Penulis Tanpa Media

Obrolan ngalur ngidul dengan teman yang mantan jurnalis lapangan internesyonel berujung di pertanyaan, “kapan tulisan lo terbit lagi, De?”
Pipi saya langsung terasa digampar pakai sendal jepit. Yang tipis aja biar enggak terlalu sakit.

Seperti biasa, saya ngeles dengan jago.
“Nulis novel itu butuh waktu. Lama. Gimana coba dengan kerjaan gue sekarang ini yang butuh perhatian gue seratus dua puluh persen? Hah? Hah?”
“Ngeles aja lu!”

Iya. Dia paham saya cuma cari alasan 😀 😀 😀 .
Continue reading

Mainan Baru: Essential Oils

Mulanya biasa saja.

……………….

Mmmm…enggak. Enggak gitu juga.
Mulanya, selesai kelas yoga, seringkali teman-teman yoga saya itu pada goleran di matras dan sibuk menggosok-gosok dengkul, kadang lengan atas, kadang bahu, kadang paha, kadang pantat. Semua bagian yang habis disiksa hari itu. Lama-lama saya penasaran karena saya mencium aroma-aroma segala rupa selagi mereka menggosok. Badannya. Bukan setrikaan. Akhirnya saya pun melongok ke tempat berkumpulnya para anggota goleran.
Continue reading

Menjadi Yogi #4

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

JADWAL BERANTAKAN

Setelah sempat 2 bulan teratur latihan yoga, akhir Oktober kemarin menjadi penanda melorotnya performa yoga saya *halah*
Gara-gara travel, latihan rutin bersama Mbak Guru Yoga harus mundur. Masih untung kalau seminggu dapat sekali, saya sempat skip beberapa minggu tidak ke sanggar yoga. (eh kids zaman now masih pakai kata sanggar kah?). Kadang saya masih rajin bisa latihan di hotel atau di rumah dengan cara melihat tutorial di youtube. Kekurangannya latihan dari nonton youtube adalah satu, kalau posenya salah enggak ada yang neriakin, apalagi, ngebetulin; dua, kalau posenya susah, langsung nyerah di napas pertama dan gak ada yang neriakin huehehehe…. Apalagi tennis elbow saya masih belum pulih. Alasan untuk enggak serius latihan saat travel makin menjadi-jadi. Nyerah dong mimpi jadi Yogi-nya?

Tentu tidak!
Continue reading

Menjadi Yogi #3

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri ‘Menjadi Yoga’ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

CEDERA PERTAMA

Ikut Paskibra bisa membuat kita tahu apakah kita punya kelainan bentuk tulang.
Ketika saya kelas 1 SMP (atau #kidszamannow nyebutnya Kelas VII), bersama seluruh anak baru kelas 1, saya ikut seleksi wajib paskibra sekolah. Seleksi kok wajib 🙄 . Seleksinya gampang. Begitu nama dipanggil kakak kelas, saya harus peragakan langkah tegap maju jalan dari ujung kelas yang ini ke ujung kelas yang itu. Begitu saya selesai memeragakan langkah tegap maju jalan hasil didikan sekolah di komplek tentara selama 6 tahun, kakak kelas saya merubungi.
“Eh coba tangan kamu lurus ke depan!”
“Ih iya loh. Siku kamu kok bengkok?”

Saat itu lah setelah 11 tahun hidup baru saya sadar bahwa kedua lengan saya bila posisi lurus ke depan tulang sikunya bengkok seperti penderita kaki huruf X. Hebat kan paskibra?!
Continue reading

10 Plus 16

“Then slowly, over time, everything changes. And you’re no longer this young thing, and you don’t believe in fairytales and ‘perfect’ isn’t in your vocabulary. And then suddenly, here is this man and he becomes so familiar to you that one day you find yourself looking at him thinking I could love this person for the rest of my life.”
Addison Montgomery, Grey’s Anatomy.

Happy 16th Anniversay. Happy 26th year of together. Somehow being with you just makes sense.

Nama Keren

Saya spontan ngakak baca twitnya Mas Agus Mulyadi (Mas…kayak kenal hehe) tentang satu film yang kayaknya film Indonesia. Ngakaknya saya itu karena ingat kejadian yang sama di sekolah Aiko. Kalau hanya lihat dari daftar absensi siswa, pasti kelas Aiko disangka bukan di Indonesia. Padahal ya semua makannya nasi dan tempe, dicampur kentang goreng sedikit 😀 .
Continue reading

Menjadi Yogi #2

Disclaimer: Baca Menjadi Yogi #1 😛

KENALAN DENGAN YOGA

Saya menyesal tidak mendokumentasikan (iya, foto) pose-pose yoga pertama saya (((mendokumentasikan))). Walaupun pasti hasil fotonya memalukan, sesi yoga pertama saya itu bersejarah. Dengan hasil semua pose salah, badan remuk, otot terbakar, dan rasa malu karena gagal pose melulu, saya masih kepingin ikut (ya, oke, saya sudah bayar membership juga sih). Padahal rekor saya di sesi pertama terdiri dari cuplikan-cuplikan kegagalan seperti ini:

  • Sentuh jari kaki! Boro-boro tangan bisa nyentuh jari kaki, hidung ke dengkul aja jauuuuuh bener!
  • Membungkuk lurus. Bungkuk, bisa. Lurus, enggak. Saya pikir lurus punggungnya ternyata begitu dilihat di cermin, punggung saya menonjol segitiga.
  • Tangan ke atas, lengan di belakang kuping. Be-la-kang kuping! Kuping! Itu di pipiiiiii!
  • Tidur telentang. Kaki lurus ke atas. Lurus itu subyektif, Mz 😥
  • Duduk tengkurap. Pantat menyentuh lantai. Pantat saya malah nungging.

Jelas ya gambarannya? 😀
Continue reading