Generasi yang Relevan

The road to the light is lonely.
Beberapa tahun belakangan ini setiap kali silaturahmi acara keluarga macam lebaran, saya menyadari betapa konyolnya saya karena masih sering terkaget-kaget mendapati para pakde, bude, om, dan tante seakan terlihat menua dengan drastis setiap kali bertemu.
“Ya eloooo munculnya sekali tiap beberapa purnama. Jelas aja pada keliatan makin tua!”
Begitu saya disemprot adik si Mami yang hampir seumur saya. Bisa jadi begitu karena saya memang termasuk yang jarang kumpul dengan berbagai alasan males. Kesalahan saya -saya pikir- adalah tanpa sengaja saya menghentikan waktu di saat saya berumur dua puluhan tahun sehingga yang saya ingat adalah wajah, tingkah laku, kebiasaan, sampai cara pandang para kerabat yang lebih tua di jaman saya baru lulus kuliah itu. I just froze them in that moment.
Continue reading

Capacity Building Penting. Buat Lo.

Beberapa bulan ini kantor saya punya program pelatihan Capacity Building untuk karyawannya yang jumlahnya enggak seberapa itu. Tujuan CB kantor saya ini standard lah seperti organisasi lain. Penyegaran. Pencerahan. Pengembangan kapasitas karyawan. Team building. Biar rame.

Pertemuan pertama -yang bahkan bukan sesi pertama- sudah kacau karena kami tidak kunjung menyepakati jadwal sesi pertama. Lah bagaimana mau menyepakati jadwal kalau setiap tim di kantor punya jadwal beda-beda ? 🙁 Sebagai anggota tim yang jadwalnya lebih sering tidak di kantor dibanding ada di kantor, jidat saya sudah berkerut duluan yang berhadiah disemprot HRD. Saya curiganya sih dengan muka saya yang kayak gini, saya dianggap tidak berusaha mendukung kesuksesan program adiluhung kantor kami. Ya sudah. Saya mengalah untuk mencari apps untuk mengkloning diri saya saja.
Continue reading

Gemukan ya?

Dulu-dulu saya tidak pernah menyangka pada suatu hari di hidup saya akan datang momen-momen di mana orang yang bertemu saya akan berkata…
“Gemukan ya?” sambil senyum manis pasang muka lugu.
Atau, “Wuiiih gemuk lo ya sekarang!” dengan suara kencang di tengah-tengah supermarket yang lagu pengiringnya tiba-tiba mati.
Atau, “Ya Tuhaaan, kamu gemuknya sekaraaang!” Seakan-akan kiamat sudah dekat karena ukuran baju saya bertambah beberapa nomor dan karena itu Tuhan harus dikabari.
Atau, “Pangling deeeeh sekarang udah makmur ya!”
“Dompet makmur, maksudnya?”
“Bukan. Badanmu makmur.”
Continue reading

Bukber yang Mentok

Puasa Ramadan tahun ini sudah memasuki masa sepertiga terakhir. Udah dapat undangan Buka Bersama berapa banyak? 😀
Ada teman saya yang berteori jumlah undangan Bukber berbanding lurus dengan tingkat kepopuleran kita. Kalau teori ini benar, tingkat kepopuleran saya jelas nyungsep…

Sebenarnya saya bukannya enggak pernah diundang Bukber. Diundang Bukber sering, ngikutnya yang hampir enggak pernah. Dengan rumah berjarak antara Bumi dan Pluto, saya bakal sampai rumah tengah malam dan besok sebelum subuh sudah harus jalan lagi ke kantor. Mending kemping di restoran aja kan?

Hal lain yang bikin saya jarang berpartisipasi dalam pengejawantahan Bukber baik di grup teman-teman maupun grup keluarga adalah ini nih…

11 dari 10 undangan Bukber yang saya diundang juga berakhir di ‘Cocokin Jadwal’. Lingkaran saya enggak pernah utuh 😀 .
Continue reading

Kapan ada adiknya? Ketika Ortu Diajak Berhitung Gap Usia Anak

Awalnya gara-gara graduation performance Aiko yang membuat saya harus berinteraksi dengan orang tua lain secara intensif. Hmm…iya, saya modelan orang tua yang enggak pernah nongkrong di sekolah, jarang ikutan arisan emak-emak sekolah, jarang komen di group WA sekolah, dan enggak pernah main bareng emak-emak sekolah ke manaaa gitu. Biasanya sih saya menyalahkan pekerjaan. Lah abis arisan ortu diadakan di hari kerja, masa saya cuti ngantor hanya untuk arisan? Sebagai buruh 8-5 mendingan cuti ditabung buat Lebaran ya kan? Kan? Eniwei, gara-gara Aiko harus tampil di acara lulus-lulusan sekolahnya, saya jadi diikutkan ke grup WA emak-emak yang isi obrolannya, “Nanti yang jadi the Seven Dwarf beli kostumnya di mana?”
Continue reading

Baper Berjamaah PPDB Online bagian 2

Lanjuuuut soal PPDB alias Penerimaan Peserta Didik Baru versi online. Saya harus bangga nih pertama kalinya bikin postingan bersambung hahaha…

Sebelumnya saya cerita tentang proses menuju ke Hari H PPDB online dimulai.
Jadi, beberapa saat setelah anak-anak selesai ujian nasional, kalian pasti akan mendapat berita di Whatsapp berjudul ‘Info Passing Grade Masuk SMA di jakarta: Peringkat 50 Besar SMA Negeri di DKI Jakarta’ 😀 . Harap diingat, Kemdiknas pernah menyatakan mereka tidak pernah bikin peringkat-peringkat kayak gini. Walaupun bisa berguna setidaknya untuk ancang-ancang anak sebaiknya mendaftar ke sekolah mana berdasarkan nilai UAN mereka, berdasarkan pengalaman saya tiga hari ini, passing grade tiap tahun berubah dan akhirnya enggak apdet juga. Malah cenderung menghempaskan perasaan orang tua yang awalnya pede luar biasa dengan nilai anaknya 👿 .

Okay, jadi proses PPDB untuk DKI Jakarta sudah dimulai awal minggu ini dan hari ini adalah hari terakhir. Setelah acara survey-survey kami lakukan itu, kami sudah punya 3 rencana SMA di Jakarta Timur dan 3 sekolah lagi sebagai back-up plan. Ini, sebelum kami tahu nilai UAN Hikari dan hanya berdasarkan pada nilai-nilai Try Out yang Naudzubillah minzalik jeleknya hahahaha…. Ketika kami mendapat hasil UAN Hikari yang ternyata…ALHAMDULILLAAAAH DIA DAPAT NEM TERTINGGI DI SEKOLAH…kami mulai menaikkan level pilihan sekolah 😛 .
Continue reading

Baper Berjamaah di PPDB Online bagian 1

Ini harus banget saya nulis soal ini saking level bapernya tinggi banget 😀 . Ini pertama kalinya saya bikin postingan berseri gini juga haha…

Bagi yang belum tahu apa itu PPDB, ini adalah sistem Penerimaan Peserta Didik Baru dari jenjang SD sampai SMA yang sekarang berlangsung online di beberapa daerah. Belum semua kota di Indonesia menggunakan PPDB online dan bukan hanya soal fasilitas teknologi yang terbatas tapi juga karena bila diterapkan di masyarakat yang belum siap, panitia bakal digeruduk dengan orang tua yang level bapernya mengerikan 😀 .
Continue reading

Perkara Liburan

Jidat orang-orang biasanya mengerut-kerut setiap kali mendengar kami baru pulang liburan. Well, sebenarnya saya agak jengah mengaku liburan karena seakan-akan kami pergi jauh dengan glamorous naik pesawat yang tiketnya dibeli pas Travel Fair ke suatu tempat yang exotic dan ngehits. Padahal, kami cuma pergi ke kota sebelah hahaha…
Balik lagi ke soal liburan, yang bikin jidat orang-orang berkerut-kerut adalah jadwal liburan kami.
“Liburan? Tanggal segini? Memang anak-anak libur sekolah ya?”
Jelas enggak 😀 .

Keluarga kami memang aneh. Kami lebih suka pergi liburan bukan di waktu-waktu orang biasa liburan: tanggal merah, anak sekolah libur, cuti berjamaah bersama. Kami lebih suka liburan pas sepi. Alasannya bukan karena harga. Eh, iya itu salah satunya sih. Tapi lebih ke soal kenyamanan.
“Loh bukannya itu yang dicari? Keramaian?”
Nnnnggg….ke pasar aja saya cari yang sepi apalagi liburan hehehe…
Risiko dari liburan di luar waktu yang lazim adalah saya dan Papap jarang ambil cuti saat orang-orang libur supaya jatah cuti bisa dipakai di saat orang-orang kerja 😛 . Risiko terberat sebenarnya di jadwal anak-anak. Kami sering menarik anak-anak dari sekolah demi bisa pergi liburan di waktu-waktu ini 😈 .
Continue reading