Menjadi Yogi #10

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

STILL HERE, MATE
Dua bulan persis sejak postingan yoga kesembilan di bulan Maret lalu. I’m still here, mate. Belum menyerah pada yoga. Mungkin malah yoganya yang hampir menyerah sama saya hihihihi…

Satu setengah tahun sejak saya ikut yoga dan saya belum juga jadi celebrity yoga. Boro-boro jadi seleb yoga. Punggung saya aja masih rounding dan belum bisa lurus selurus jalan pertobatan. SATU SETENGAH TAHUN guru yoga masih teriakin saya untuk “LURUSIN SPINE-NYA, MBAK DEEEE!” Kalau kalian merasa itu bukan suatu hal yang memalukan, mungkin sekali kali bisa nyobain dipanggil namanya belasan kali dalam jangka waktu 1 jam ๐Ÿ˜€ . Berasa anak kesayangan guru…

Guru-guru yoga saya baru akan menyerah neriakin bila saya sudah nyungslep di matras.
Continue reading

Kebun Binatang Ala Papap

Kalau kalian pernah main ke instagram saya, kalian mungkin pernah baca drama binatang peliharaan di rumah saya yang bisa tiga babak sendiri. Cerita tentang binatang peliharaan ini kadang dimulai dari strategi Papap untuk beli pet baru tanpa bilang sampai hilangnya si binatang yang membuat kami harus membuat pet rescue party ๐Ÿ™„ .

Saat saya menikah dengan Papap, Papap membawa serta kura-kura peliharaan yang dulu sebesar genggaman anak kecil tapi sekarang sudah sebesar kepalanya si anak kecil. Delapan belas tahun dan belasan pet drama kemudian, kami sudah memelihara: 3 kura-kura, 2 kelinci, 1 burung Kakatua Jambul Kuning, 1 burung Nuri, 1 bayi burung Hantu yang tiba-tiba muncul di pekarangan, sejumlah ikan berbagai jenis yang dramanya berjilid ngalahin sinetron, 4-5 Iguana (lupa berapa banyak yang kabur sekarang tinggal 2), 2 hedgehog punya tetangga yang dititip tapi disuruh pelihara (dan kami kembalikan dengan susah payah), kucing kampung mulai dari nenek-kakeknya sampai cicit yang sebenarnya tidak dirawat tapi sering nginep, 1 kucing Angora yang tiba-tiba muncul di rumah dan enggak mau pulang, ular yang tiba-tiba nongol di teras belakang tanpa permisi tapi kami suruh pulang lagi ๐Ÿ˜€ . Kalau belalang, capung, keong, ulat dan kupu-kupu yang sering nemplok di tanaman saya dihitung, nambah itu daftarnya.


Continue reading

Besok!

Seumur-umur enggak pernah saya ngeblog dengan tema pemilu. Enggak pernah. Seumur-umur juga, saya enggak pernah ngeblog ngomongin politik. Meh. Buat apa?
Hari ini beda. 2 menit menjelang tanggal 17 April saya merasa harus menulis ini. Menulis tentang kegelisahan saya yang akan dimulai 8 jam lagi. Oh shit, I’m scared.

This is a different kind of election. Entah karena saya sudah mulai tua jadi apa-apa dibawa baper. Entah karena di luar sana ya ampuuuuuun berisiknya luar biasa hanya karena persoalan pilih ini pilih inu. Entah karena hawanya yang…enggak gembira. Entah kenapa, saya merasa usai pemilu ini, bangsa ini membutuhkan upaya rekonsiliasi masif! Friends are divided. Family too. What are we as nation if not with friends and family?!

Baru kali ini dalam hidup saya sebagai seorang Indonesia, saya menginginkan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar moto kosong di kelas-kelas mata pelajaran Pancasila atau Kewarganegaraan.

Foto milik @piokharisma menyadarkan saya bahwa bisa mengibarkan bendera tanpa rasa takut butuh pengorbanan. Bismillah untuk 17 April 2019.

Dunning-Kruger Effect dan Nasihat Umar

Sumpah, saya malas ngobrolin politik, terutama suasana politik di negara ini menjelang Pilpres dan Pileg 17 April besok. Obrolan politik sekarang ini sudah tidak ada harga dirinya lagi. Dan, terutama, harapan politik orang-orang, termasuk saya, bahkan sudah tidak lagi bisa mengikuti nasehat Pak Nelson Mandela. We are driven by fears.

Tidak perlu lah saya ceritakan di blog ini apa yang terjadi sekarang. Cukup google dengan kata kunci Pilpres 2019, semua akan terpampang jelas. Dari berita receh sampai berita penuh analisa. Di sosmed, tidak ada tempat untuk menarik napas. Twitter, Facebook, bahkan sampai Instagram dan apalagi Whatsapp group isinya hanya itu. Mungkin hanya Pinterest yang bisa jadi tempat pelepas lelah ๐Ÿ™ .
Continue reading

14 Years in Blogging

Maret 14 tahun lalu saya mulai ngeblog.

Alasan saya ngeblog waktu itu karena saya sering kirim email berisi kabar dan foto dari Jepang ke teman-teman di Indonesia yang jaringan internetnya masih pakai bunyi ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ . Teman-teman saya antara senang dapat email juga bete karena….lamaaaa buka email apalagi lampirannya hahaha!
Iya, waktu itu saya di Jepang jadi ibu RT yang kesibukan sehari-hari berkutat di antara waktu masak sampai nungguin anak dan suami pulang dari sekolah. Sementara itu, di apartemen kualitas internetnya ehgilakbanget kan. Sekali pencet langsung keluar tuh semua di monitor. Kemudian, teman saya menyarankan saya mulai ngeblog. Facebook belum ada atau belum ngetop saat itu. Blog pertama saya pakai gratisan (berdoa kenceng supaya enggak bangkrut trus tutup tuh layanan). Keterusan. Sampai sekarang. Walau tentu kualitas dan kuantitas berbanding terbalik dengan umur.
Continue reading

Menjadi Yogi #9

Disclaimer: saya belum bukan lah seorang yogi (atau yogini). Bukan pula ahli dalam dunia per-yoga-an (lihat kalimat pertama). Tulisan di seri โ€˜Menjadi Yogaโ€™ ini merupakan pengalaman saya sendiri untuk catatan sendiri.

PENGAKUAN DOSA

Postingan pertama tentang Yoga di tahun 2019 malah ngomongin pengakuan dosa ๐Ÿ˜€ . Suram.
Ya saya mau ngaku dosa karena sudah 3 bulan enggak ikutan kelas yoga rutin lagi. Kenapa kah? Bosan kah? Malas kah? Sudah jago kah? Tentu bukan yang terakhir.

Gegara libur tahun baru kepanjangan yang disusul dengan jadwal work trip yang bentrok dengan jadwal yoga lalu yang memperparah adalah kelas yoga favorit saya ganti jadwal. Mau masuk ke kelas baru kok ya banyak alasan untuk enggak jadi. Sudah gitu di bulan Februari saya harus operasi Lipoma di 8 spot. Lumayan bikin pegel dan enggak bisa narik otot dulu untuk sementara. Jadi, alasan saya enggak yoga rutin lagi justified dong ya hehehe….
Continue reading

Journaling, Karena Kita Tidak Punya Pensieve

Siapa di sini yang pernah berharap Pensieve dijual di online shop dan kita bisa membelinya bebas?
*Acung tangan*
Saya.
Sejak pertama saya nonton Dumbledore menaruh memory-nya di ember kuno bernama Pensieve, saya langsung euforia. Itu alat yang saya butuh banget! Butuh untuk menaruh isi kepala yang penuh dan luber-luber.
Ada yang kepikiran begitu juga kah?

Sayangnya Pensieve belum pernah ada yang bisa beli, bahkan di online shop yang motonya selalu palugada. Di dunia nyata, saya harus puas dengan jurnal dan diary dan blog untuk menyimpan memory.
Continue reading