu bagaimana membaca tweet untuk saya, tidak tahu caranya membalas tweet seseorang, tidak tahu apa beda re-tweet dengan reply (bodo banget kan?!), bagaimana cara me-retweet sesuatu ke orang yang benar, dsb dst dll. Yang sepertinya paling gampang untuk saya lakukan adalah hanya bisa nyari-nyari nama orang untuk saya follow. Tapi, setelah ketemu belasan orang yang kepingin saya follow, saya bingung lagi. Apa masih ada orang lagi di luar sana yang bisa di follow?

Kata FOLLOW ternyata memberikan efek mengerikan buat saya. Para Nabi, Budha Gautama, Jendral Sudirman, Gandi, Ibu Kartini, JK Rowling… adalah orang-orang yang jamak kita follow. We follow people who are inspiring. Lalu, tetangga di dekat rumah yang anaknya teman main sepeda Hikari, apa ya di follow juga? Di FB, kita mencari nama orang untuk di add. ADD. And that makes sense.

Belum selesai dengan urusan pilihan kata antara FOLLOW dan ADD, saya juga susah hati karena merasa tidak bisa menyumbangkan suatu pencerahan bagi khalayak ramai di twitter dari sekedar memperbaharui status.  Seringkali sesaat setelah saya masuk ke akun twitter, saya bengong lebih dari 5 menit hanya untuk mencari kalimat apa yang pantas saya bagi di twitter? Kalau kita masih bisa memberi pencerahan kepada orang banyak dalam 100 kata, apa iya kita bisa melakukan hal yang sama di twitter dalam 140 huruf?

Saya pernah dengar pada suatu hari dalam sebuah obrolan di radio tentang gunanya twitter. “It’s for branding. Positioning. Serius lah dengan apa yang kamu tulis di twitter karena 140 huruf kamu di twitter itu yang menentukan imej kamu.”

Kalau corong microphone itu ada di depan mulut saya, mungkin yang akan saya katakan adalah: “It’s for enlightening some minds. Sedikit atau banyak, serius atau lucu, singkat atau panjang, witty atau preachy, 140 huruf itu seharusnya mempunyai efek bagi yang baca.”

8 thoughts on “Atas Nama Eksistensi?

  1. Hihihihi, ini postingan benar2 mewakili kata hati dan jeritan hati gue deh. Gue nge-tweet itu biasanya lebih banyak bengongnya daripada nge-tweetnya. Karena, jujur, gue emang lagi nggak ada yang bisa ditulis pendek (apalagi yang panjang kayak eluuuu). Ikut twitter juga karena diajakin (samalah kayak FB, FS, MP dan sebagainya itu, diajakin semuanya). Efek twitter sementara ini, bagi gue, adalah memperbanyak “noise” buat hidup gue yang lagi berasa kangen temen2. Kalo noise itu udah terlalu berisik, sudah pasti gue akan tutup jendela. Daripada kuping gue berdarah-darah. Tapi, sejauh ini, gue lagi demen berisik.

    PS. Moga2 komen yang ini bisa masuuuuuuk di comment box-mu yang suka error ini. Amiiiin.

  2. Saya pun berfikir demikian, hanya dalam 140 huruf kita harus membuat sebuah kalimat yang bisa membuat orang tertarik. kita harus pintar2 untuk membuat kata demi kata. tapi saya yakin,mariskova pasti bisa mengolah kata demi kata, karena anda adlah seorang penulis yang sangat hebat menurut saya, karya2 anda selalu saya utamakan.
    ^_^
    Vicko Kemal

    1. Praktek mengolah kata akan membuat otak kita tetep bekerja. Mudah2an jadi jauh dari pikun, Vicko haha…
      Makasih atas komennya. Walau nervous krn dibilang penulis hebat (amiiin walaupun kayaknya sih belum), sy pengennya sih konsisten menulis dng misi.
      Makasih ya udah berkunjung 😉

  3. saya miris dengan pengguna jejaring sosial yang seringnya kurang bisa memilih kata dalam nulis sttusnya.

    apa mereka tidak berfikir untuk mengajak orang lebih baik dan bersemangat dalam hidup ketika membaca tulisannya.
    ah, pilihan baik tak semuanya diambil

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.