Sekolah dimana?

Mencari sekolah untuk anak-anak kita memang suatu perjuangan tersendiri bagi para orang tua. Itu juga yang saya alami satu tahun sebelum Hikari lulus TK. Ada beberapa hal yang saya hadapi dalam waktu yang bersamaan:
1. Keinginan saya akan sekolah yang saya pikir ideal atau mendekati ideal. Termasuk standar-standar yang saya tetapkan harus ada atau tidak boleh ada di sekolah tersebut.
2. Keinginan pasangan saya akan sekolah yang dia pikir ideal atau mendekati ideal. Termasuk standar-standar yang dia tetapkan harus ada atau tidak boleh ada di sekolah tersebut.
3. Keinginan para Eyang Hikari akan sekolah yang menurut mereka paling ideal.
4. Input, saran-saran dari kenalan-kenalan kami. Setiap orang juga mempunyai gambaran sekolah yang ideal mereka masing-masing, dan terkadang fanatik dengan saran mereka.
5. Literatur-literatur yang mengatur kami tentang sekolah mana yang ideal atau tidak.
Untungnya saya tidak lupa: Keinginan Hikari sendiri!

Setelah bertandang kesana kemari, membaca ini itu, mendengar saran sini situ, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada sekolah alam ini.

Dibawah ini adalah beberapa alasan kenapa kami memilih sekolah alam, dan bukannya sekolah internasional, atau sekolah kurikulum internasional, atau malah sekalian sekolah lokal konvensional (atau sekolah-sekolah lain yang mengaku berbasis alam dan bermetode modern, tapi tak kalah konvensionalnya dengan yang konvensional).
1. Karakter Hikari.
Hikari yang tidak betah duduk diam, terlalu bersemangat bertanya, cepat bosan, imajinatif, dan punya pendekatan/pandangan berbeda dari kebanyakan anak-anak berdominan otak kiri harus dicarikan sekolah yang mengerti karakternya ini supaya dia tidak frustasi ketika menghadapi tembok birokrasi sekolah.
2. Gaya belajar Hikari.
3. Kurikulum sekolah dan pendekatan yang diambil sekolah terhadap kurikulum itu.
4. Cara pandang dan rasa percaya guru atas kurikulum sekolah.
5. Kemampuan guru dalam menerjemahkan kurikulum dan metode pengajaran sekolah.

Selain itu, ada hal-hal remeh temeh namun tak kalah pentingnya:
1. Biaya. Uang sekolah dan lain-lainnya (katering, seragam, transport, dsb.) harus terjangkau dan tidak membuat kami harus puasa senin-selasa-rabu-kamis-jumat.
2. Lokasi. Jangan sampai Hikari sudah mulai menghabiskan umurnya di jalan sejak SD. Dia toh akan menghabiskan umurnya di jalan saat dia dewasa dan bekerja nanti.
3. Mind set pengelola sekolah. Apakah mereka terbuka dan bijak terhadap masukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Count to Comment * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.